Sepatu Lari Bertenaga Listrik Nike: Gimmick atau Revolusioner?
Kami menguji langsung prototipe inovatif Project Amplify untuk mencari jawabannya.
Nike tumbuh menjadi imperium sportswear global berkat komitmennya pada dua hal utama: atlet dan inovasi. Tahun lalu, menyusul perubahan kepemimpinan, merek ini menata ulang pendekatannya untuk menekankan elemen inti bisnis tersebut. Setelah bertahun-tahun melakukan pembaruan produk yang bersifat bertahap dan menghadapi kompetisi kian ketat dari para pendatang baru yang lincah, fokus baru Nike pada inovasi mendalam menandai kembalinya semangat berani mengambil risiko yang dulu membangun imperiumnya. Pekan lalu, sedikit lebih dari setahun setelah pergeseran ini, sebuah pengumuman spesial hadir memperkenalkan NIKE, Inc. Sport Offense.
Platform baru ini menyatukan tim inovasi, desain, dan produk dari Nike, Jordan Brand, dan Converse. Dengan mengonsolidasikan riset dan pengembangan (R&D) performa di bawah satu atap, Sport Offense menghapus silo antarmerek dan memungkinkan pembuatan prototipe yang lebih cepat, berbagi teknologi, serta ruang bereksperimen kreatif yang lebih luas di seluruh ekosistem Nike. Selain meresmikan NIKE, Inc. Sport Offense, Swoosh juga mengumumkan empat pilar inovasi perdana divisi tersebut.
Di antara terobosannya, Project Amplify adalah yang paling ambisius. Dirancang sebagai sistem alas kaki bertenaga listrik pertama di dunia untuk berlari dan berjalan, Nike mengambil langkah berani ke depan. Alih-alih mengejar metrik performa elite, Project Amplify mengeksplorasi bagaimana robotika dapat memperpanjang daya tahan manusia — bukan untuk memenangkan lomba, melainkan untuk mendefinisikan ulang seperti apa rasanya gerak sehari-hari dan apa yang bisa dicapai.
Saat menimbang apakah sebuah inovasi sekadar gimmick atau benar-benar revolusioner, pada akhirnya yang menentukan adalah kepraktisan. Kita pernah melihat Swoosh menempuh perjalanan serupa Project Amplify, lewat proyek seperti lini Adapt dan sepatu pemulihan Hyperice tahun lalu yang mengintegrasikan elektronik ke dalam alas kaki. Meski terlalu dini untuk menyatakan dampak yang terakhir, pensiunnya lini Adapt sudah berbicara banyak soal efektivitasnya.
Saat pertama kali melihat Project Amplify, pertanyaan awal yang terlintas di kepala saya adalah, “Mengapa?” Siaran persnya mencatat bahwa sepeda listrik merevolusi perjalanan harian dengan memangkas drastis upaya yang dibutuhkan untuk berpindah tempat. Berdasarkan pengujian internal, sistem ini juga bisa membantu pelari beralih dari pace 12 menit per mil menjadi 10 menit per mil. Namun, ada catatan yang menyertai capaian tersebut—yang tak akan luput dari perhatian para atlet—menjadikan teknologi ini tambahan yang seru, tapi bukan sesuatu yang mengikat mereka pada kerasnya rutinitas sebagai pelari.
Untuk menelisik potensinya, kami bekerja sama dengan Nike untuk menguji teknologi ini. Sistem elektronik yang dapat dilepas-pasang dipadukan dengan sepatu lari berpelat serat karbon. Saat mengenakannya, kenyamanannya setara dengan sepatu lari Nike lainnya. Lalu, tim produk mendemonstrasikan betapa mudahnya memasang sistem penopang elektronik, mengaitkan tumit ke harness magnetis, mengencangkan tab oranye pada tulang kering, dan menyalakan perangkat.
Begitu semua terpasang, rekan saya bilang rasanya bak Iron Man. Saat itu pula perangkat dipasangkan dengan Aplikasi AMP, yang mengalibrasi fit dan menyesuaikan diri untuk memastikan dukungan yang tepat. Setelah membiasakan diri dengan teknologinya sambil berjalan, barulah saat berlari amplifikasi sesungguhnya mulai terasa.
Project Amplify masih berada pada tahap pengujian; namun, kemampuannya memberi dorongan pada gerak sudah mengesankan. Sensasinya mirip seperti berpijak di tangan seseorang untuk mendapat dorongan, seolah ada tenaga yang mendorong tumit ke depan. Prototipe ini membuat salah satu penguji merasa bisa menyamai teman-teman pelari maratonnya, dan menandai medan berbukit sebagai skenario penggunaan ideal. Meski eksperimen ini menawarkan eksplorasi menjanjikan atas kapabilitas teknologi tersebut, ia memunculkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban — sebuah keniscayaan pada tahap pengembangan ini.
Yang tidak diulas Nike secara rinci adalah bagaimana Project Amplify bisa membuat pergerakan lebih mudah diakses. Entah untuk membantu rehabilitasi cedera atau memberi dukungan mobilitas bagi penyandang disabilitas fisik, potensinya jelas. Terobosan sebelumnya, seperti lini FlyEase — desain alas kaki yang mudah digunakan, termasuk sistem masuk tanpa tangan — telah memberi dampak signifikan dan bisa dipadukan dengan wujud Project Amplify di masa depan untuk dukungan yang lebih besar lagi.
Apakah Project Amplify saat ini sekadar gimmick? Tentu. Namun, setiap inovasi di fase awal hampir pasti mendapat label demikian. Rasa ingin tahu ini krusial untuk melahirkan terobosan revolusioner, dan bukan tidak mungkin inilah cikal bakal perubahan bermakna bagi industri alas kaki. Entah perubahan itu berupa peningkatan kemampuan ala video game untuk melesat mengitari kota, lahirnya generasi baru alas kaki yang lebih aksesibel, atau sesuatu yang sama sekali baru — semuanya masih menunggu pembuktian. Apa pun takdirnya, keberanian mengejar yang tak diketahui ini layak diapresiasi.
Lihat postingan ini di Instagram



















