Kenapa Para Purist Begitu Kesal dengan Swatch x AP Royal Pop?

5 pakar jam membedah kolaborasi kontroversial yang mengacak-acak dunia horologi.

Jam Tangan
975 0 Komentar
Simpan

Saat bisik-bisik soal kemungkinan crossover antara Audemars Piguet dan Swatch pertama kali menguasai internet, komunitas jam tangan langsung bersiap menanti “salinan karbon” Royal Oak Bioceramic untuk pergelangan tangan, terinspirasi mahakarya ikonis Gérald Genta. Namun, alih-alih hadir sebagai jam tangan, Royal Pop justru sama sekali meninggalkan pergelangan dan dirilis sebagai jam saku mekanis berwarna mencolok. Keputusan yang memecah opini ini seketika menyeret salah satu siluet paling diidamkan dalam dunia horologi ke dalam badai perdebatan soal nilai merek dan relevansi desain. Meski formatnya mengejutkan kolektor kasual, DNA di antara dua raksasa Swiss ini sesungguhnya terjalin sangat dalam. Di balik casing segi delapan cerah itu tersembunyi versi manual-winding dari movement otomatis SISTEM51 milik Swatch, dilengkapi pegas keseimbangan anti-magnetik Nivachron™ — komponen yang awalnya dikembangkan bersama oleh kedua brand.

Peluncuran yang sangat dinanti akhir pekan lalu memicu antrean gila-gilaan di seluruh dunia dan membuat butik-butik macet, dengan daya tarik budaya yang nyaris setara MoonSwatch legendaris. Namun di balik hiruk-pikuk media sosial, tersimpan percakapan yang jauh lebih dalam soal kolektibilitas jangka panjang. Para kolektor terbelah tajam: apakah “provokasi positif” ini benar-benar bisa menjadi gerbang otentik menuju dunia jam mekanis bagi generasi digital-native, atau justru karena konstruksinya yang tidak bisa diservis dan desain yang ramah mod semata-mata menjadikannya tren sesaat, bukan pilar horologi permanen. Begitu FOMO di media sosial memudar, kita masih bertanya-tanya: akankah jam saku bergaya Lépine dan Savonnette ini memicu apresiasi jangka panjang, atau hanya membuka keran untuk konversi jam tangan murah di pasar aftermarket?

Untuk mengurai realitas di balik rilisan monumental ini, kami mengumpulkan panel berisi sosok-sosok berpengaruh di industri, jurnalis, dan kolektor untuk sesi roundtable terbaru kami. Yang ikut bergabung dalam percakapan ini adalah Tom Chng (Founder dari Singapore Watch Club), jurnalis jam tangan Bhanu Chopra (Worn & Wound contributor), Helbert Tsang (Co-founder dari The Horology Club), Oliver Tong (Co-founder dari Horoverse) dan Françoise-Marie Santucci, jurnalis jam tangan kawakan yang karyanya tersebar di berbagai publikasi Prancis ternama, termasuk Le Nouvel Obs, The Good Life dan Montres Heroes.

Swatch dan AP benar-benar membalik ekspektasi dengan merilis Royal Pop sebagai jam saku. Menurut Anda, bagaimana sebenarnya format ini? Apakah Anda pikir cara pemakaian yang “tidak konvensional” ini membatasi daya koleksinya dalam jangka panjang?

Swatch Audemars Piguet Royal Pop Round table Discussion Helbert Tsang The Horology Club Oliver Tong Horoverse Tom Chng The Singapore Watch Club Bhanu Chopra Worn & Wound Françoise-Marie Santucci

Tom Chng (Singapore Watch Club)

Menurut saya, ini eksekusi yang sangat cerdas dan elegan untuk proyek ini. Banyak sekali skeptisisme soal apakah Royal Oak versi plastik untuk pergelangan tangan bisa mengencerkan, bahkan menggerus, nilai merek. Dengan merilisnya sebagai jam saku, AP dan Swatch justru menegaskan bahwa pada intinya ini adalah sebuah horological toy: sesuatu yang fun, ringan, dan mengajak generasi atau demografis baru masuk ke dunia jam mekanis tanpa bersikap terlalu sakral.

Di saat yang sama, saya menghargai bahwa masih ada rasa kemurnian horologi yang dipertahankan lewat penggunaan movement manual-winding.

