Diperkenalkan di Geneva Watch Days, merek asal Inggris ini mengecilkan model berinspirasikan jam lapangan untuk tampilan yang lebih rapi dan formal.
Dari casing organik, jarum, batang pegas, hingga jembatan mesin, merek jam tangan independen ini tetap teguh menggunakan konstruksi emas murni tanpa kompromi.
Lima puluh tahun setelah model orisinalnya debut, kronograf baru ini memadukan warisan balap vintage dengan material berperforma modern.
Terinspirasi budaya mobil “young-timer” era 1970-an, jenama jam tangan Jepang ini memperkenalkan Prospex Heritage Motoring Countdown Speedtimer dalam warna Powder Blue dan Petrol Blue.
Mesin jam mekanis manual ini menampilkan jembatan berbentuk angka Romawi seolah melayang di dalam case, ditemani model otomatis dengan dial burgundi bergradasi.
Terbatas hanya 30 unit di seluruh dunia, rilisan 40 mm ini menghadirkan mesin openwork berarsitektur yang dibalut warna biru pekat.
Menjelajahi laut, darat, dan langit, koleksi ini menghidupkan fauna melalui sulaman emas, kaca pahatan, marquetry kayu 3D, seni bulu, dan kreasi mikro dari kertas.
Dengan 50 jam penyelesaian akhir manual untuk setiap arloji, grand complication bergaya sport-chic ini tetap menjadi koleksi ultra-langka.
Dari Daytona “Ice Gradient” milik Drake hingga RM056 safir Jay-Z, Patek Philippe ukir tangan Kevin Hart, dan lainnya.
Dial yang terinspirasi anggrek nasional Singapura menerangi balapan malam.
Diluncurkan bersamaan dengan jam Atmos Régulateur Enamel “Colibris”.
Merayakan 160 tahun sejarah pencatatan waktu, edisi terbatas 100 unit ini menjembatani asal-usul abad ke-19 dengan horologi modern.