Bagaimana Izaak Brandt Membawa Breaking ke Serpentine untuk Pertama Kalinya

Breakdancer dan koreografer ini berbicara tentang sakit yang dialaminya, kerentanan laki-laki, serta dua tahun kekacauan pribadi di balik “Soft Shell.”

Seni
14 0   Komentar
Utamakan Hypebeast di Google
Simpan

Bagi Izaak Brandt, tubuh selalu menjadi instrumen. Sebagai breakdancer, Anda belajar untuk jatuh, bangkit, lalu mencoba lagi. Kegagalan bukanlah akhir. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, hubungan Brandt dengan tubuhnya sendiri telah berubah.

Tahun lalu, setelah tiga tahun mengalami gejala yang kian memburuk, ia didiagnosis menderita kolitis ulseratif. Gejalanya telah begitu parah hingga dokter sempat memeriksanya untuk kemungkinan kanker. “Penyakit ini benar-benar mengubah banyak hal dalam hidup saya,” ujarnya. “Dalam dua tahun terakhir, saya baru menyadari betapa rapuhnya tubuh fisik saya.”

Kesadaran itu menjadi inti “Soft Shell”, karya terbarunya sekaligus yang paling personal hingga kini. Diluncurkan pekan lalu di Serpentine Pavilion, London, “Soft Shell” membuka XXIe Siècle, program seni global baru yang berfokus pada seni pertunjukan, sekaligus menjadi presentasi publik pertama Brandt untuk karya tersebut.

Karya ini memadukan patung dengan koreografi untuk tujuh orang yang berpusat pada breaking. Eksplorasinya mencakup keras dan lembut, kekuatan dan kerapuhan, serta relasi para laki-laki muda dengan pemahaman mereka yang terpecah tentang diri sendiri. Namun pada dasarnya, “Soft Shell” tak dapat dipisahkan dari pengalaman hidup Brandt.

“Karya ini tidak akan terwujud kalau batin saya tidak benar-benar kacau,” ujarnya. Awal proyek ini bermula sekitar dua tahun lalu, pada masa yang disebut Brandt sebagai salah satu periode paling bergolak dalam hidupnya. Keuangan, kehidupan pribadi, dan kesehatannya sama-sama tertekan, meski dari luar kariernya tampak bergerak ke arah sebaliknya.

“Dari luar, semuanya terlihat sangat, sangat baik,” kenangnya. “Banyak peluang luar biasa datang, dan saya bersama tim benar-benar bekerja keras, tetapi kondisi saya sama sekali tidak baik.” Dalam mencari cara untuk melindungi dunia batinnya, Brandt terpikat pada hewan yang menjadikan tubuhnya sendiri sebagai mekanisme pertahanan. Trenggiling dan armadillo—serta cara mereka menggulung tubuh menjadi bentuk pelindung saat terancam—menjadi rujukan awal.

“Hal-hal lain begitu bergolak, rasanya satu-satunya yang saya punya adalah bentuk fisik ini,” jelasnya. “Saya harus mencari cara menjalani dunia dengan tubuh ini.” Gagasan-gagasan itu perlahan berkembang menjadi gerak, sebelum gerak tersebut diterjemahkan menjadi patung. Dalam proses yang panjang, bentuk-bentuk fisik itu menjadi patung perunggu, sementara Brandt dan timnya terus mengembangkan proyek ini ke dalam koreografi, suara, dan pertunjukan.

Diagnosis itu hanya memperdalam eksplorasinya. Brandt pindah dari London, mengubah pola makan dan gaya hidupnya, serta sangat mengandalkan praktik fisik dan kreatif yang memberinya jeda sejenak. “Berlatih atau larut sepenuhnya dalam praktik kreatif adalah satu-satunya hal yang meredakan gejala saya untuk waktu singkat,” ujarnya.

Hasilnya adalah sebuah karya yang menjadikan tubuh, dalam waktu bersamaan, sebagai sarana bercerita, sistem pertahanan, dan objek yang rentan. Relasi tersebut masih terus dimatangkan saat gladi bersih pada malam sebelum peluncuran “Soft Shell”. Di tengah arsitektur Serpentine Pavilion, Brandt dan timnya melakukan penyesuaian terakhir, mempelajari interaksi koreografi dengan ruang luar, serta mencari cara meningkatkan intensitasnya dalam ruang yang berbeda dari studio tempat karya ini dikembangkan.

Pada malam berikutnya, detail-detail itu akhirnya menyatu. Bersama enam penari lain, Brandt menghadirkan olah tubuh yang tak pernah menjadi sekadar hiasan. Ketujuh penampil menjelajahi Pavilion; tubuh mereka melipat, berbenturan, mundur, lalu muncul kembali, sembari membawa tema-tema yang telah Brandt coba pahami lewat gerak selama dua tahun.

