Mengutamakan siluet, warna, dan gerak jatuh kain, alih-alih pendekatan teatrikal pendahulunya.
Menggabungkan energi bold khas Brasil dengan ekspresi personal untuk meramaikan musim turnamen panas 2026.
Menggabungkan DNA Nike Mercurial 1998 dan siluet Pegasus dalam satu sneaker kulit bergaya sleek untuk gaya hidup sehari-hari.
Label besutan nanamica ini terus mengasah identitasnya sendiri: estetika bernuansa urban yang santai, tapi tetap berakar pada performa tinggi.
Akuisisi atelier berusia 188 tahun ini kian menguatkan spekulasi fokus baru Chanel pada menswear, dipimpin para duta pria seperti Jacob Elordi dan A$AP Rocky.
Nge-upgrade rotasi sandal musim panas dengan kustomisasi langsung di tempat dan palet warna terinspirasi football.
Label lari asal Swedia ini secara eksklusif menghadirkan koleksi “perangkat teknis yang nggak selalu kelihatan teknis, plus pakaian yang bisa kamu pakai keluar rumah sebelum lari dan tetap pengin kamu pakai lama setelah larinya selesai.”
Membawa energi Brasil yang super meriah ke Los Angeles, para penggila bola pulang bukan cuma dengan sandal personalisasi, tapi juga pengalaman tak terlupakan yang terinspirasi dari budaya penuh warna negeri tersebut.
Sub-label hemat dari jejak Virgil Abloh dengan koleksi t-shirt, jaket, dan sneakers di bawah $200 USD.
Drop eksklusif Asia dengan tiga desain kacamata berlogo menyamping dan frame titanium.
Brand sandal asal Brasil ini merayakan dukungan untuk tim negaranya lewat pesta bertema sepak bola, dipadati lautan fans berbaju kuning-hijau dan sandal jepit yang baru saja dipersonalisasi.
Menampilkan versi terbaru Paris Trainer, Dakar Loafer, dan Julien Slipper dalam kulit, suede, dan ponyhair, lengkap dengan rangkaian apparel yang menyempurnakan koleksi.