Makna Besar Kemenangan Aiguille d’Or Pertama Breguet Setelah Lebih dari Satu Dekade

Hypebeast mengajak para teman dan pakar untuk berbagi pandangan mereka.

Jam Tangan
2.9K 0 Komentar
Simpan

Grand Prix d’Horlogerie de Genève (GPHG), yang kerap dijuluki Oscars‑nya industri jam tangan, menjadi barometer utama setiap tahun untuk mengukur keunggulan di ranah haute horlogerie. Jika memenangkan satu kategori di GPHG saja sudah merupakan kehormatan besar, maka penghargaan puncaknya, Aiguille d’Or (the Golden Hand), adalah validasi tertinggi atas kejayaan kreatif dan teknis sebuah brand. Tahun ini, semua sorotan tertuju pada sebuah Maison bergengsi: Breguet, yang lewat karyanya, Classique Souscription, bukan hanya menggondol penghargaan tertinggi, tetapi seketika memantik satu pertanyaan di benak komunitas kolektor: mungkinkah ini pertanda kebangkitan sejati Breguet?

Bagi sebuah brand yang identik dengan bangsawan dunia horologi—dikreditkan menemukan tourbillon, Breguet overcoil, dan parachute shock absorber—meraih trofi paling diidamkan di GPHG sebetulnya bukan kejutan. Namun kemenangan 2025 ini punya bobot makna yang jauh lebih besar. Meski Breguet kini mengantongi enam kemenangan GPHG sepanjang sejarahnya, Aiguille d’Or sempat menjauh lebih dari satu dekade—terakhir diraih pada 2014 lewat Breguet Classique Chronométrie. Kemenangan terbaru ini memutus masa paceklik tersebut, menghadirkan trofi monumental tepat saat sang brand tengah melakukan pivot strategis penting di bawah kepemimpinan baru.

“Rilis baru bulanan yang dimulai dari Souscription telah kembali memantik minat komunitas kolektor terhadap brand ini… memenangkan Aiguille d’Or terasa seperti ceri sempurna di atas kue ulang tahun ke‑250 Breguet.” – Helbert Tsang

Breguet selalu memegang respek mendalam di kalangan pembuat jam dan kolektor kawakan; signifikansinya terukir jelas dalam fondasi horologi modern. Namun beberapa tahun terakhir, brand ini kerap kesulitan menerjemahkan bobot sejarah tersebut menjadi daya tarik bagi demografis yang lebih muda dan lebih luas—sering kali tersisih oleh kompetitor dengan branding lebih agresif dan arsitektur produk yang lebih inovatif. Pertanyaannya, apakah kemenangan GPHG yang menggemparkan ini sekadar momen trofi, atau benar‑benar menandai awal sebuah comeback penting yang berkelanjutan di tengah lanskap yang kian kompetitif?

Bagi banyak orang, momentum ini mulai terbangun jauh sebelum malam penganugerahan GPHG. Helbert Tsang, Co‑Founder dariThe Horology Club, mengaku sejak awal optimistis menantikan langkah‑langkah terbaru brand tersebut. “Sejak [Gregory] Kissling bergabung sebagai CEO baru, saya sudah berharap akan ada momentum segar di balik brand bersejarah ini,” ujar Tsang. Breguet menjawab ekspektasi itu dengan menandai ulang tahun ke‑250 mereka lewat sebuah koleksi perayaan. “Rilis bulanan yang dimulai dari Souscription telah memantik minat baru terhadap brand ini di kalangan kolektor, dan kemenangan Aiguille d’Or terasa benar‑benar seperti ceri sempurna di atas kue ulang tahun ke‑250 yang begitu layak mereka dapatkan.”

“Saya percaya brand ini kini mantap kembali ke jalur yang semestinya—merebut kembali legacy‑nya sebagai mantan pemimpin industri jam, penemu visioner, dan sumber inspirasi sejati bagi para pembuat jam independen.” – Oliver Tong

Karakter jam pemenang ini sendiri tak kalah menggugah, karena ia adalah sebuah masterclass tentang keanggunan yang tertahan, bukan demonstrasi teknologi berlebihan. Oliver Tong, Co‑Founder dariHoroverse, melihat hal ini sebagai indikator krusial bahwa strategi brand mulai kembali ke bentuk terbaiknya. “Saya percaya brand ini kini mantap kembali ke jalur yang semestinya—merebut kembali legacy‑nya sebagai mantan pemimpin industri jam, penemu visioner, dan sumber inspirasi sejati bagi para pembuat jam independen,” ujar Tong. Menurutnya, kemenangan ini melegitimasi sebuah pergeseran mendasar: “Sangat menggembirakan melihat Aiguille d’Or memberikan pengakuan pada sesuatu yang lebih tertahan dan halus, yang merayakan fundamental horologi alih‑alih sekadar kelebihan teknis.” Dengan menonjolkan presisi, keanggunan, dan desain yang tak lekang waktu, Breguet tengah menghormati fondasi haute horlogerie yang dahulu diletakkan Abraham‑Louis Breguet sendiri.

