Ngobrol bareng Prime Time soal Vintage Culture, Trend, dan Apresiasi Publik Saat Ini

Serta koleksi-koleksi favorit mereka.

Fashion

Culture barang vintage sudah menjadi bagian dari industri fashion sejak dulu karena nggak hanya memiliki cerita dari setiap piece-nya, tapi juga sebagai referensi untuk brand dan para desainer dalam berkarya sehingga menjadikan nilainya terus naik seiring bertambahnya waktu. Salah satu hal paling menarik dari toko vintage yang menjual T-shirt, sneakers, denim, hingga aksesoris lainnya adalah setiap toko memiliki cerita, karakteristik, hingga koleksi yang menjadi daya tarik tersendiri yang bisa kita lihat di beberapa kota seperti Tokyo, Bangkok, LA, Melbourne dan lainnya.

Barang vintage selalu memiliki cerita tersendiri bagi pemilik asli dan penjualnya dan akan menjadi cerita baru buat pemilik selanjutnya. Kali ini, kita ngobrol dengan empat sosok di balik toko Prime Time Jakarta, Eric, Dhika, Ryan, dan Hans yang punya background dan interest berbeda terhadap barang vintage. Prime Time sendiri adalah salah satu toko vintage yang memiliki koleksi barang-barang langka terbaik di ibukota. Lewat obrolan ini, kita bakal membahas awal mula didirikannya Prime Time, koleksi pribadi, hingga pendapat mereka tentang tren vintage yang sedang naik saat ini.


HB: Boleh ceritain gimana awal terbentuknya Prime Time? 

Eric: Gue pertama kenalan sama Dhika lewat Instagram. Kita masing-masing suka post foto barang dari-koleksi kita, dan ternyata selera dan passion kita untuk baju dan sepatu itu mirip. Lama-lama kita jadi sering ngobrol lewat Instagram walaupun nggak pernah ketemuan. Pas gue mau lulus kuliah di San Francisco tahun 2018, gue cerita ke Dhika nanti balik ke Indonesia dan berencana mau bikin toko sepatu dan baju vintage sama Hans dan Ryan. Kebetulan, Dhika juga lagi mau bikin toko dan galeri sepatu. Dari situ dia nanya, mau nggak kita partneran aja bikin toko. Mulainya begitu dan akhirnya kita berempat buka Primetime di tahun 2019.

HB: Mungkin salah satu faktor paling penting menjalankan sebuah vintage streetwear store adalah dari segi kurasi. Dari segitu banyaknya barang yang kalian punya, apa aja faktor yang kalian lihat dari suatu barang sampai beneran dijual di Prime Time?

Eric: Sebelum kita buka dan jualan, kita mulai ngumpulin barang yang sesuai selera kita masing-masing aja. Tapi pastinya, barang yang kita suka belum tentu orang lain mau beli. Setelah sekian waktu, kita mulai mengerti selera customer base kita dan kita kurasi buat mereka. Aspek seperti warna, ukuran, kondisi, genre baju, dan kisaran harga sangat mempengaruhi pilihan kita untuk memilih barang.

HB: Dengan banyaknya barang yang dijual di sini dan rata-rata juga langka, styling berperan sangat penting. Kalian punya tips khusus buat orang-orang yang hunting di sini nggak? Biar mereka nggak salah beli dan nggak salah make barangnya juga.

Eric: Kalo menurut gue, styling di dunia kaos vintage itu yang paling penting adalah “self-expression“. Enaknya vintage tuh genre kaos jadi luas banget. Jadi apapun yang lo suka pasti ada kaos yang “speaks to you.” Kalo lo sukanya Nirvana ya pake kaos Nirvana, kalo sukanya Akira ya pake kaos Akira, kalo suka gambarnya doang atau kata-kata yang ada di kaos juga nggak masalah. Yang salah adalah kalau lo asal ikutan orang lain, atau ikutan beli barang yang lagi di “goreng-goreng.”

“Asumsi yang banyak orang masih sering nggak paham itu adalah pada kata “thrifting.” Orang berpikir vintage dan thrifting itu the same thing. Orang pikir vintage itu asal beli murah, jual mahal. Memang vintage itu lagi naik dari segi profit, tapi untuk kita, awalnya vintage itu bermula dari story sebuah kaos atau barang.”

HB: Oke, pertanyaan soal personal taste nih. Barang apa aja yang menarik buat kalian? Sneakers? Vintage Rap tees? Atau toys?

Eric: Kalo gue interest-nya di sneakers sama kebanyakan kaos-kaos band. Gue juga suka kaos-kaos vintage yang ada graphic keren yang inspirasional dan bisa dipake sebagai referensi karya.

Ryan: Gue lebih seneng sama koleksi kaos dan sneakers sih, terutama kaos bootleg dan sneaker Jordan/Nike dari tahun 80an sampai early 00’s. Menurut gua kaos bootleg itu paling keren. Ada banyak Visual artist dari seluruh dunia menggambarkan artis dan sports team favorit mereka dengan cara paling kreatif dalam bentuk kaos. Kaos-kaos bootleg ini biasanya dibuat setelah pencapaian atau penghormatan atas kematian idola-idola mereka; seperti Chicago Bulls menang championship atau saat kematian rapper Tupac Shakur. Dari segi sneakers, gue seneng banget pake 1985 Jordan 1 dan Dunk SB tahun 2000an awal, karena menurut gue tanpa dua model sepatu ini nggak bakal ada yang namanya sneaker culture.

