Pharrell Williams menyempurnakan busana esensial pria melalui material kasmir vicuña, poplin sutra, dan tab VVN yang subtil.
Laura dan Deanna Fanning merancang koleksi ini dengan mengambil inspirasi dari karya seni cahaya Nanda Vigo di era 1960-an.
Peragaan busana ini menghadirkan tema kebebasan melalui tweed bersmok, setelan jas bersiluet luwes, serta iringan soundtrack yang energik.
Kain tembus pandang, konstruksi terekspos, dan siluet yang digerakkan oleh furing mengubah bagian dalam pakaian menjadi daya tarik yang paling menonjol.
Stefano Gallici menuangkan nuansa jalan raya gurun California melalui siluet tailoring beraksen distressed, workwear pudar, serta palet warna yang seolah memudar oleh debu dan terik matahari.
Koleksi SS27 karya Alessandro Michele, yang ia sebut sendiri sebagai “wadah bentuk yang penuh kegembiraan,” sarat dengan siluet warna-warni, gaya berlapis, dan permainan tabrak motif.
Label alas kaki asal Jepang ini membawa siluet bervolume khasnya ke level yang lebih jauh lewat hak berongga menyerupai kaca, mega-platform, serta siluet yang terinspirasi dari bentuk kuno dan futuristik.
Tali sepatu yang dapat diganti disimpulkan pada lubang eksternal di bagian depan untuk memberikan sentuhan akhir yang sengaja dibuat unik.
Pakaian olahraga, busana berpotongan tegas, dan busana malam berpadu dalam sebuah koleksi yang dibentuk oleh ketidaksempurnaan, pengerjaan ulang, dan keanggunan yang sengaja dibuat tidak beraturan.
“Figure of Ma” karya Satoshi Kondo mengubah ruang negatif di antara kain dan tubuh menjadi ekspresi yang dinamis dan bernapas.
Menampilkan kerah jaket metalik gradasi, nuansa pirus dan biru yang dominan, serta sepatu mokasin air dalam berbagai pilihan warna.
Mengguncang Accor Arena, koleksi terbaru ini adalah manifesto satir anti-kemapanan yang diperlihatkan eksklusif bagi pemegang tiket sesaat sebelum sang musisi naik panggung.