Swatch Audemars Piguet Royal Pop Round table Discussion Helbert Tsang The Horology Club Oliver Tong Horoverse Tom Chng The Singapore Watch Club Bhanu Chopra Worn & Wound Françoise-Marie Santucci

Bhanu Chopra, Watch Journalist

Hal pertama yang selalu terlintas di benak saya tentang jam Swatch adalah: mereka diciptakan sebagai aksesori yang fun, kadang bahkan sedikit jenaka dan penuh seloroh. Jadi siapa pun yang terlalu menganggapnya serius sebenarnya sudah jauh dari spirit jam Swatch itu sendiri.

Namun demikian, cara pemakaian yang tidak biasa hampir pasti mempersempit audiens. Kebanyakan kolektor tetap menginginkan sesuatu yang bisa dipakai di pergelangan secara rutin, bukan sekadar dikagumi atau dipakai beberapa kali lalu disimpan di laci dan akhirnya terlupakan.

Saya rasa format ini memang membatasi kolektibilitas jangka panjang di arus utama. Tapi di sisi lain, bisa saja justru melahirkan lingkaran penggemar kultus yang lebih kecil namun jauh lebih bersemangat. Secara historis, kolaborasi ini akan selalu menarik justru karena berani mematahkan formula yang sudah diprediksi.

Swatch Audemars Piguet Royal Pop Round table Discussion Helbert Tsang The Horology Club Oliver Tong Horoverse Tom Chng The Singapore Watch Club Bhanu Chopra Worn & Wound Françoise-Marie Santucci

Helbert Tsang (The Horology Club)

Menurut saya ini langkah yang sangat tepat dari Swatch dan AP, sekaligus masterstroke dari sisi marketing dan desain produk. Sulit rasanya benar-benar bersemangat soal Royal Oak versi jam tangan Swatch karena betapa sakralnya OG bagi begitu banyak orang. Tapi lewat format baru yang tetap mempertahankan banyak identitas visual tersebut, orang-orang didorong untuk menyelipkan sedikit sentuhan Royal Oak dalam hidup mereka, entah sebagai jam saku, gantungan tas, atau apa pun yang mereka inginkan.

Swatch Audemars Piguet Royal Pop Round table Discussion Helbert Tsang The Horology Club Oliver Tong Horoverse Tom Chng The Singapore Watch Club Bhanu Chopra Worn & Wound Françoise-Marie Santucci

Oliver Tong, Co-Founder of Horoverse

Swatch dan AP benar-benar all-out dengan merilis Royal Pop sebagai jam saku, bukan jam tangan. Terus terang saya suka gagasan membalik ekspektasi — itu seru, membuat semuanya terasa lebih menarik, dan memicu lebih banyak diskusi di dunia jam. Tapi saat format tersebut dikaitkan dengan harganya, rasanya lebih mirip suvenir AP ketimbang sebuah forever piece yang ingin Anda simpan bertahun-tahun. Meski begitu, saya tidak percaya faktor “aneh dipakai” otomatis mematikan daya koleksi. Kadang sebuah benda bisa sangat collectible bahkan kalau nyaris tidak pernah benar-benar Anda pakai setiap hari.

Swatch Audemars Piguet Royal Pop Round table Discussion Helbert Tsang The Horology Club Oliver Tong Horoverse Tom Chng The Singapore Watch Club Bhanu Chopra Worn & Wound Françoise-Marie Santucci

Françoise-Marie Santucci, Watch Journalist

Seperti kata orang Swiss penutur Prancis (dan saya cukup menyukai ungkapan ini): saya “pleasantly disappointed”. Artinya, saya sedikit kecewa — karena, seperti banyak orang lain, saya juga menginginkan sepotong legenda Audemars Piguet di pergelangan tangan saya — tetapi di saat yang sama benar-benar mengagumi keberanian Royal Pop ini. Proposisinya nyeleneh, berani, dan sangat mungkin menggelitik selera perempuan. Sayang sekali peluncurannya pada 16 Mei justru berkali-kali berujung pada kekacauan.

Menurut saya, yang berpotensi menahan laju koleksi ini bukan soal bagaimana cara memakainya, melainkan apa yang ada di dalamnya — yaitu Sistem51. Movement mekanis otomatis yang sebenarnya sangat solid, tapi tidak bisa diservis.

Menurut Anda, dampak seperti apa yang akan ditimbulkan rilisan ini pada komunitas pemilik Royal Oak yang sudah ada?

