Taemin Menemukan Kekejaman dalam Keindahan lewat 'PHASE 1: Soft Violence'

Bintang utama SHINee ini mengurai bagaimana puncak karier dan luka yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun menjadi landasan untuk batas yang kini ingin ia lewati.

Musik
665 0 Komentar
Simpan

Hampir 20 tahun, Taemin membuktikan bahwa seorang bintang pop juga bisa menghadirkan rasa tak nyaman. PHASE 1: Soft Violence menjadi pernyataannya yang paling gamblang sejauh ini. Album ini dibuka dengan visual kubus gula yang diurai semut—manis sekaligus muram dalam sekali pandang—lalu dilanjutkan dengan lendir, tanah liat, dan lubang-lubang yang mengoyak dinding. Semua itu bukan sekadar hiasan. Setiap objek mewakili versi dirinya yang pernah ia jalani dan ia simpan.

Judulnya merangkum seluruh gagasan itu dalam dua kata. Bagi sosok utama SHINee dan SuperM ini, keelokan dan bahaya bukanlah dua hal yang berlawanan, melainkan terbuat dari bahan yang sama—dari situlah kata “kekerasan” dalam frasa tersebut berasal. “Saya percaya ada kekejaman dalam keindahan, dan dalam arti tertentu, itu juga bisa menjadi bentuk kekerasan,” ujarnya. Logika yang sama ia terapkan pada perjalanan hidupnya sendiri; ia enggan memilahnya menjadi kemenangan dan luka. Menurutnya, masa-masa sulit maupun penuh sukacita sama-sama membentuk fondasi yang ia pijak, sementara luka-luka yang terus muncul di sepanjang album ini sesungguhnya adalah beragam versi Taemin yang membentuk dirinya saat ini.

Jika album ini menjadi semacam perhitungan atas masa lalu, tur konsernya ditulis dalam kala kini. Ia menamainya “LiMiNaL”, merujuk pada ambang—jeda sarat ketegangan sebelum sesuatu benar-benar berubah. Taemin terus terang bahwa pilihan itu adalah pesan untuk dirinya sendiri, sama besarnya dengan konsep bagi para penonton. “’LiMiNaL’ merujuk pada batas atau keadaan berada di ambang. Saya memilih judul ‘LiMiNaL’ untuk tur ini karena saya ingin melangkah melampaui cara saya melakukan berbagai hal selama ini,” jelasnya. Ia menggambarkan era ini sebagai sebuah pintu yang tengah ia hadapi, dengan bab berikutnya menanti di seberang. “Dalam arti tertentu, saya rasa ‘LiMiNaL’ merepresentasikan diri saya saat ini, yang berdiri di ambang itu. Dan melalui ‘PHASE 2’, yang akan menyusul, saya ingin menunjukkan versi diri saya yang telah melintasi batas tersebut dan melangkah maju sekali lagi.”

Sebagian besar dorongan itu berawal dari sebuah lapangan di gurun California. Taemin tampil di Coachella sebagai solois pria Korea pertama yang tampil di sana, dan besarnya momen tersebut jelas membekas dalam dirinya. “Saya juga menyadari, ‘Di luar sana ada pasar yang jauh lebih besar dan dunia yang jauh lebih luas,’” ujarnya. Yang paling membekas baginya adalah cara penonton memanfaatkan panggung itu: bergerak dan bernyanyi bersama, alih-alih sekadar menyaksikan pertunjukan. Pengalaman tersebut diam-diam mengubah cara pandangnya terhadap pekerjaannya. “Dulu, saya cenderung mendekati musik dengan terutama berfokus pada penampilannya sendiri. Sekarang, saya lebih memikirkan bagaimana musik itu mungkin dirasakan dari sudut pandang penonton.”

Bagi seseorang yang telah menempuh karier sejauh ini, kesadaran semacam itu terasa lebih berbobot. Setelah hampir dua dekade berkarya, Taemin sudah memiliki metode yang terbukti berhasil—dan justru itulah yang kini ingin ia usik. “Jadi, alih-alih terus mengulang apa yang telah saya lakukan selama bertahun-tahun, saya ingin mencoba menggarap album dengan cara yang sedikit berbeda,” ujarnya. Dorongan itu juga ia terapkan pada cara menulis, memproduksi, dan membangun dunia visual di sekitar sebuah rilisan. Namun, ia berhati-hati untuk tidak menyebutnya sebagai penemuan ulang diri. “Dalam arti tertentu, batas yang ingin saya lewati sekarang bukanlah soal meninggalkan hal-hal yang selama ini telah saya lakukan dengan baik. Ini tentang menjadikan pengalaman-pengalaman itu sebagai fondasi, sambil memberi diri saya ruang untuk mengeksplorasi cara-cara baru.”

