Stuart Vevers menukar kesan rapi tradisional dengan pop-punk angst, skater sneakers, dan kapsul grunge-heavy “See Now, Buy Now”.
Dari fleece berbulu tebal bergaya kokoon hingga jaket shell teknis serbabisa.
Menampilkan DeAndre Hopkins dan Marcus Allen, Browne menghadirkan tailoring artistik bernuansa Ivy yang tetap mudah dipakai sehari-hari.
Detail kancing kuno khas Tiongkok ini lagi di-remix habis-habisan oleh desainer Asia dan diadopsi brand Barat — kenapa baru sekarang booming?
Terinspirasi dari ‘Blade Runner 2049’, koleksi ini bereksperimen dengan busana sebagai “perangkat pelindung” bagi tubuh.
LỰU ĐẠN FW26 merebut kembali estetika “sleaze dan glamor,” berevolusi dari kegigihan imigran menjadi perayaan dewasa atas kesuksesan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Mengajak pecinta fashion ke destinasi ski ikonis Colorado lewat koleksi yang memadukan gaya outdoor 1950-an dengan inovasi teknis modern seperti performance denim.
Sub-label Helly Hansen ini memurnikan sistem bernuansa arsipnya untuk lingkungan urban hingga kondisi ekstrem.
Kolaborasi ini hadir dalam dua colorway eksklusif: “Black/Charcoal” dan “Beige/Orange.”
Menjadikan workwear sebagai arsip fondasi dan membangun ulang siluet urban dari struktur paling dasar.
Mulai dari debut Kiko Kostadinov x Crocs dan JiyongKim x PUMA sampai deretan PAF x On dan Song for the Mute x adidas yang siap mendominasi.
Koleksi cozy nan eklektik yang memantulkan gaya bold era ’70-an lewat sudut pandang Tokyo yang khas.