Swatch Audemars Piguet Royal Pop Round table Discussion Helbert Tsang The Horology Club Oliver Tong Horoverse Tom Chng The Singapore Watch Club Bhanu Chopra Worn & Wound Françoise-Marie Santucci

Tom Chng (Singapore Watch Club)

Kebetulan saya memang memiliki sebuah jam saku Royal Oak dari tahun 1979, original piece yang menginspirasi tribut menyenangkan ini. Jam tersebut diproduksi dalam jumlah yang sangat terbatas, dan merupakan jam yang sungguh saya sayangi dan nikmati.

Yang saya suka dari Royal Pop adalah kini jauh lebih banyak orang bisa merasakan pesona konsep orisinal tersebut, dan mungkin lewat itu mereka menemukan apresiasi baru terhadap objek mekanis dan seni pembuatan jam tradisional.

Swatch Audemars Piguet Royal Pop Round table Discussion Helbert Tsang The Horology Club Oliver Tong Horoverse Tom Chng The Singapore Watch Club Bhanu Chopra Worn & Wound Françoise-Marie Santucci

Bhanu Chopra, Watch Journalist

Saya rasa dampaknya pada para pemilik Royal Oak yang sudah ada akan lebih bersifat emosional ketimbang material. Bagi kolektor AP serius, khususnya mereka yang sangat menjaga kemurnian desain dan status Royal Oak, kolaborasi seperti ini mungkin terasa begitu main-main sampai nyaris tidak hormat. Ada yang melihatnya sebagai bentuk pengenceran; ada pula yang mengapresiasinya sebagai gestur sebuah brand yang cukup percaya diri sehingga tidak perlu selalu terlihat terlalu sakral.

Saya sendiri tidak memiliki AP, jadi tak bisa menawarkan perspektif langsung sebagai pemilik. Namun dari obrolan dengan teman-teman kolektor AP, mereka tidak melihat Royal Pop sebagai ancaman bagi warisan inti Royal Oak. Kalau pun ada, justru menegaskan betapa kuat dan relevannya brand AP Royal Oak secara budaya saat ini.

Swatch Audemars Piguet Royal Pop Round table Discussion Helbert Tsang The Horology Club Oliver Tong Horoverse Tom Chng The Singapore Watch Club Bhanu Chopra Worn & Wound Françoise-Marie Santucci

Helbert Tsang (The Horology Club)

Saya tahu AP mendapat cukup banyak kritik bahwa Royal Pop bisa saja “memurahkan” brand AP. Bagi saya, sebagai pemilik Royal Oak vintage, justru ini akan memperkenalkan AP dan Royal Oak ke audiens baru, yang pada akhirnya bisa semakin mengangkat popularitas AP. Royal Oak dan Royal Pop adalah produk yang berbeda, sama seperti Speedmaster dan MoonSwatch itu berbeda, dan saya rasa mayoritas tidak akan sepakat bahwa MoonSwatch menurunkan daya tarik Speedmaster. Menurut saya, kebanyakan pemilik Royal Oak secara alami akan menyukai Royal Pop juga, dan kemungkinan besar akan mencoba mendapatkannya.

Swatch Audemars Piguet Royal Pop Round table Discussion Helbert Tsang The Horology Club Oliver Tong Horoverse Tom Chng The Singapore Watch Club Bhanu Chopra Worn & Wound Françoise-Marie Santucci

Oliver Tong, Co-Founder of Horoverse

Dari sudut pandang pemilik Royal Oak, yang sebenarnya dikhawatirkan bukan aspek jam sakunya — melainkan apa yang bisa terjadi pada jam itu setelahnya. Bagi saya, gaya jam saku tidak benar-benar melukai nilai brand, dan konsepnya baik-baik saja. Tapi urusan gelang aftermarket-lah yang membuat semuanya jadi berantakan. Jika desainnya pada dasarnya membuka jalan mudah untuk mengubahnya menjadi jam tangan, berarti sebagian besar dari kita bisa punya AP Royal Oak dengan harga nyaris 1/20 dari harga asli. Topik utamanya di sini memang jam saku… tapi eksekusinya membuatnya terasa sangat mod-friendly.