Busana menjadi lapisan lain dalam bahasa visual tersebut. Brandt dan para penarinya tampil mengenakan Stone Island serta alas kaki Salomon, mempertemukan dua merek yang lekat dengan subkultur kontemporer dengan breaking, patung, dan seni pertunjukan.

Proyek ini hadir dengan dukungan NOAM, yang meluncurkan XXIe Siècle melalui “Soft Shell” sebagai karya pembukanya. Dukungan itu membantu membawa gagasan Brandt yang sangat personal ke salah satu ruang seni kontemporer paling penting di London, sekaligus meletakkan fondasi bagi program yang akan terus mendukung seni pertunjukan di seluruh dunia.

Ada pula dimensi penting lain pada jajaran pemainnya. Brandt sengaja menyatukan kelompok penampil dan kolaborator yang seluruhnya laki-laki, menjadikan proyek ini sebagai ruang bagi mereka untuk mengomunikasikan emosi yang mungkin selama ini dipendam.

“Ini adalah kesempatan bagi para laki-laki ini untuk berekspresi sepenuhnya,” ujarnya, “untuk menyalurkan banyak frustrasi dan kemarahan yang sering kali menumpuk dalam diri laki-laki, lalu mengarahkannya menjadi sesuatu yang pada akhirnya sangat positif.”

Pelepasan itu mengalir di seluruh “Soft Shell”, begitu pula relasi Brandt dengan kegagalan. Breaking mengajarkannya sejak dini bahwa jatuh tak terelakkan. Anda mencoba sebuah gerakan lalu menghantam lantai. Anda mengikuti jam dengan harapan menang, tetapi tersingkir pada putaran kedua. Anda memar, menyesuaikan diri, lalu kembali. “Anda terus-menerus dihantam kegagalan,” katanya. “Pada akhirnya, itu menjadi bagian dari proses.”

Bagi Brandt, momen-momen itu kini sama sekali bukan kegagalan. Semuanya hanyalah tahapan dalam apa yang ia sebut sebagai “proses kreatif menuju pencapaian besar”. Setelah dua tahun bergulat dengan masalah kesehatan, kecemasan, eksperimen, dan penyesuaian tanpa henti, “Soft Shell” akhirnya mendapat momennya di Serpentine. Namun, gagasannya yang paling kuat sudah hadir sejak awal: kekuatan tidak menuntut ketiadaan kerentanan.

Terkadang, untuk bertahan hidup, Anda perlu belajar kapan harus melindungi diri, kapan kembali membuka diri, dan bagaimana terus bergerak melalui keduanya.

Baca Artikel Lengkap

Baca Berikutnya

MAAP Hadirkan Konsep Ritel LaB di London untuk Pertama Kalinya
Fashion

MAAP Hadirkan Konsep Ritel LaB di London untuk Pertama Kalinya

Gerai global ke-11 dari label ini menghadirkan pengalaman ritel yang berpusat pada komunitas ke jantung kawasan Soho.

Untuk Pertama Kalinya dalam Enam Dekade, Sony Resmi Absen dari CES 2027
Tech & Gadgets

Untuk Pertama Kalinya dalam Enam Dekade, Sony Resmi Absen dari CES 2027

Sony mengonfirmasi bahwa jika PlayStation 6 diluncurkan pada tahun 2027, pengumumannya dipastikan tidak akan berlangsung di panggung CES.
5 Sumber

Studio New York Tom Wesselmann Dibuka untuk Publik untuk Pertama Kalinya
Seni

Studio New York Tom Wesselmann Dibuka untuk Publik untuk Pertama Kalinya

Serta pameran duet Tomokazu Matsuyama yang hadir selama Armory Week.


Koleksi Kultus "Juju Mega" Karya CJ Hendry Rilis Secara Daring untuk Pertama Kalinya
Seni

Koleksi Kultus "Juju Mega" Karya CJ Hendry Rilis Secara Daring untuk Pertama Kalinya

Hadir dalam format blind-box terbatas pada 1 November, seri boneka plushie menyerupai kelinci ini menandai peluncuran digital terbesar sang seniman hingga saat ini.

IWC Hadirkan Dua Edisi Ingenieur SL Monokrom Bersalut Perak
Jam Tangan

IWC Hadirkan Dua Edisi Ingenieur SL Monokrom Bersalut Perak

Merayakan 50 tahun warisan Gérald Genta, manufaktur asal Schaffhausen ini membekali model baja terbarunya berukuran 40 mm dan 35 mm dengan pelat jam bersalut perak.