Bagi artis yang telah menempuh perjalanan sejauh ini, seluruh pembicaraan tentang ambang batas itu mudah saja mengeras menjadi sekadar pencitraan. Namun, Taemin membuatnya terdengar lebih seperti sebuah disiplin: cara untuk terus bergerak maju tanpa melepaskan hal-hal yang membawanya sampai di titik ini. PHASE 1: Soft Violence menetapkan pijakannya. PHASE 2, janjinya, adalah saat ia melangkah melaluinya.


Baca Artikel Lengkap
Artikel ini telah diterjemahkan secara otomatis dari bahasa Inggris.
Oleh
Share artikel ini
Sophie Caraan Managing Editor

Sophie Caraan is the Managing Editor at Hypebeast, where she sets the editorial direction, standards, and output strategy for the HQ team. With a decade of editorial experience, she brings both a storyteller's instinct and a strategist's eye — spotlighting the figures and movements that shape the culture across a multitude of lanes. Her tenure is marked by high-impact conversations with the likes of RZA, Mads Mikkelsen, CORTIS, Erling Haaland, Kasing Lung, NIGO, and more.

Baca Berikutnya

Leica Cine Compact 1: Sensasi Layar Besar 4K dalam Proyektor Mini
Tech & Gadgets

Leica Cine Compact 1: Sensasi Layar Besar 4K dalam Proyektor Mini

Sistem rotasi 360° memungkinkan proyeksi ke dinding, langit‑langit, hingga setup outdoor dengan mudah.

NÒMARHYTHM TEXTILE dan Jordan Brand Luncurkan Kolaborasi, Hidupkan Warisan Atletik Lewat Kriya Tokyo
Fashion

NÒMARHYTHM TEXTILE dan Jordan Brand Luncurkan Kolaborasi, Hidupkan Warisan Atletik Lewat Kriya Tokyo

Para pendiri Masako Noguchi dan Takuma Sasaki berbincang dengan Hypebeast dalam wawancara eksklusif tentang membawa visi tekstil Tokyo mereka ke panggung atletik global.

Kohei Ogawa Perluas Semesta Buku Ceritanya lewat Pop-up ‘Green Cow Garden’ di Hong Kong
Seni

Kohei Ogawa Perluas Semesta Buku Ceritanya lewat Pop-up ‘Green Cow Garden’ di Hong Kong

Mengambil alih BELOWGROUND bersama SAKA SAKA dan HOW2WORK, sang seniman berbicara kepada Hypebeast tentang peluncuran koleksi kartu koleksi perdananya.


Otomotif

Encor Series 1: Restomod Lotus Esprit Full Carbon yang Super Eksklusif

Cuma 50 unit, Encor Series 1 memadukan bodi serat karbon, sensasi berkendara analog, dan teknologi kabin modern untuk pengiriman mulai 2026.
3 Sumber

PUMA Gandeng Graphpaper untuk H-STREET dalam Warna Cokelat Bernuansa Bumi
Footwear

PUMA Gandeng Graphpaper untuk H-STREET dalam Warna Cokelat Bernuansa Bumi

Mengganti mesh dengan nilon dan nubuck, label Jepang ini menghadirkan kecanggihan yang subtil pada sepatu lari trek era 2000-an.

UNDERCOVER Menghidupkan Mitologi ‘UNDERMAN’ dalam Film Panjang ‘UNDERGIRL’
Fashion

UNDERCOVER Menghidupkan Mitologi ‘UNDERMAN’ dalam Film Panjang ‘UNDERGIRL’

Label Jun Takahashi mengunjungi kembali pahlawan fiksinya dari 2011, 15 tahun kemudian, lewat pemutaran perdana film di Shibuya.