Swatch Audemars Piguet Royal Pop Round table Discussion Helbert Tsang The Horology Club Oliver Tong Horoverse Tom Chng The Singapore Watch Club Bhanu Chopra Worn & Wound Françoise-Marie Santucci

Françoise-Marie Santucci, Watch Journalist

Saya sendiri sayangnya tidak memiliki Audemars Piguet — baik yang baru maupun vintage — tetapi di media sosial, di antara beberapa kolektor Prancis yang memilikinya, saya melihat cukup banyak rasa kesal terhadap kolaborasi ini. Mereka sungguh merasa ini menodai maison tersebut.
Seandainya saya berada di posisi mereka, saya rasa saya tidak akan bereaksi seperti itu. Karena kalau dipikir-pikir, kolaborasi ini justru melontarkan Audemars Piguet langsung ke jantung kultur pop kontemporer — jauh lebih efektif dibanding sekadar disebut-sebut oleh rapper Amerika dalam lagu mereka. Itu sesuatu yang tak ternilai, dan pada akhirnya akan dikenang sebagai kredit jangka panjang dari kolaborasi ini.

Kedua brand mengklaim Royal Pop bertujuan memperkenalkan generasi muda pada dunia jam mekanis lewat “positive provocation.” Menurut Anda, apakah Royal Pop benar-benar akan nyambung dengan para penggemar dan kolektor jam baru yang lebih muda?

Swatch Audemars Piguet Royal Pop Round table Discussion Helbert Tsang The Horology Club Oliver Tong Horoverse Tom Chng The Singapore Watch Club Bhanu Chopra Worn & Wound Françoise-Marie Santucci

Tom Chng (Singapore Watch Club)

Ya, saya percaya begitu. Di luar para scalper dan reseller, ketika produk ini akhirnya sampai ke tangan yang tepat, saya yakin pada akhirnya ini akan menjadi hal yang positif bagi industri.

Konsumen muda hari ini tumbuh dengan smartwatch sebagai standar. Bagi sebagian dari mereka, Royal Pop bisa saja benar-benar menjadi perkenalan pertama dengan dunia horologi, yang terasa lucu sekaligus memuaskan kalau diingat bahwa kakek-nenek kita dulu juga tumbuh dengan jam saku. Dengan cara yang aneh, rasanya seperti lingkaran itu kembali utuh.

Swatch Audemars Piguet Royal Pop Round table Discussion Helbert Tsang The Horology Club Oliver Tong Horoverse Tom Chng The Singapore Watch Club Bhanu Chopra Worn & Wound Françoise-Marie Santucci

Bhanu Chopra, Watch Journalist

Saya rasa ini akan mengena pada sekelompok audiens muda tertentu, tapi mungkin tidak seluas yang disiratkan brand. Secara visual ia mencuri perhatian, mudah dibaca, dan sangat ramah media sosial, yang membantu memicu rasa ingin tahu (bahkan mungkin FOMO). Kolektor muda sering kali merespons baik pada objek yang terasa ironis, sadar diri, dan tidak terlalu terikat kode-kode kemewahan tradisional — dan Royal Pop jelas pas di kategori itu.
Tantangannya, sebuah novelty berbahan plastik saja belum tentu bisa bertransformasi menjadi antusiasme jangka panjang terhadap pembuatan jam mekanis. Kemungkinan besar ia lebih sukses sebagai pemantik percakapan ketimbang sebagai collectible gerbang awal.

Swatch Audemars Piguet Royal Pop Round table Discussion Helbert Tsang The Horology Club Oliver Tong Horoverse Tom Chng The Singapore Watch Club Bhanu Chopra Worn & Wound Françoise-Marie Santucci

Helbert Tsang (The Horology Club)

Saya sungguh percaya jawabannya ya, dan antrean di depan toko Swatch di seluruh dunia serta semua diskusi yang dipicu Royal Pop seolah menguatkan hal itu. Ada yang bilang generasi muda justru lebih menghargai hal-hal analog karena mereka tumbuh di era digital, dan tak ada yang lebih analog (atau bahkan dianggap kuno) dibanding jam saku. Ini memberi para penggemar muda kesempatan mencicipi AP, sambil tetap menjadikan Royal Oak sebagai aspirasi jangka panjang mereka.

