‘Shangri‑La’ Karya Sagan Lockhart Bukan Cuma BTS ‘Alfredo 2’, tapi Juga Studi Kasus soal “Kreativitas Tanpa Batas”

Bareng The Alchemist dan Freddie Gibbs, sang fotografer menetap di Shangri-La milik Rick Rubin demi sesi rekaman proyek yang sudah lama dinantikan. Ia pulang dengan 40 jam raw footage dan film pendek perdananya yang mendokumentasikan proses kreatif di balik album tersebut.

Musik
377 0 Komentar
Simpan

Terakhir kali Sagan Lockhart duduk bareng Hypebeast adalah tepat setelah rilis photobook debutnya, I Don’t Play,pada Oktober 2024 lalu. Ia bercerita panjang-lebar soal proses kreatifnya dan perjalanan kariernya bersama Odd Future di Fairfax Avenue, kawasan legendaris di California.

“Begitu orang-orang lupa sama aku, aku langsung ambil kamera,” katanya saat itu, menjelaskan pendekatan fly-on-the-wall yang ia terapkan untuk menangkap foto-foto street yang apa adanya.

Wajar kalau sekarang Lockhart kembali mengabari kami soal tonggak besar terbaru dalam kariernya: film pertamanya, yang menurutnya berangkat dari ideologi kreatif yang sama. “Aku nggak pernah mau ikut campur. Aku ingin tetap di luar, biarkan mereka melakukan hal mereka dan aku cuma menangkap momen itu,” ujarnya lewat telepon setelah Shangri-La, film pendek debutnya, tayang perdana di Los Angeles, yang merujuk pada proyek The Alchemist dan Freddie Gibbs berjudul Alfredo 2 .

Shangi-La adalah sebuah eksplorasi atas proses kreatif Alfredo 2 meski Lockhart buru-buru menegaskan bahwa ini bukan sebuah “beginilah album ini dibuat” semata. Sebaliknya, film berdurasi dua puluh menit (durasi yang sudah Lockhart kunci sejak awal) ini berakar pada tema kreativitas tanpa batas.

Dalam proses penciptaan Alfredo 2, Gibbs dan Alc pindah ke studio Shangri-La milik Rick Rubin di Malibu, mengajak Lockhart ikut serta untuk merekam semua yang terjadi. “Mindset-ku: ‘Gue kumpulin dulu sebanyak mungkin footage, nanti diedit, baru gue cari bentuknya,’” jelas Lockhart, yang akhirnya mengantongi sekitar 40 jam rekaman dari proses penggarapan album.

Di sela-sela berbagai pemutaran perdana, Lockhart membahas segala hal soal Shangri-La dalam obrolan berikut, yang telah diedit dan diringkas demi kejelasan.

Mari mundur ke awal. Koneksi kamu dengan Alc dan Freddie terasa begitu natural. Awalnya, bagaimana kamu bisa nyambung dengan mereka?

Gue pertama kali kenal sama Alc. Kita nyambung di era Fairfax yang super awal, tapi baru benar-benar dekat beberapa tahun kemudian. Dia mulai kerja bareng anak-anak Odd Future dan orang-orang yang sering nongkrong bareng gue, jadi gue makin sering lihat dia. Lalu dia mulai kerja bareng Freddie dan akhirnya kita jadi sering banget ngabisin waktu bareng. Freddie dulu sering belanja di Fairfax, tapi kita belum saling kenal sampai gue ketemu Lambo, yang lalu sering banget bawa-bawa gue ke lingkaran mereka.

Alfredo 2adalah salah satu proyek hip hop paling ditunggu di 2025. Rasanya seperti apa melihat langsung bagaimana semuanya disusun dari awal?

Alc dan Freddie benar-benar master di bidang mereka. Chemistry-nya gila banget. Dari cara mereka kerja, lo langsung tahu setiap lagunya bakal jadi banger. Al akan menyisir beberapa beat, lalu memutar satu beat yang memang paling ingin dia benar-benar pakai, dan beat itu bisa di-loop lima jam bahkan 24 jam. Lalu, tiba-tiba, Freddie langsung menghajar beat itu. Setiap track. Gila banget melihat dan mendengarnya secara langsung.

