Panache Digital Games Hadirkan Game Dark Fantasy Bertema Sihir ‘1666: Amsterdam’
Dari kreator visioner di balik Assassin’s Creed pertama, kisah kelam 1666: Amsterdam terjalin lintas waktu: tahun 1666, 1999, hingga masa kini.
Ringkasan
- Patrice Désilets dan Panache Digital Games akhirnya menghidupkan kembali proyek yang lama tertunda 1666: Amsterdam ini
- Gim aksi-petualangan sejarah abad ke-17 ini memadukan praktik sihir lintas generasi dengan sentuhan horor supernatural
- Demo prolog gratis berdurasi 30 menit ini tiba-tiba diluncurkan di Steam dan Epic Games Store
Setelah nyaris lima belas tahun terjebak dalam development hell, sang kreator asli Assassin’s Creed Patrice Désilets bersama Panache Digital Games resmi mengumumkan 1666: Amsterdam di Summer Game Fest 2026.
Awalnya digagas pada 2012 di THQ Montreal, sebelum pertarungan hukum melelahkan dengan Ubisoft membuat hak kekayaan intelektualnya menggantung, gim aksi-petualangan sejarah third-person bernuansa gelap ini kini resmi bangkit dari kubur. Alih-alih terpaku pada latar sejarah klasik, gim ini menghadirkan twist horor supernatural di versi alternatif Belanda abad ke-17.
Pengumuman tersebut dikemas lewat trailer pengenalan gim yang menampilkan narasi lintas realitas, merentang tiga era berbeda: 1666, 1999, dan masa kini. Berpusat pada konspirasi lintas generasi, alurnya mengikuti sosok protagonis bernama Noa Brooklyn, seorang “Collector” yang dibesarkan oleh faksi misterius bernama Zaindaris. Noa memanfaatkan sihir dan mantra-mantra kuno untuk memburu dan mengungkap “The Originals”, makhluk iblis purba yang selama berabad-abad menyamar sebagai warga biasa.
Untuk merayakan peluncuran perdananya, studio ini diam-diam merilis demo prolog gratis berdurasi 30 menit di Steam dan Epic Games Store, dengan rencana merilis gim ini secara resmi ke tahap PC Early Access akhir tahun ini sebelum diperluas ke rilis konsol yang lebih luas ke depannya.


