Swatch Audemars Piguet Royal Pop Round table Discussion Helbert Tsang The Horology Club Oliver Tong Horoverse Tom Chng The Singapore Watch Club Bhanu Chopra Worn & Wound Françoise-Marie Santucci

Oliver Tong, Co-Founder of Horoverse

Saya belum yakin kolaborasi ini benar-benar menggaet lebih banyak anak muda untuk bergabung ke komunitas jam. AP sudah merupakan nama besar, jadi orang memang mengenalnya — tapi pengenalan bukan berarti otomatis berubah menjadi kolektor. Pada akhirnya, banyak pembeli mungkin tetap membelinya lebih karena desain/status dibanding kultur jam itu sendiri. Dibanding brand seperti Omega dan Blancpain, ini terasa lebih seperti fashion dengan label mekanis ketimbang pintu masuk ke sebuah hobi.

Swatch Audemars Piguet Royal Pop Round table Discussion Helbert Tsang The Horology Club Oliver Tong Horoverse Tom Chng The Singapore Watch Club Bhanu Chopra Worn & Wound Françoise-Marie Santucci

Françoise-Marie Santucci, Watch Journalist

Saya cukup yakin jam ini membangkitkan rasa ingin tahu — jika bukan berkat, maka justru karena ledakan buzz besar-besaran di media dan jejaring sosial. Saya melihatnya di lingkaran saya sendiri, sesederhana itu: anak-anak teman saya penasaran. Dan saya pikir justru fakta bahwa ini bukan jam tanganlah yang paling memicu rasa ingin tahu mereka, meski formatnya masih menuai resistensi.
Tentu saja, akan selalu ada para oportunis — di luar para flipper Sabtu pagi — yang melihat dunia jam lalu berpikir: “Wah, jam itu mahal, bisa jadi aset, keren juga!” Tapi di antara generasi muda yang terpapar promosi begitu intens, hampir pasti akan ada beberapa yang benar-benar ketagihan dunia watchmaking. Dan itu, terus terang, luar biasa.

Apakah Anda menyukai Royal Pop? Dan apakah Anda berencana membelinya?

Swatch Audemars Piguet Royal Pop Round table Discussion Helbert Tsang The Horology Club Oliver Tong Horoverse Tom Chng The Singapore Watch Club Bhanu Chopra Worn & Wound Françoise-Marie Santucci

Tom Chng (Singapore Watch Club)

Menurut saya akan seru menaruh Royal Pop berdampingan dengan jam saku Royal Oak orisinal milik saya dan menunjukkan bagaimana satu menginspirasi yang lain. Saya juga ingin menggunakannya untuk mengenalkan keponakan-keponakan saya pada pembuatan jam mekanis dengan cara yang lebih ramah dan playful.

Swatch Audemars Piguet Royal Pop Round table Discussion Helbert Tsang The Horology Club Oliver Tong Horoverse Tom Chng The Singapore Watch Club Bhanu Chopra Worn & Wound Françoise-Marie Santucci

Bhanu Chopra, Watch Journalist

Ini pertanyaan yang menarik! Saya lebih menyukainya sebagai sebuah statement ketimbang objek hype. Jam saku plastik yang dikaitkan dengan salah satu desain sports watch paling ikonis dalam sejarah terasa sengaja dibuat tidak nyambung, namun di saat yang sama tetap fun. Ketika hype sudah reda, saya akan membelinya dan menggunakannya sebagai jam di meja kerja saya. Namun, Anda tidak akan pernah melihat saya membeli strap custom yang mengubah objek menyenangkan ini menjadi (lagi-lagi) jam tangan pura-pura yang di-hype.

Swatch Audemars Piguet Royal Pop Round table Discussion Helbert Tsang The Horology Club Oliver Tong Horoverse Tom Chng The Singapore Watch Club Bhanu Chopra Worn & Wound Françoise-Marie Santucci

Helbert Tsang (The Horology Club)

Kalau saya berhasil mendapatkannya, tentu saya mau. Favorit pribadi saya adalah Ocho Negro dan Lan Ba. Saya mungkin juga akan membeli stand-nya untuk dipakai sebagai jam meja, menambah sedikit keceriaan di hari kerja setiap kali saya melirik ke arahnya.