Kapan kamu memutuskan ingin membuat film Shangri-La ini? Dari awal apakah kamu sudah tahu ingin mendokumentasikan proses pembuatan Alfredo 2?

Gue sempat ada di sebagian proses rekaman Alfredo, dan sedikit di proses rekaman proyek Freddie $oul $old $eperately. Begitu obrolan soal Alfredo 2 mulai mengemuka, gue langsung tahu gue pengin merekam semuanya dalam video. Tapi saat itu gue belum tahu bakal gue apakan footage itu.

Suatu hari, kami ke studio Al, dan dia langsung memutar beat-beat yang ia inginkan untuk album itu. Saat itu belum ada pembicaraan soal pergi ke Shangi-La, tapi tak lama kemudian mereka berhasil mengamankan tempat di sana. Kami semua tinggal di sana selama beberapa minggu di musim panas 2023. Gue merekam Al dan Freddie begitu lama, tapi gue tahu gue ingin membuat sebuah proyek film yang hanya fokus pada masa tinggal dan kerja kami di Shangri-La karena momen itu benar-benar spesial.

Itu pertama kalinya kamu di Shangi-La?

Nggak, kami sudah beberapa kali ke sana untuk rekaman proyek-proyek sebelumnya, tapi ini pertama kalinya kami benar-benar tinggal di sana. Kami ada di sana 24/7, sementara sebelumnya kami hanya datang tiga–empat jam buat rekaman di studio lalu pulang. Kali ini, kami bisa rekaman kapan pun selama masih menginap. Kadang rekaman jam 5 atau 6 pagi, lalu tidur seharian. Jadwalnya benar-benar acak.

Pendekatan kamu seperti apa saat merekam untuk proyek ini?

Gue pengin menangkap semuanya. Sebanyak mungkin. Lo nggak pernah tahu siapa yang bakal tiba-tiba masuk studio atau ke mana arah obrolan akan mengalir. Kehadiran DJ Paul, Anderson .Paak, atau Ye yang keluar-masuk studio selama sesi rekaman juga menambah lapisan tersendiri. Mindset gue: “Gue kumpulin dulu sebanyak mungkin footage, nanti gue edit, baru gue cari bentuknya.” Total, gue punya sekitar 40 jam rekaman dari sana.

Lalu bagaimana kamu menyaring semua footage itu dan menentukan mana yang masuk ke final cut?

Itu susah banget. Gue harus duduk dan menonton ulang semua footage berkali-kali untuk menemukan tema yang gue mau. Gue nggak ingin film ini jadi semacam “beginilah album ini dibuat” dari awal sampai akhir, melainkan film yang fokus pada kreativitas tanpa batas semua orang yang saling memantul satu sama lain. Begitu temanya terkunci, gue mulai memilih footage. Gue memutuskan durasi 20 menit. Rasanya paling masuk akal buat gue. Konsentrasi orang sekarang kan pendek.

Begitu tema dan durasi kelar, fokusnya jadi mengompilasi klip-klip yang terasa paling penting buat gue. Karena gue sudah mengalaminya sendiri dan menontonnya berkali-kali, sebenarnya tidak terlalu sulit untuk merangkainya, tapi butuh waktu untuk benar-benar mengasah temanya. Footage-nya terlalu banyak, dan penonton cuma akan melihat apa yang gue pilih; mereka nggak akan tahu apa yang hilang. Kalau durasinya 40 menit, gue nggak yakin akan menambah banyak hal. Menurut gue, poinnya sudah tersampaikan dalam 20 menit.

Kamu menyebut soal kreativitas tanpa batas selama sesi rekaman. Bisa dijelaskan lebih jauh? Bagaimana kamu menggambarkan energi di sesi-sesi itu, dan bagaimana kamu menerjemahkan energi tersebut ke layar?

