Draymond Green Buka Peluang Jadi Pelatih Usai Pensiun dari NBA
Forward veteran Warriors ini menimbang hidup di bangku pelatih versus karier medianya, sambil mencari cara terbaik mewariskan kecerdasan defensifnya ke generasi berikutnya.
Ringkasan
- Draymond Green kini mulai melunak soal dunia kepelatihan, secara terbuka mengakui bahwa memimpin tim dari pinggir lapangan kini benar-benar ia pertimbangkan sebagai opsi karier setelah pensiun.
- Forward andalan Golden State Warriors berusia 35 tahun itu memandang profesi pelatih sebagai cara untuk mewariskan kecerdasan defensifnya dan menjaga pengetahuan hasil jerih payahnya tetap hidup bagi generasi berikutnya.
- Meski di musim ke-14 masih produktif di hampir semua kategori statistik, Green mulai menimbang apakah bab berikutnya akan ia jalani di lapangan, di depan kamera, atau di tengah huddle bersama tim.
Perubahan arah Green menuju dunia kepelatihan menyentuh tepat di titik narasi dinasti Golden State hari ini. Pemilik empat cincin juara dan mantan Defensive Player of the Year itu selalu menjadi termostat emosi sekaligus otak strategi di lapangan untuk Warriors, sosok yang mengatur skema pertahanan, menjadi “quarterback” lini belakang, dan menyeret tempo permainan masuk ke dalam kekacauan versinya sendiri. Kini, ketika ia mendekati akhir usia 30-an dan rumor trade mengitari inti tim yang menua, ia akhirnya mengakui bahwa hidup setelah gantung sepatu mungkin tetap akan sangat mirip dengan bola basket—hanya dari sudut pandang berbeda di bangku cadangan.
Perubahan ini bukan soal mengganti kulit sepenuhnya, melainkan soal merawat dan mengelola warisan. Green masih membukukan angka all-around yang solid musim ini sambil menyeimbangkan jejaknya di media dengan tanggung jawabnya di ruang ganti Steve Kerr. Namun ia kian sering bertanya-tanya, apa yang terjadi pada lebih dari satu dekade “intel” basket ketika kaki tak lagi sekuat dulu, dan apakah ia berkewajiban mengubah semua itu menjadi playbook alih-alih monolog di podcast. Bagi pemain yang dulu spontan menolak kerasnya ritme kehidupan pelatih, membuka pintu itu meski hanya sedikit terasa seperti plot twist klasik di penghujung karier: dirigen pertahanan paling vokal di liga yang perlahan mulai hangat pada ide menjadi sosok yang justru menggambar skema permainan “serang dulu, bertahan belakangan” untuk generasi bintang berikutnya.



