Swatch Audemars Piguet Royal Pop Round table Discussion Helbert Tsang The Horology Club Oliver Tong Horoverse Tom Chng The Singapore Watch Club Bhanu Chopra Worn & Wound Françoise-Marie Santucci

Oliver Tong, Co-Founder of Horoverse

Saya suka konsep Royal Pop. Benar-benar suka — keren, berbeda, dan punya karakter, sejauh ia tetap menjadi jam saku murni. Apakah saya akan membelinya? Mungkin, tapi jelas bukan sekarang. Apalagi kita semua sudah melihat bagaimana drama MoonSwatch: orang-orang mengantre di toko tiga hari sebelumnya, harga flip yang gila di platform jual-beli. Pada akhirnya, beberapa bulan kemudian Anda bisa dengan santai masuk toko dan membelinya dengan harga retail. Yang jelas, ini tetap collectible sebagai kolaborasi jam resmi pertama antara Swatch dan AP, jadi mungkin suatu saat nanti saya akan mengambil satu.

Swatch Audemars Piguet Royal Pop Round table Discussion Helbert Tsang The Horology Club Oliver Tong Horoverse Tom Chng The Singapore Watch Club Bhanu Chopra Worn & Wound Françoise-Marie Santucci

Françoise-Marie Santucci, Watch Journalist

Jadi, setelah mengenal delapan model lewat materi pers — karena, selain segelintir rekan di berbagai penjuru dunia, jurnalis tidak diberi akses ke jam aslinya — saya dibuat penasaran, dan cukup mantap ingin membeli satu. Sabtu pagi, saya pergi ke Deauville (kebetulan saya menghabiskan akhir pekan di dekat sana), tempat butik Swatch lokal menjadi salah satu dari 17 toko di Prancis yang berhak menjual Royal Pop. Tapi ketegangan sangat terasa: banyak flipper muda datang dari pinggiran Paris, dan pada akhirnya butik tersebut tidak pernah dibuka. Saya akui, sejak itu keinginan saya sudah agak pudar. Saya masih belum melihat jam-jam itu secara langsung, dan saya rasa akan butuh waktu sebelum antusiasme yang benar-benar tulus kembali di kalangan penggemar sejati — setidaknya bagi saya pribadi.

Baca Artikel Lengkap

Baca Berikutnya

Ice di Jam Saku: Alex Moss Pamerkan Custom AP x Swatch "Royal Pop" Full Berlian
Jam Tangan

Ice di Jam Saku: Alex Moss Pamerkan Custom AP x Swatch "Royal Pop" Full Berlian

Juwelier selebritas New York ini langsung meng-upgrade rilisan horologi paling hype dan kontroversial 2026 dari aksesori Bioceramic US$400 jadi masterpiece custom super berat berlapis berlian.

Paradoks Audemars Piguet: Apakah Swatch “Royal Pop” Menggerus Warisan Kemewahan?
Jam Tangan

Paradoks Audemars Piguet: Apakah Swatch “Royal Pop” Menggerus Warisan Kemewahan?

Dengan menukar keheningan dunia high horology dengan viralitas mass-market, kolaborasi terbaru raksasa Swiss ini memunculkan pertanyaan serius tentang harga sesungguhnya dari sebuah hype.

Royal Pop: Kolaborasi Audemars Piguet x Swatch yang Lepas dari Pergelangan Tangan
Jam Tangan

Royal Pop: Kolaborasi Audemars Piguet x Swatch yang Lepas dari Pergelangan Tangan

Delapan model ini meninggalkan gelang tradisional dan memakai tali kalung kulit calf, menghadirkan kembali Royal Oak ikonis sebagai jam saku yang fun dan playful.


TAG Heuer Rayakan Grand Prix Terakhir Zandvoort dengan Dua Formula 1 Solargraph Edisi Terbatas
Jam Tangan

TAG Heuer Rayakan Grand Prix Terakhir Zandvoort dengan Dua Formula 1 Solargraph Edisi Terbatas

Mengabadikan “lautan oranye” khas sirkuit legendaris ini.

Jam Tangan Anniversary Kurono Tokyo “Kujaku-ishi” Hadir dengan Dial Batu Peacock yang Mempesona
Jam Tangan

Jam Tangan Anniversary Kurono Tokyo “Kujaku-ishi” Hadir dengan Dial Batu Peacock yang Mempesona

Terinspirasi dari kilau bulu merak, edisi terbatas ini merayakan mineralogi kuno dan kehalusan seni jam tangan Jepang.

