Desainer keturunan Asia-Amerika ini kembali ke London Fashion Week dengan mengubah runway-nya menjadi pengalaman layaknya pasar malam Hong Kong.
Rangkaian koleksi ini mengingatkan kita bahwa meski kita harus tumbuh dewasa, pakaian kita tak perlu ikut-ikutan. Kita tetap bisa berpesta dengan piyama dan benar-benar ‘menyimpan’ hati di lengan baju kita.
Presentasi imersif ini mengubah kekacauan backstage jadi tontonan runway spektakuler, sambil memperkenalkan kolaborasi baru PUMA dan deretan essentials buat era “dadhood” A$AP Rocky.
Setahun setelah debutnya, Veronica Leoni menegaskan era baru Calvin Klein lewat koleksi yang memadukan tailoring minimalis modern dengan detail memanjakan bernuansa ’70-an dan ’80-an.
Stuart Vevers menukar kesan rapi tradisional dengan pop-punk angst, skater sneakers, dan kapsul grunge-heavy “See Now, Buy Now”.
Dari fleece berbulu tebal bergaya kokoon hingga jaket shell teknis serbabisa.
Menampilkan DeAndre Hopkins dan Marcus Allen, Browne menghadirkan tailoring artistik bernuansa Ivy yang tetap mudah dipakai sehari-hari.
Detail kancing kuno khas Tiongkok ini lagi di-remix habis-habisan oleh desainer Asia dan diadopsi brand Barat — kenapa baru sekarang booming?
Terinspirasi dari ‘Blade Runner 2049’, koleksi ini bereksperimen dengan busana sebagai “perangkat pelindung” bagi tubuh.
LỰU ĐẠN FW26 merebut kembali estetika “sleaze dan glamor,” berevolusi dari kegigihan imigran menjadi perayaan dewasa atas kesuksesan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Mengajak pecinta fashion ke destinasi ski ikonis Colorado lewat koleksi yang memadukan gaya outdoor 1950-an dengan inovasi teknis modern seperti performance denim.
Sub-label Helly Hansen ini memurnikan sistem bernuansa arsipnya untuk lingkungan urban hingga kondisi ekstrem.