Palet netral bertemu saffron, emerald, dan royal blue dalam paduan warna dinamis yang berani.
Berjudul “DUAL SHIFT”, koleksi ini memoles ulang kode busana pria klasik untuk menjembatani keseharian antara kantor korporat dan studio kreatif.
Busana yang dipadatkan ke bentuk paling autentik, menyoroti nilai inti OUR LEGACY di panggung Paris Fashion Week.
Memadukan kemewahan ala Renaissance dengan sisi gritty subkultur.
Bertajuk “LIFE AT DENTE!”, koleksi ini menggali dualitas ritual keluarga lewat tailoring warisan dan eksperimen teknis yang berani.
Feng Chen Wang mengeksplorasi konsep “Two Forces” dalam filsafat Tiongkok, menyingkap keindahan di dalam tegangan aktif antara dua energi yang saling berlawanan.
Koleksi ini mengeksplorasi Art Brut lewat ketegangan gaya antara agresi dan kelembutan.
Di panggung bagai teater rembulan, busana seakan berjiwa dan kain berbisik dalam elegansi surealis yang memukau.
Jonathan Anderson membayangkan ulang pria Dior sebagai flâneur Paris yang menjembatani couture mid-century dengan warisan fluid dan opulen ala Paul Poiret.
“Justru bagian-bagian yang terbuang itu yang saya jadikan fokus. Kalau sesuatu sudah tak lagi cantik karena rusak, biar saya rusak lebih jauh lagi—dan dengan merusaknya, saya kasih kehidupan baru.”
Memasuki usia ke-30, Acne Studios meredam sisi grunge-nya untuk menghadirkan koleksi rapi dan polished yang merayakan perjalanan waktu.
Bertajuk “Morning Raga”, koleksi ini menjembatani logika estetika Balkrishna Doshi dengan kelenturan penuh jiwa dari spiritual jazz.