Headphone Milton A.N.C. Hadirkan Suara Khas Marshall ke Mana Pun Kamu Pergi
Tech & Gadgets

Headphone Milton A.N.C. Hadirkan Suara Khas Marshall ke Mana Pun Kamu Pergi

Didesain untuk hidup yang serba bergerak, bodi kokoh berbahan TPU molded ini bisa dilipat ringkas tanpa mengorbankan nuansa rock-and-roll premiumnya.

Intip Resmi Sepatu P.F. Flyers x Saeed Ferguson Grounder Terinspirasi Katak
Footwear

Intip Resmi Sepatu P.F. Flyers x Saeed Ferguson Grounder Terinspirasi Katak

Bagian atas kanvas yang tangguh dipadu dengan sol tebal bergerigi.

Tampilan Resmi Kolaborasi AURALEE x New Balance 204L
Footwear

Tampilan Resmi Kolaborasi AURALEE x New Balance 204L

Setahun setelah debut di Paris Fashion Week, sneakers stylish ini akhirnya resmi dirilis.

Kolaborasi Sandy Liang x PORTER SS26 Hadir Lagi: Begini Cara Dapetin Tas Kamu
Fashion

Kolaborasi Sandy Liang x PORTER SS26 Hadir Lagi: Begini Cara Dapetin Tas Kamu

Kolaborasi anyaman Jacquard penuh kode emotikon antara pembuat tas paling tepercaya di Tokyo dan desainer paling charming dari New York ini akhirnya comeback.

Lini Pakaian Pendingin Pertama Snow Peak Pakai Teknologi Peltier & Sirkulasi Air untuk Atasi Panas Ekstrem di Jepang
Fashion

Lini Pakaian Pendingin Pertama Snow Peak Pakai Teknologi Peltier & Sirkulasi Air untuk Atasi Panas Ekstrem di Jepang

Seri Cooling System Wear hadir Mei ini dengan dua rompi inovatif yang menghadapi panas musim panas seperti tantangan rekayasa.


Nike Luncurkan Astrograbber dalam Colorway “Sail/Old Royal” yang Simpel tapi Kuat
Footwear

Nike Luncurkan Astrograbber dalam Colorway “Sail/Old Royal” yang Simpel tapi Kuat

Salah satu siluet paling awal dari Nike kembali hadir dengan colorway tiga nada yang layak masuk dalam obrolan tren kebangkitan arsip saat ini.

OREO Guncang Rak Camilan dengan Biskuit Edisi Terbatas Baru “Firecracker Pop”
Kuliner

OREO Guncang Rak Camilan dengan Biskuit Edisi Terbatas Baru “Firecracker Pop”

Bawa nostalgia masa kecil ke dapurmu dengan krim buah tiga lapis yang super colourful.

Nike SB Dunk Low Makin Kece dengan Green Patent dan Metallic Gold
Footwear

Nike SB Dunk Low Makin Kece dengan Green Patent dan Metallic Gold

Rilis premium “Black Spruce” untuk Holiday 2026 ini meng-upgrade siluet skate klasik dengan logo crest unik dan insole gabus yang eksklusif.

LG UltraGear 25G590B, Monitor Gaming Full HD Pertama dengan Refresh Rate Native 1000Hz
Tech & Gadgets

LG UltraGear 25G590B, Monitor Gaming Full HD Pertama dengan Refresh Rate Native 1000Hz

Didesain untuk pemain esports profesional dengan AI Scene Optimization, audio spasial, dan Motion Blur Reduction Pro untuk kejernihan gerak maksimal.
1 Sumber

Pep Guardiola Dikabarkan Hengkang dari Manchester City Setelah 10 Tahun Penuh Trofi
Olahraga

Pep Guardiola Dikabarkan Hengkang dari Manchester City Setelah 10 Tahun Penuh Trofi

Enzo Maresca muncul sebagai kandidat terkuat untuk menjadi pewaris kursi manajer juara Premier League.
3 Sumber

Patung RX-0 Unicorn Gundam Raksasa di Tokyo Akan Dibongkar Setelah 9 Tahun — Ini Kesempatan Terakhirmu untuk Melihatnya
Fashion

Patung RX-0 Unicorn Gundam Raksasa di Tokyo Akan Dibongkar Setelah 9 Tahun — Ini Kesempatan Terakhirmu untuk Melihatnya

Patung RX-0 Unicorn Gundam berukuran asli yang jadi salah satu landmark pop culture paling ikonik di Jepang akan mengakhiri masa pamerannya, dikonfirmasi oleh Bandai.

More ▾