The Cottons: Bangkit, Originalitas, dan Harapan
Proses Menemukan Semangat dan Bentuk Baru dalam Bermusik
The Cottons: Bangkit, Originalitas, dan Harapan
Proses Menemukan Semangat dan Bentuk Baru dalam Bermusik
Mungkin nama The Cottons jadi musisi yang paling gampang terlintas sepanjang tahun 2024-2025 ini. Duo Kaneko dan Yehezkiel Tambun ini awalnya memulai project musik mereka kira-kira di delapan tahun lalu namun karena kesibukan masing-masing, The Cottons sempat tertidur begitu saja. Entah motivasi apa yang terlintas di mereka, duo ini kemudian menemukan semangat dan bentuk baru yang membuat The Cottons kembali muncul dengan originalitasnya.
EP berjudul “Harapan” kemudian lahir pada tahun lalu dan membuat nama mereka semakin dikenal orang-orang. Konon mereka sering dikatakan sebagai musisi mitos yang akhirnya muncul kembali ke atas permukaan. Kalau kalian dengerin The Cottons hari ini, kalian bakal nemuin suara yang hangat, jujur, dan somehow terasa familiar—kayak nyalain radio tua yang masih nyala di tengah kamar kosong.
Di volume pertama The Original Collective, kita duduk bareng The Cottons buat ngobrolin banyak hal—dari trilogi “Harapan” yang kerasa kayak personal journal, sampai bagaimana mereka menjaga keaslian di era yang serba FYP dan algoritma. Mereka juga cerita soal proses kreatif yang nggak pernah bisa dipisah dari kehidupan personal, referensi musik dari masa lalu yang mereka racik ulang jadi sesuatu yang tetap relevan, dan cara mereka ngeliat skena indie Jakarta yang terus berubah tapi tetap punya nyawa.
This is a story about staying true, being soft but loud, and embracing honesty as the only way forward. Let’s talk originals, let’s talk The Cottons.
Hypebeast (HB): Hi guys! Sebelum ada The Cottons, kalian tuh siapa sih musically? Apa yang akhirnya bikin kalian ngerasa, “kayaknya udah waktunya bikin project bareng”?
The Cottons (TC): Sebelum ada The Cottons, kami berdua memang sudah lebih dulu tergabung dalam sebuah band. Tapi karena kesibukan masing-masing dari para personel lainnya, akhirnya kami memutuskan untuk bikin The Cottons. Hasrat untuk main musiknya masih ada.
“Always deliver something. Scene independent akan selalu dikenal sebagai sesuatu yang impresif. Terdengar inovatif dan kreatif. Namun tanpa menyentuh pendengar, semua itu akan sia-sia..” – The Cottons
HB: “Harapan” tuh ibarat kata kayak personal journal—vulnerable, layered, dan super humane. Waktu ngebangun trilogi ini, kalian lagi ada di headspace kayak gimana?
TC: Memang persis seperti yang digambarkan seperti di trilogi Harapan—banyak momen-momen yang memang membuat kami berdua sedang sangat low. Bahkan sampai sekarang pun, kami tetap mencari “Pt.3” dari kehidupan kami secara pribadi.
HB: Sound kalian sering kerasa kayak bentuk rebellion yang chill—nostalgic tapi nggak stuck di masa lalu. Emang diarahin ke situ, atau emang ngalirnya gitu aja?
TC: Kebetulan memang kami lebih banyak mendengarkan musik dari masa lalu. Tapi hal itu tidak membatasi kami dalam berkarya. Secara mixing dan sound, banyak referensi-referensi yang justru kami ambil dari musik yang bisa dibilang modern.
HB: Kalian partner in life dan di musik juga—gimana cara ngebedain proses kreatif dan personal life? Atau emang udah selalu nyatu dari awal?
TC: Sejujurnya sampai sekarang pun kami masih berusaha menemukan ritme yang pas dalam hal musik dan juga personal life. Tapi sejauh ini, bisa dibilang membedakan 2 hal tersebut adalah hal yang mustahil untuk dilakukan untuk kami. Apakah tidak terdengar aneh saat bermain musik kami tidak membicarakan personal life dan juga sebaliknya? Bagi kami, menemukan ritme yang pas adalah kuncinya.
“Penting untuk membangun style pribadi kami, terutama saat di panggung as The Cottons. Tapi, kami bukan tipe orang yang harus mengikuti tren fashion terkini. Yang penting nyaman dan sesuai dengan kepribadian kami.” – The Cottons
HB: Originalitas tuh tricky banget di era algoritma. Gimana caranya tetap grounded sama identitas kalian sebagai musisi, tanpa gampang ke-drag tren?
TC: There is nothing new under the sun—semua yang kami hasilkan adalah luapan ekspresi dari semua musik yang kami dengarkan. Namun, menurut kami yang paling penting dalam berkarya adalah kejujuran. Saat tujuan utama dari berkarya adalah untuk meniru karya lain, disitu kita tidak akan terdengar Original. Ekspresi kejujuran dari dalam diri saat menciptakan karya lah yang menjadi pembeda.
HB: Style kalian tuh keliatan banget: nggak flashy tapi detail. Seberapa penting sih fashion buat kalian—baik di panggung maupun sehari-hari?
TC: Penting nggak penting, sih. Yang pasti fashion itu kan bagian dari kehidupan sehari-hari. Penting untuk membangun style pribadi kami, terutama saat di panggung as The Cottons. Tapi, kami bukan tipe orang yang harus mengikuti tren fashion terkini. Yang penting nyaman dan sesuai dengan kepribadian kami.
“Memang persis seperti yang digambarkan seperti di trilogi Harapan—banyak momen-momen yang memang membuat kami berdua sedang sangat low. Bahkan sampai sekarang pun, kami tetap mencari “Pt.3” dari kehidupan kami secara pribadi.” – The Cottons
HB: Kalian udah cukup lama lihat perkembangan scene indie di Jakarta. Apa satu hal yang menurut kalian jangan sampe berubah, dan satu hal yang scene ini masih butuh banget?
TC: Always deliver something. Scene independent akan selalu dikenal sebagai sesuatu yang impresif. Terdengar inovatif dan kreatif. Namun tanpa menyentuh pendengar, semua itu akan sia-sia. Itu semua juga yang kami rasakan saat mendengar musik independen yang menjadi cetak biru kami dalam bermusik—begitu megah tapi juga berani. Betul-betul merepresentasikan jati diri kami sebagai anak muda.



