Intip ‘Dressing Up’, Monograf Perdana Sandy Liang dari Rizzoli
Fashion

Intip ‘Dressing Up’, Monograf Perdana Sandy Liang dari Rizzoli

Buku hardcover setebal 276 halaman ini menampilkan foto film dan iPhone yang belum pernah dipublikasikan, mengajak pembaca menyusuri arsip kreatif sang desainer.

BAPE Membelah Ujung Toe Moc MANHUNT lewat “MANHUNT Tabi” Berjahit Sashiko
Footwear

BAPE Membelah Ujung Toe Moc MANHUNT lewat “MANHUNT Tabi” Berjahit Sashiko

Konstruksi indigo ini memadukan kriya Jepang berusia berabad-abad dengan sol sneaker khas label tersebut, menghasilkan hibrida yang memancarkan nuansa warisan sekaligus streetwear.

TAG Heuer Rayakan 50 Tahun Monza lewat Edisi Flyback dari Karbon Tempa yang Tampil Stealth
Jam Tangan

TAG Heuer Rayakan 50 Tahun Monza lewat Edisi Flyback dari Karbon Tempa yang Tampil Stealth

Lima puluh tahun setelah model orisinalnya debut, kronograf baru ini memadukan warisan balap vintage dengan material berperforma modern.

SpongeBob Tinggalkan Bikini Bottom Menuju Grand Line dalam Happy Meal ‘SpongeBob SquarePants’ x ‘ONE PIECE’ dari McDonald’s
Fashion

SpongeBob Tinggalkan Bikini Bottom Menuju Grand Line dalam Happy Meal ‘SpongeBob SquarePants’ x ‘ONE PIECE’ dari McDonald’s

Set mainan koleksi ini mengubah jajaran karakter Bikini Bottom menjadi kru Topi Jerami, lewat pertukaran peran setiap karakternya.


Seiko Hidupkan Gaya Otomotif Retro lewat Dua Speedtimer Baru
Jam Tangan

Seiko Hidupkan Gaya Otomotif Retro lewat Dua Speedtimer Baru

Terinspirasi budaya mobil “young-timer” era 1970-an, jenama jam tangan Jepang ini memperkenalkan Prospex Heritage Motoring Countdown Speedtimer dalam warna Powder Blue dan Petrol Blue.

Fast & Furious: Hollywood Drift di Universal Studios Hollywood Siap Dibuka 16 September
Travel

Fast & Furious: Hollywood Drift di Universal Studios Hollywood Siap Dibuka 16 September

Roller coaster luar ruang pertama di taman ini melaju hingga 116 km/jam dengan kereta yang berputar dan mensimulasikan aksi drifting—yang tercepat di jajaran taman Universal di dunia.

BEAMS BOY Jadikan Clarks Desert Trek Tahan Air dengan GORE-TEX dan Sol Vibram Dua Lapis
Footwear

BEAMS BOY Jadikan Clarks Desert Trek Tahan Air dengan GORE-TEX dan Sol Vibram Dua Lapis

Edisi pesanan khusus ini mengusung konstruksi sol krep dan Vibram, insole turkuois, serta tiga pilihan tali sepatu yang dapat diganti-ganti.

Cartier Hadirkan Tank Américaine Skeleton untuk Pertama Kalinya dengan Kaliber Baru 1988 MC
Jam Tangan

Cartier Hadirkan Tank Américaine Skeleton untuk Pertama Kalinya dengan Kaliber Baru 1988 MC

Mesin jam mekanis manual ini menampilkan jembatan berbentuk angka Romawi seolah melayang di dalam case, ditemani model otomatis dengan dial burgundi bergradasi.

NOT A HOTEL dan ‘Pokémon Sleep’ Ubah Poké Ball Menjadi Penginapan yang Bisa Dihuni
Travel

NOT A HOTEL dan ‘Pokémon Sleep’ Ubah Poké Ball Menjadi Penginapan yang Bisa Dihuni

Brand vila desain ini membangun tempat peristirahatan berbentuk Poké Ball di Hokkaido, dengan pengungkapan lengkap dijadwalkan pada 15 September.

BEAMS x The North Face Purple Label Ubah Jaket Down dari Jalur Pendakian ke Jalanan
Fashion

BEAMS x The North Face Purple Label Ubah Jaket Down dari Jalur Pendakian ke Jalanan

Jaket down reversibel ini hadir dalam dua pilihan warna, dengan sisi balik yang menyembunyikan tampilan jaket kedua.

More ▾