Jordan Brand dan Nike Strength Umumkan Koleksi Peralatan Gym Jordan Strength
Olahraga

Jordan Brand dan Nike Strength Umumkan Koleksi Peralatan Gym Jordan Strength

Rangkaian peralatan latihan kekuatan ini mengusung detail desain ikonis Air Jordan, termasuk motif elephant print dan boks plyo yang terinspirasi dari kotak sepatu.

Sneaker Politics dan Timberland Berkolaborasi dalam Paket 6-Inch Boot Bernuansa Selatan
Footwear

Sneaker Politics dan Timberland Berkolaborasi dalam Paket 6-Inch Boot Bernuansa Selatan

Kolaborasi perdana ini menghadirkan varian warna “Outlaw” dan “Rodeo” sebagai penghormatan bagi warisan Louisiana.

Netflix Rilis Tampilan Perdana The Murder of JonBenét Ramsey Menjelang Tayang Perdana Desember
Hiburan

Netflix Rilis Tampilan Perdana The Murder of JonBenét Ramsey Menjelang Tayang Perdana Desember

Melissa McCarthy dan Clive Owen memimpin serial terbatas ini sebagai Patsy dan John Ramsey.

Patta x Crocs Tingkatkan Classic EXP Clog dengan Sol Vibram dalam Pilihan “Almost White” dan “Black”
Footwear

Patta x Crocs Tingkatkan Classic EXP Clog dengan Sol Vibram dalam Pilihan “Almost White” dan “Black”

Tali pergelangan kaki empuk yang dapat disesuaikan dan charm Jibbitz yang bisa ditukar-pasang menjadikan paket dua warna ini wadah untuk personalisasi.

Laga Terakhir Lionel Messi Bersama Argentina Digelar 6 Oktober Melawan Benin di Buenos Aires
Olahraga

Laga Terakhir Lionel Messi Bersama Argentina Digelar 6 Oktober Melawan Benin di Buenos Aires

Pertandingan perpisahan ini menutup jeda internasional tiga laga yang dibuka dengan duel melawan Bolivia di Cordoba pada 30 September.
5 Sumber


A24 Rilis Trailer Baru 'Primetime' Karya Lance Oppenheim yang Mencekam, Dibintangi Robert Pattinson
Hiburan

A24 Rilis Trailer Baru 'Primetime' Karya Lance Oppenheim yang Mencekam, Dibintangi Robert Pattinson

Thriller ini menyuguhkan sudut pandang sinematik yang meresahkan tentang televisi kriminal nyata dan sensasionalisme memburu predator.

Porsche Perkenalkan Replika Listrik Porsche 550 Spyder Skala 80 Persen, Terbatas 250 Unit
Otomotif

Porsche Perkenalkan Replika Listrik Porsche 550 Spyder Skala 80 Persen, Terbatas 250 Unit

Replika listrik berskala 80 persen ini dikembangkan berdasarkan gambar arsip asli dari Porsche Corporate Archives di Stuttgart.
6 Sumber

Serial Tanpa Skenario Netflix ‘The New Stanford Prison Experiment’ Tempatkan 30 Relawan di Penjara Nyata untuk Menguji Apakah Kekuasaan Merusak
Hiburan

Serial Tanpa Skenario Netflix ‘The New Stanford Prison Experiment’ Tempatkan 30 Relawan di Penjara Nyata untuk Menguji Apakah Kekuasaan Merusak

Serial enam episode ini menghidupkan kembali studi psikologi paling kontroversial, lebih dari 50 tahun setelah versi orisinal tahun 1971 dihentikan lebih awal.

“Quantum Attachment” WE11DONE: Tailoring Berlapis dan Material Pudar dalam Hasrat Sinematik
Fashion

“Quantum Attachment” WE11DONE: Tailoring Berlapis dan Material Pudar dalam Hasrat Sinematik

Koleksi Fall/Winter 2026 ini memadukan siluet hibrida dan sentuhan akhir yang tampak termakan waktu sebagai metafora keintiman yang melintasi jarak.

NikeSKIMS Ekspansi ke Tiongkok dengan Koleksi Perdana Pakaian dan Alas Kaki
Fashion

NikeSKIMS Ekspansi ke Tiongkok dengan Koleksi Perdana Pakaian dan Alas Kaki

Label kolaborasi ini memperkenalkan sembilan pilihan material, sekaligus pop-up khusus di HKRI Taikoo Hui, Shanghai.

"Bar Leone" Dibuka di New York, Bar Hong Kong Tegaskan Tidak Berafiliasi
Kuliner

"Bar Leone" Dibuka di New York, Bar Hong Kong Tegaskan Tidak Berafiliasi

Bar Terbaik Dunia 2025 kembali menegaskan operasinya hanya berada di dua kota di tengah pertanyaan seputar bar senama tersebut.

More ▾