Film ini diambil dengan gaya point-of-view yang kental, jadi gue ingin memasukkan shot-shot yang terasa paling penting buat gue. Gue pikir, kalau gue menampilkan itu, penonton bisa merasa seolah-olah ikut berada di ruangan. Gue nggak pernah mau ikut campur. Gue mau tetap di luar, biarkan mereka melakukan hal mereka dan gue hanya menangkapnya.

Terakhir kali kita ngobrol, kamu cerita soal pendekatan kamu ke fotografi yang berangkat dari strategi serupa: tidak ingin mengintervensi dan menangkap momen secara candid. Menurut kamu, pendekatanmu ke fotografi dan videografi itu sama?

Menurut gue, keduanya sama. Setidaknya untuk proyek film ini. Gue belum pernah bikin video seperti ini sebelumnya, jadi gue tahu gue ingin mempertahankan energi yang sama untuk video ini, tapi gue juga nggak menutup diri untuk bereksperimen dan mencoba hal baru. Orang mungkin sudah berekspektasi seperti ini dari gue, dan nggak banyak yang punya akses seperti ini, jadi gue akan bawa energi yang sama ke film formal pertama gue.

Setelah ini apa? Sudah ada rencana distribusi untuk filmnya?

Gue pengin orang-orang melihat proyek ini, tapi gue belum mau menaruhnya online dalam waktu dekat. Sekarang gue lagi menyiapkan tur ke beberapa kota, jadi ikuti gue terus untuk update-nya.

Baca Artikel Lengkap

Baca Berikutnya

Expressive E Osmose, Keyboard Hans Zimmer untuk Musik Film ‘Dune 2’, Kini Hadir dalam Versi Controller seharga US$999
Tech & Gadgets

Expressive E Osmose, Keyboard Hans Zimmer untuk Musik Film ‘Dune 2’, Kini Hadir dalam Versi Controller seharga US$999

Dengan melepas mesin suara internal, Osmose CE baru menghadirkan keyboard ekspresi 3D favorit Hans Zimmer ke rentang harga di bawah US$1.000.
5 Sumber

Homecoming Musim Panas HOV & Lineup Lollapalooza 2026: Semua Hal Terseru di Musik Minggu Ini
Musik

Homecoming Musim Panas HOV & Lineup Lollapalooza 2026: Semua Hal Terseru di Musik Minggu Ini

Semua headline musik terbesar terangkum dalam satu tempat dan satu playlist. Diperbarui secara live sepanjang minggu.

Semua yang Kami Suka dari Musik Minggu Ini: 9 Januari
Musik

Semua yang Kami Suka dari Musik Minggu Ini: 9 Januari

Rocky lagi gencar rollout, lineup Gov Ball yang patut diacungi jempol, dan tur comeback Bruno Mars yang super berbintang membuka daftar awal 2026.


50 Album yang Mendefinisikan 2025 Versi Kami
Musik

50 Album yang Mendefinisikan 2025 Versi Kami

Membagi 50 pilihan kami ke dalam debut, comeback, kolaborasi, nama besar, hingga permata tersembunyi.

Robot Humanoid Pengangkat Bagasi di Bandara Haneda Muncul Duluan Sebelum ‘GTA VI’
Travel

Robot Humanoid Pengangkat Bagasi di Bandara Haneda Muncul Duluan Sebelum ‘GTA VI’

Japan Airlines menggandeng GMO AI & Robotics dan android Unitree G1 di Haneda untuk mengatasi krisis tenaga kerja dan mendukung ledakan wisata internasional.

Jeep Wrangler Rubicon Trail Hunt Edition Terbaru, Hanya 20 Unit dan Khusus Pasar Korea Selatan
Otomotif

Jeep Wrangler Rubicon Trail Hunt Edition Terbaru, Hanya 20 Unit dan Khusus Pasar Korea Selatan

SUV super-terbatas 20 unit ini hadir dengan upgrade Mopar, lift kit, dan suspensi Bilstein untuk para overlander serius.
1 Sumber

Number (N)ine Hadirkan Kembali Spirit Tom Verlaine untuk Menghidupkan Lagi Lore Sang Brand
Fashion

Number (N)ine Hadirkan Kembali Spirit Tom Verlaine untuk Menghidupkan Lagi Lore Sang Brand

Miyashita melanjutkan comeback gemilangnya ke label yang ia dirikan lewat drop punk-infused “New Arrivals #3”.

