Jana Frost dan Seni Membangun Dunia Lewat Kolase

Bagi Frost, kolase menjembatani kepengarangan dan karya ready‑made, merangkai ulang makna lewat citra-citra yang sudah ada.

Seni
944 0 Komentar
Save

Jana Frostmembangun dunia imersif sarat simbol lewat kolase, animasi, dan tata set, bergerak luwes antara ruang fisik dan digital. Kini berbasis di London setelah bertahun-tahun berpindah kota, praktik seninya merefleksikan rasa gerak dan kefanaan itu sendiri. Ia belajar seni rupa di Tallinn University, Estonia, namun pendidikannya terus berlanjut lewat riset seputar simbolisme, filsafat, dan psikologi—yang kemudian menghidupi narasi visual berlapis dalam karyanya.

Awalnya terlatih dalam keramik dan patung, Frost perlahan meninggalkan proses yang sangat bergantung pada material karena sering berpindah tempat membuat praktik studio tradisional sulit dipertahankan. Kolase kemudian muncul sebagai solusi praktis sekaligus pilihan konseptual yang pas. Prinsip-prinsip utama seni patung seperti komposisi, keseimbangan, dan penceritaan visual mengalir natural ke kertas potong, animasi, dan akhirnya instalasi berskala nyata. Bagi Frost, kolase hadir di antara kepengarangan dan karya ready-made, mengolah ulang citra yang sudah ada dengan cara yang mencerminkan bagaimana makna terus-menerus dirakit ulang dalam kultur visual kontemporer.

Kami berbincang dengan Frost tentang proses kreatifnya yang terus berevolusi, praktik membangun dunia visual, dan proyek-proyek yang saat ini tengah ia kembangkan.

Kamu kini berbasis di mana, dan bagaimana latar belakangmu membentuk karya-karyamu?
Saat ini aku berbasis di London, tapi sepanjang hidup aku sering berpindah-pindah. Ada beberapa tempat yang beruntung bisa aku sebut rumah, dan kelenturan itu dengan sendirinya terbawa ke cara aku bekerja dan alasan kenapa kolase menjadi salah satu medium utamaku. Latar belakangku berakar pada seni rupa, tapi praktik seniku selalu berada di antara pendekatan tradisional dan eksperimentasi. Seiring waktu, hal itu berkembang menjadi kolase, animasi, dan instalasi berskala nyata dalam format fisik maupun digital. Pendidikan bagiku tidak pernah terasa selesai. Riset dan proses belajar yang berkelanjutan terus membentuk bagaimana aku membangun narasi visual dan dunia-dunia berlapis.

Bagaimana kolase bisa menjadi inti dari praktik senimu?
Latar belakang formalku adalah keramik dan patung, yang lama sekali aku tekuni. Tapi urusan praktis seperti terus-menerus pindah, mengangkut material, proses pembakaran, dan menyimpan karya membuatnya sulit dipertahankan. Di periode itu kolase terasa jauh lebih mudah diakses, dan aku cepat sekali tenggelam di dalamnya. Gagasan-gagasan yang sejak awal sudah aku sukai—seperti komposisi, keseimbangan, dan penceritaan visual—beralih secara alami dan justru terasa makin kuat lewat medium kolase.

Apa yang membuatmu begitu tertarik pada kolase, baik dalam format digital maupun fisik?
Saat ini begitu banyak hal sudah hadir secara visual, dan banyak seniman bekerja dengan gambar, ide, dan referensi yang sudah ada dari berbagai masa. Kolase membuat proses itu menjadi kasatmata. Aku tertarik pada bagaimana kolase berada di antara karya ready-made dan kepengarangan, mengambil sesuatu yang sudah ada dan memberinya makna yang sama sekali berbeda. Aku tidak punya preferensi ketat antara kolase digital dan fisik, tapi seiring waktu aku makin tertarik pada karya fisik. Ruang digital terasa semakin penuh sesak, dan itu mendorongku membangun instalasi berskala nyata menggunakan potongan-potongan kolaseku. Melihat karya hadir di ruang nyata terasa sangat membumi, menjadi kontras terhadap realitas yang begitu didominasi layar.

Bagaimana pameran dan fashion editorial membentuk cara orang melihat karyamu?
Ada beberapa momen yang terasa lebih menonjol. Terpilih oleh Campari untuk membuat karya merayakan 100 tahun Negroni sangat penting secara profesional, apalagi mengingat sejarah visual mereka yang begitu kuat. Di level yang lebih personal, memamerkan animasi cut-out milikku di ruang galeri untuk pertama kalinya tahun lalu juga sangat berarti. Itu membuat karya bisa berfungsi sebagai sebuah karya yang utuh dan membuka ruang bagi orang untuk terlibat, menonton, dan memulai percakapan.