Fokus baru pada nilai‑nilai inti ini bisa menjadi kunci untuk membuka daya tarik yang lebih luas. Meski Breguet kerap dikritik karena “desain yang ketinggalan zaman” dan dianggap kurang menggairahkan, solusinya bukan revolusi total, melainkan modernisasi yang cermat. Watch journalist dan kontributorWorn & Wound Bhanu ChopraBhanu Chopra

memandang penghargaan ini sebagai peluang krusial: “Kembalinya Breguet ke lingkaran juara bisa lebih dari sekadar momen trofi; ini bisa menjadi tombol reset bagi persepsi publik.” Namun ia mengingatkan, “satu penghargaan saja tidak akan serta‑merta mengubah desain Breguet yang ketinggalan zaman, minim excitement, dan nilai jual kembali yang terus merosot.” Tantangan Chopra untuk brand ini adalah “bermodernisasi tanpa kehilangan jiwa,” dengan mempertahankan elemen klasik seperti guilloché dial dan case bergigi koin, sambil membungkusnya dalam nuansa yang terasa kontemporer.

Yang tak kalah penting, brand ini harus jauh lebih piawai mengomunikasikan tingkat craftsmanship di balik produknya kepada generasi pembeli baru. “Bagi kolektor muda dan pendatang baru, craft adalah bentuk flex,” tegas Chopra. Artinya, Breguet perlu memanfaatkan sorotan dari kemenangan GPHG untuk merangkul audiens modern—misalnya lewat “film‑film pendek yang menampilkan para artisan mengukir dial secara manual, memperlihatkan regulator yang menyetel overcoil, dan menjelaskan apa yang membuat finishing mereka begitu khas.”

“Seiring pasar bergeser ke arah desain klasik, logam mulia, dan kedalaman horologi yang lebih substansial, rasanya momen Breguet benar‑benar tengah kembali. Apresiasi yang bangkit ini amat pantas, dan terus terang, sudah lama terlambat.” – Tom ChngPerubahan arah pasar jam tangan juga tengah selaras sempurna dengan kekuatan bawaan Breguet.Tom Chng, Founder dari The Singapore Watch Club

, mencatat bahwa meski industri jam bergerak lebih lambat dibanding dunia fashion, ia tetap berevolusi. “Saat saya mulai mengoleksi di era 2010‑an, tool watch bernuansa militer adalah segalanya,” kenang Chng, sambil menguraikan bagaimana pasar kemudian beralih ke steel sports watch. “Kini, rasanya kita telah memasuki era minimalisme klasik.” Ia menyoroti bahwa Breguet berada tepat di sisi tren itu, dalam ranah “klasik yang maksimalis—berakar pada sumber yang sama, namun menawarkan ekspresi yang lebih kaya dan ornamental.”

Bagi para penggemar paling serius, daya pikat Breguet sebenarnya tak pernah benar‑benar hilang; ia hanya kurang tersorot arus utama. Seperti dijelaskan Chng, kondisi ini justru memungkinkan kolektor untuk “diam‑diam mengakuisisi reference luar biasa tanpa banyak sorotan dan dengan value yang sangat masuk akal.” Kini, dengan pasar yang bergerak ke arah desain klasik, logam mulia, dan kedalaman horologi yang lebih murni, Chng menyimpulkan bahwa “rasanya momen Breguet memang sedang kembali. Apresiasi yang bangkit ini sangat layak, dan terus terang, sudah terlambat.”

“Apa yang terjadi selanjutnya akan bergantung pada apakah Breguet mampu memanfaatkan visibilitas dari kemenangan ini untuk benar‑benar melompat ke abad ke‑21, sehingga penghargaan GPHG ini tidak berhenti sebagai sekadar satu momen singkat.” – Bhanu Chopra

Faktanya, brand ini sudah aktif merespons permintaan para kolektor. Tsang menyoroti bahwa koleksi teranyar menghadirkan “pembaruan estetika (seperti Breguet gold dan lebih banyak opsi dial)” serta diperkenalkannya ukuran case baru yang lebih kecil dan lebih mudah dipakai di berbagai ukuran pergelangan. Ini menunjukkan bahwa Breguet benar‑benar mendengar suara audiensnya. Meski banyak rilis baru saat ini masih berbasis movement yang sudah ada, Tsang memperkirakan akan dibutuhkan waktu lebih panjang untuk mengembangkan movement in‑house baru di bawah kepemimpinan Kissling—sebuah catatan optimistis yang berorientasi ke depan di tengah kesuksesan saat ini.

Baca Artikel Lengkap

Baca Berikutnya

Kenapa Para Purist Begitu Kesal dengan Swatch x AP Royal Pop?
Jam Tangan

Kenapa Para Purist Begitu Kesal dengan Swatch x AP Royal Pop?

5 pakar jam membedah kolaborasi kontroversial yang mengacak-acak dunia horologi.

