Global Ambassador terbaru ini mengenang memori pertamanya tentang jam tangan, menguasai “pose jam tangan” di karpet merah, dan menemukan keahlian yang bersahaja dalam horologi Swiss.
Gelang baja tahan karat tiga tautannya menggunakan sistem ZENCLASP terbaru demi keamanan maksimal.
Dari kolaborasi mesin jam bersama Vianney Halter hingga kamuflase berukir laser, Maison ini terus mendorong batas estetika pembuatan jam modern.
Pod ABZORB SBS dan cetakan bergelombang menjadi fondasi siluet yang dikampanyekan Coco Gauff dan Aminé.
Terinspirasi dari malam di Liwa, rumah parfum ini membotolkan sensualitas hangat pasir gurun yang begitu nyata saat disentuh.
Diperkenalkan di Geneva Watch Days, merek asal Inggris ini mengecilkan model berinspirasikan jam lapangan untuk tampilan yang lebih rapi dan formal.
Hadir dalam pilihan warna Biru, Kuning, dan Hitam.
Dari casing organik, jarum, batang pegas, hingga jembatan mesin, merek jam tangan independen ini tetap teguh menggunakan konstruksi emas murni tanpa kompromi.
Mulai dari ransel ELVO yang dapat mengembang, tas-vest RENO berkerudung, sling PO S berpilin ala origami, hingga aksesori lainnya.
Mengganti mesh dengan nilon dan nubuck, label Jepang ini menghadirkan kecanggihan yang subtil pada sepatu lari trek era 2000-an.
Lima puluh tahun setelah model orisinalnya debut, kronograf baru ini memadukan warisan balap vintage dengan material berperforma modern.
Terinspirasi budaya mobil “young-timer” era 1970-an, jenama jam tangan Jepang ini memperkenalkan Prospex Heritage Motoring Countdown Speedtimer dalam warna Powder Blue dan Petrol Blue.