Bekerja di ranah fashion editorial memungkinkan karyaku hadir di luar galeri. Fashion bergerak sebagai kultur gambar yang beredar luas dan menjangkau audiens yang mungkin tak akan pernah bersentuhan dengan seni di ruang white cube. Membangun set di sekitar kolase-kolaseku juga membawaku kembali ke akar seni patung, membuatku berpikir dalam tiga dimensi dan bereksperimen dengan skala, tekstur, dan materialitas.

Apa yang sedang kamu kerjakan sekarang, dan ke mana kamu melihat praktik senimu akan bergerak?
Saat ini aku sedang mengembangkan seri karya pendek yang kusutradarai sendiri dan direkam di film 16mm di dalam kolase berskala nyataku, memperluas dunia-dunia ini menjadi narasi bergerak yang sarat simbol. Aku juga sedang mengerjakan animasi cut-out yang memadukan kolase dengan teknik analogue liquid light show, yang semuanya aku buat sendiri. Bersamaan dengan itu, aku merencanakan sejumlah kolaborasi fashion untuk beberapa tahun ke depan menuju 2026. Film terasa seperti perpanjangan yang alami dari praktik seniku, bukan sebuah pergeseran arah.

Orang bisa mengikuti perkembangan karyaku lewat media sosial, dan saat ini aku sedang menyiapkan sebuah website yang akan menjadi arsip yang lebih permanen bagi proyek-proyekku.

Baca Artikel Lengkap

Baca Berikutnya

Audi Revolut F1 Team Resmi Perkenalkan Identitas Visual untuk Musim Debutnya
Otomotif

Audi Revolut F1 Team Resmi Perkenalkan Identitas Visual untuk Musim Debutnya

Menandai apa yang disebut tim sebagai “era baru di FIA Formula 1 World Championship.”

Sehari Bareng ONE OK ROCK di Tur ‘DETOX’ Eropa
Musik

Sehari Bareng ONE OK ROCK di Tur ‘DETOX’ Eropa

Intip eksklusif keseharian band di jalan saat show Berlin dalam rangkaian tur Eropa ‘DETOX’.

Mengupas Kolaborasi Perdana Kiko Kostadinov x Crocs dari Dekat
Footwear

Mengupas Kolaborasi Perdana Kiko Kostadinov x Crocs dari Dekat

Perpaduan ketangguhan sepatu hiking dengan estetika sneaker yang stylish.

Mengintip Lebih Dekat _J.L‑A.L x PUMA CELL Geo-1 Terbaru
Footwear

Mengintip Lebih Dekat _J.L‑A.L x PUMA CELL Geo-1 Terbaru

Dilengkapi upper bermotif sarang lebah yang mencolok dan konstruksi slip-on yang ramping.

Maison Mihara Yasuhiro FW26 Menemukan Kejernihan dalam “Eternal Now”
Fashion

Maison Mihara Yasuhiro FW26 Menemukan Kejernihan dalam “Eternal Now”

Rangkaian busana memadukan kerapuhan dan ketangguhan lewat distorsi dan ketidakteraturan yang terencana.

Glass Cypress Membuka “Quiet Frontier” untuk FW26
Fashion

Glass Cypress Membuka “Quiet Frontier” untuk FW26

Di tengah hiruk-pikuk tren, koleksi ini menghadirkan lanskap tenang berisi tekstur smocking dan ketegangan fungsional yang terinspirasi dari Jackson Hole.


Intip Lebih Dekat Post Archive Faction x On Cloudsoma
Footwear

Intip Lebih Dekat Post Archive Faction x On Cloudsoma

Diperkirakan rilis pada bulan Juli.

'Dragon Ball Super' Umumkan Dua Proyek Besar Menyambut Ulang Tahun ke-40 Franchise
Hiburan

'Dragon Ball Super' Umumkan Dua Proyek Besar Menyambut Ulang Tahun ke-40 Franchise

Menampilkan rekonstruksi total arc ‘Beerus’ dan sekuel “Galactic Patrol” yang sudah lama dinantikan.

Kiko Kostadinov FW26 Menswear Menggali “Systemized Intuition” dengan Tailoring Futuristik
Fashion

Kiko Kostadinov FW26 Menswear Menggali “Systemized Intuition” dengan Tailoring Futuristik

Palet earth tone lembut dengan sentuhan metalik menyeimbangkan kesan tertahan dan eksperimental.

Nike Zoom Vomero 5 “Blue Void” Tampil Tangguh dengan Closed Mesh yang Lebih Awet
Footwear

Nike Zoom Vomero 5 “Blue Void” Tampil Tangguh dengan Closed Mesh yang Lebih Awet

Upgrade siap musim dingin dengan material ekstra kuat untuk pelari.

Kith Treats Rayakan Year of the Horse dengan Koleksi Spesial Lunar New Year
Fashion

Kith Treats Rayakan Year of the Horse dengan Koleksi Spesial Lunar New Year

Rilisan meriah berisi apparel, set Mahjong, dan dessert edisi khusus.

More ▾