125 Tahun Kemudian, J. Press SS27 Terus Mengembangkan Visi Ivy
Memperkenalkan koleksi perempuan perdana dalam setengah abad, deretan kolaborasi baru, serta kapsul Made in Japan.
Ringkasan
-
Koleksi SS27 J. Press menyambut ulang tahun ke-125 yang kian dekat dengan memadukan kain warisan Inggris dan kolaborasi modern.
-
Brand ini memperkenalkan koleksi perempuan pertamanya dalam 50 tahun, mengadaptasi item esensial menswear Ivy klasik ke dalam siluet baru.
Pada 9 September, J. Press menggelar presentasi runway SS27 di Capitale on Bowery—bekas bank yang dibangun pada 1891, dengan fasad batu megah menghadap sudut Bowery dan Broome St. Interiornya yang kaya akan detail menjadikan lokasi bersejarah ini terasa lebih megah dibanding venue koleksi kedua Jack Carlson di New-York Historical Society pada Februari lalu. Jika musim lalu berfokus pada edisi ulang J. Press atas Take Ivy, musim ini menatap ulang tahun ke-125 J. Press yang akan datang. Brand yang didirikan Jacobi Press di Yale pada 1902 ini pun menggali akar sejarahnya, menyoroti asal-usul Inggris dalam desain awal Jacobi Press sekaligus menengok wajah Ivy yang terus berevolusi.
Untuk pertama kalinya dalam 50 tahun, brand ini merancang koleksi khusus perempuan. Koleksi tersebut menghadirkan siluet baru sekaligus menegaskan bahwa J. Press telah lama digemari perempuan. Salah satu yang menonjol adalah gaun midi dengan garis biru dan emas yang membentang horizontal pada bodice, lalu vertikal di bagian rok. Sebagai sentuhan khas Ivy League, blazer double-breasted berkancing emas disampirkan di bahu. Look lain menerjemahkan item andalan menswear brand ini untuk perempuan, menggemakan estetika preppy penulis New York City, Fran Lebowitz: blazer tweed dipadukan dengan celana bahan, sementara kemeja dikenakan bersama dasi dan rompi Fair Isle.
Dalam pernyataan resminya, Carlson mengatakan, “Sekarang adalah waktu yang tepat bagi J. Press untuk meluncurkan kembali lini perempuan. Saya rasa ada sesuatu yang sedang terjadi: ‘gaya Ivy’ mengambil alih runway—meski tentu saja J. Press adalah yang autentik. J. Press identik dengan gaya Ivy. Ini adalah cara berbusana klasik yang tak lekang oleh waktu, dan telah memengaruhi segala hal yang terjadi dalam mode Amerika sejak saat itu. Gaya ini mengingatkan kita pada masa yang lebih ramah, lembut, terpelajar, dan santun.”
Banyak unsur yang membentuk Ivy berakar di Kepulauan Britania, dari tradisi tailoring Savile Row di London hingga pulau-pulau terpencil tempat domba lokal masih menghasilkan sebagian wol terbaik di dunia. Mengenai pendekatan awal Jacobi Press, Carlson mengatakan, “Ia tidak tumbuh besar dengan semua hal Inggris ini. Namun, ia memiliki mata yang tajam, selera yang sempurna, dan standar yang tak bisa ditawar. Ia menciptakan versi ideal dari dunia yang dibayangkannya di Cambridge dan Oxford, serta di perkebunan-perkebunan pedesaan besar Inggris. Dari situlah ia membentuk apa yang kini kita kenal sebagai ‘gaya Ivy’ Amerika.”
Di runway, pengaruh ini hadir bukan hanya lewat sweater Shetland “Shaggy Dog” khas brand yang dibuat di Skotlandia, tetapi juga sweater nelayan Aran asal Irlandia, serta aksesori leher dan pakaian luar dari Inggris. Materialnya mencakup kasmir Skotlandia dan Harris Tweed, juga kain Cheviot khusus serta flanel Inggris yang dibuat oleh pabrik tekstil Inggris Fox Brothers dan Marling & Evans.
Meski banyak siluet mengusung interpretasi tradisional, seperti deretan mantel tweed bernuansa tanah, beberapa lainnya meramu ulang kain-kain warisan ini menjadi kreasi kontemporer. Kain patchwork, termasuk motif kotak dari wol, diolah menjadi overcoat statement, tas duffle, dan tote bag. Brand ini juga menyebut bahwa koleksinya menghadirkan kolaborasi baru bersama Barbour, Gloverall, dan Lavenham, serta kapsul spesial Made in Japan.
Lihat galeri di atas untuk menelusuri koleksi J. Press SS27 secara lengkap, dan nantikan kabar terbaru NYFW hanya di Hypebeast.