Berani Coba Purple BBQ Burger McDonald’s Demi Grimace?
Kuliner

Berani Coba Purple BBQ Burger McDonald’s Demi Grimace?

Menu Grimace terbaru juga menghadirkan kembali Grimace Shake, pie, dan banyak camilan ungu lainnya.

‘SAROS’ dari Housemarque Resmi Meluncur Eksklusif di PS5
Gaming

‘SAROS’ dari Housemarque Resmi Meluncur Eksklusif di PS5

Rahul Kohli berperan sebagai Arjun Devraj dalam kisah sci-fi penuh perubahan bentuk yang menyempurnakan pengalaman rogue-lite.

Selembut Butter: Sneaker Louis Vuitton LV Buttersoft Kustom j-hope Akhirnya Dirilis
Footwear

Selembut Butter: Sneaker Louis Vuitton LV Buttersoft Kustom j-hope Akhirnya Dirilis

Awalnya dibuat khusus untuk tur dunia j-hope, sneaker Louis Vuitton bernuansa rose ini mengusung emblem tupai tersembunyi dan konstruksi suede anak sapi premium yang super lembut.


Steam Controller Baru dari Valve Resmi Meluncur Mei Ini
Gaming

Steam Controller Baru dari Valve Resmi Meluncur Mei Ini

Periferal seharga US$99 ini hadir lebih dulu sebelum Steam Machine generasi terbaru dan headset VR Steam Frame yang sangat dinantikan.

Maaf, Gue Nggak Bisa Lihat Kamu di Balik Lunettes 6 Noires Serba Hitam dari MM6 Maison Margiela
Fashion

Maaf, Gue Nggak Bisa Lihat Kamu di Balik Lunettes 6 Noires Serba Hitam dari MM6 Maison Margiela

Untuk SS26, MM6 mendefinisikan ulang anonimitas lewat kacamata shield serba hitam Lunettes 6 Noires, memretas siluet arsip jadi frame teknis minimalis yang fokus ke bentuk struktur dekonstruktif yang murni.

Timberland Heritage GORE-TEX Moc Toe Mid Tawarkan Kenyamanan Tahan Cuaca Sepanjang Tahun
Footwear

Timberland Heritage GORE-TEX Moc Toe Mid Tawarkan Kenyamanan Tahan Cuaca Sepanjang Tahun

Siluet sepatu terbaru ini memadukan material black suede bertekstur ganda dengan teknologi waterproof premium dan outsole bergerigi yang siap menghadapi segala medan.

Range Rover SV Ultra 2027 Super Mewah Resmi Meluncur — Hanya untuk Pemilik Undangan
Otomotif

Range Rover SV Ultra 2027 Super Mewah Resmi Meluncur — Hanya untuk Pemilik Undangan

Dengan lantai haptic dan speaker super tipis, SUV flagship eksklusif undangan ini adalah sanctuary liquid‑metal untuk para kolektor paling elite di dunia.
6 Sumber

Helinox Chair Zero LT & Table Zero LT: Perabot Superringan yang Siap Diajak ke Ujung Dunia
Desain

Helinox Chair Zero LT & Table Zero LT: Perabot Superringan yang Siap Diajak ke Ujung Dunia

Berbobot kurang dari 0,5 kg dan memakai aluminium kelas ekspedisi, set ultraringan ini dirancang untuk pendaki dan petualang yang super perhitungan soal setiap gram beban.

Nike Luncurkan Nike Air Max 95 Big Bubble Zip "Medium Olive" dengan Penutup Ritsleting
Footwear

Nike Luncurkan Nike Air Max 95 Big Bubble Zip "Medium Olive" dengan Penutup Ritsleting

Shroud beritsleting dan unit Air berukuran besar mengubah pelari ikonik ini jadi sneaker bergaya utilitarian.

More ▾