Breguet Hadirkan Tiga Interpretasi Baru Tradition Seconde Rétrograde
Jam Tangan

Breguet Hadirkan Tiga Interpretasi Baru Tradition Seconde Rétrograde

Kini tampil dengan dial dan finishing modern.

MAEN Gandeng Horoverse Hadirkan Jam Tangan Brooklyn 36 Mahjong Kolaborasi Spesial
Jam Tangan

MAEN Gandeng Horoverse Hadirkan Jam Tangan Brooklyn 36 Mahjong Kolaborasi Spesial

Setiap edisi terbatas hadir dengan satu keping Mahjong buatan tangan dari perajin.


Panerai Sambut America’s Cup ke-38 dengan Dua Jam Tangan Luminor Luna Rossa Baru
Jam Tangan

Panerai Sambut America’s Cup ke-38 dengan Dua Jam Tangan Luminor Luna Rossa Baru

Sponsor resmi tim layar Luna Rossa menghadirkan Chrono berperforma tinggi dan GMT serbaguna jelang kompetisi 2027 di Naples.

ESENES Worldwide Rilis Clogs Katak Nyentrik
Footwear

ESENES Worldwide Rilis Clogs Katak Nyentrik

Dibalut cangkang hijau terinspirasi makhluk amfibi dengan detail mata 3D yang mencolok.

Prekuel 'Game of Thrones' Berjudul 'Knight of the Seven Kingdoms' Resmi Diperbarui ke Season 2 Jelang Tayangnya Season 1
Hiburan

Prekuel 'Game of Thrones' Berjudul 'Knight of the Seven Kingdoms' Resmi Diperbarui ke Season 2 Jelang Tayangnya Season 1

HBO memasang taruhan besar pada petualangan The Hedge Knight.

The Grinch Gandeng McDonald’s Hadirkan Kolaborasi Spesial “Holiday Meal” Kejutan
Kuliner

The Grinch Gandeng McDonald’s Hadirkan Kolaborasi Spesial “Holiday Meal” Kejutan

Setiap paket menu dilengkapi sepasang kaus kaki festive bertema Grinch.

Tur “After Hours Til Dawn” The Weeknd Resmi Jadi Tur Solo Artis Pria Berpendapatan Tertinggi
Musik

Tur “After Hours Til Dawn” The Weeknd Resmi Jadi Tur Solo Artis Pria Berpendapatan Tertinggi

Tur ini sudah meraup lebih dari $1 miliar USD dan menjual lebih dari 7,5 juta tiket.

Dallas Cowboys Gandeng Billionaire Boys Club Luncurkan Koleksi Starfield
Fashion

Dallas Cowboys Gandeng Billionaire Boys Club Luncurkan Koleksi Starfield

Kolaborasi gaya cowboy dan American football khas Dallas Cowboys dengan sentuhan streetwear mewah ala Billionaire Boys Club.

X+Living Hadirkan ‘Kuil’ Bayangan dan Kisah untuk Toko Buku Zhongshuge di Tianjin
Desain

X+Living Hadirkan ‘Kuil’ Bayangan dan Kisah untuk Toko Buku Zhongshuge di Tianjin

Garis-garis ortogonal dan struktur bertingkat mengubah ruang menjadi perjalanan visual penuh kejutan.


Joyland Sessions Pastikan Experience Musik Tingkat Tinggi, Meski Skalanya Lebih Kecil
Hiburan

Joyland Sessions Pastikan Experience Musik Tingkat Tinggi, Meski Skalanya Lebih Kecil

Meski berbeda dari Joyland Festival, program baru ini tetap dijalankan dengan kualitas produksi tinggi.

Mekanik Jadi Bintang Utama di Bell & Ross BR-X3 Tourbillon Micro-Rotor
Jam Tangan

Mekanik Jadi Bintang Utama di Bell & Ross BR-X3 Tourbillon Micro-Rotor

Dibungkus dalam casing kotak transparan dari baja dan safir.

Gaya Stealth: Leica Q3 Monochrom Rilis Tanpa Red Dot Ikonis
Tech & Gadgets

Gaya Stealth: Leica Q3 Monochrom Rilis Tanpa Red Dot Ikonis

Kamera mirrorless full-frame terbaru ini dikhususkan sepenuhnya untuk fotografi hitam-putih.

Album Kolaborasi DJ Premier dan Nas Resmi Dapat Tanggal Rilis
Musik

Album Kolaborasi DJ Premier dan Nas Resmi Dapat Tanggal Rilis

Kabar ini sudah dikonfirmasi langsung oleh Preemo.

Nike Kobe 8 Protro "Mambacurial" Comeback Tahun Depan
Footwear

Nike Kobe 8 Protro "Mambacurial" Comeback Tahun Depan

Diperkirakan rilis musim gugur tahun depan.

Minimalisme Bersua Puisi Kosmik dalam H. Moser Streamliner Perpetual Moon Concept Meteorite
Jam Tangan

Minimalisme Bersua Puisi Kosmik dalam H. Moser Streamliner Perpetual Moon Concept Meteorite

Menonjolkan dial meteorit Gibeon berlapis efek fumé dramatis.

More ▾