Dhika: Personal taste gue di vintage berasal dari apa aja yang bisa gue relate growing up, mulai dari musik, film dan apapun yang gue demen dari kecil. Kalo sneakers, gue emang demen Nike dan Jordan dari kecil jadi sampai sekarang, jadi ya kebanyakan sepatu yang gue punya adalah Nike, terutama Air Force 1 karena paling gampang dipake dan juga Air Jordan 3 karena itu siluet favorit gue. Buat toys, gue lumayan demen sama koleksi dari jaman kidrobot di mid – late 2000s sampai Dunnys dan fat caps. Sebenarnya sampai sekarang sih tapi toys harga-harga nya sekarang nggak masuk akal haha.

HB: Kalau kita ngomongin vintage, udah pasti barang-barang yang ada di Prime Time punya elemen penting dalam fashion, yaitu ‘Timelessness.’ Menurut kalian, apa yang bikin suatu barang timeless?

Eric: Yang bikin kaos vintage “timeless” itu karena kaos-kaos ini merepresentasikan waktu yang sudah lewat, dan nggak bisa diduplikat dengan kaos-kaos modern ataupun reprint. Misalnya, kaos memorial Tupac yang dibikin tahun 1996, atau kaos Metallica pas konser di Jakarta yang menyebabkan rusuh di tahun 1993. Asli dari tahun dan kejadiannya. Kaos vintage ini bisa menunjukan kembali ke era atau event penting yang ada di dalam pop culture.

Ryan: Vintage is timeless because it already happened, and will only happen once. Jadi untuk lo bisa merasakan kebahagian atau kesedihan dari sebuah kejadian atau momen tertentu itu hanya dari kaos yang dibuat secara spesifik pada waktunya. Some pieces are definitely more timeless because the event or image printed on the t-shirt may be more memorable; seperti kaos promo film favorit lo yang lo bisa pake kapan aja, dibanding kaos Natal yang cuman asik dipakai selama musim Natal.

“Banyak trend yang mati dalam waktu singkat, itu karena mereka hanya mengikuti orang lain to ‘fit in’ dan nggak bener-bener cinta atau punya koneksi dengan trend itu sendiri. Berbeda dengan barang-barang vintage; mau sepatu, jam tangan, mobil, sampai furniture, kalau lo udah deep into it, pasti suatu hari lo bakal turn to vintage-nya, karena semua piece punya ceritanya masing-masing.”

HB: Vintage stuff sebenernya bukan hal yang baru karena udah ada dari dulu dan menjadi bagian dari streetwear atau pun fashion. Tapi bisa dibilang, dalam beberapa tahun terakhir trend ini meroket ke market yang lebih luas lagi. Gimana menurut kalian tentang hal ini? Apakah akan terus berkembang atau justru bakal turun?

Hans: Asumsi yang banyak orang masih sering nggak paham itu adalah pada kata “thrifting.” Orang berpikir vintage dan thrifting itu the same thing. Orang pikir vintage itu asal beli murah, jual mahal. Memang vintage itu lagi naik dari segi profit, tapi untuk kita, awalnya vintage itu bermula dari story sebuah kaos atau barang. Menurut gue ini salah dari market education aja, karena banyak page yang beredar hanya berfokus ke money side-nya vintage, di mana harusnya harus mulai dari story-nya dulu. Memang vintage udah mulai masuk ke mainstream, dan memang berkontribusi ke market boom-nya, sama dengan semua hal yang ngetrend atau ngehype. gue rasa foundation-nya market vintage itu tetap terdiri dari antusiasme orang-orang yang beneran ngikutin. Jadi walaupun trend atau hype-nya udah lewat, vintage akan tetap ada dan akan terus berkembang.

Ryan: Banyak trend yang mati dalam waktu singkat, itu karena mereka hanya mengikuti orang lain to ‘fit in’ dan nggak bener-bener cinta atau punya koneksi dengan trend itu sendiri. Berbeda dengan barang-barang vintage; mau sepatu, jam tangan, mobil, sampai furniture, kalau lo udah deep into it, pasti suatu hari lo bakal turn to vintage-nya, karena semua piece punya ceritanya masing-masing. Nah beberapa tahun terakhir ini market kaos vintage naiknya sangat pesat karena pandemi Covid-19, hal ini terjadi karena mungkin banyak brand streetwear nggak banyak merilis barang dan orang juga banyak free time untuk discover something new yang ujung-ujungnya bikin harga kaos vintage melonjak. Menurut gue ‘trend’ vintage ini tidak ada berhentinya, once you go vintage you can never go back!

HB: Kita bisa sama-sama lihat sendiri barang-barang vintage punya pro dan kontranya sendiri di sini. Menurut kalian gimana cara educate market Indonesia agar bisa lebih appreciate value dan story barang-barang vintage?

Eric: Mungkin untuk edukasi market Indonesia butuh waktu aja sih. Kaos vintage masih hal yang sangat niche dan kebanyakan orang masih belom terbiasa pake baju bekas. Semakin banyak orang yang pake kaos vintage, semakin bisa berkembang sih; terutama celebrity atau orang yang mempunyai cukup banyak influence.

Dhika: Education di Indonesia sedikit susah, karena kebanyakan orang demen ngeliat barang-barang yang dipake orang lain atau figur yang mereka idolakan. Tapi emang benar kata Eric, pasti akan lebih gampang untuk semua orang bisa appreciate barang vintage kalau orang-orang yang mereka yang suka juga melakukan hal yang sama.

HB: Sebutin top 5 T-shirt vintage kalian masing-masing yang kalian punya.

Ryan: 

5. 1989 Thrasher ‘Use A Skate Go To Prison’

4. 2004 N.E.R.D. ‘Fly Or Die’

3. Bootleg Puff Daddy & The Family Tour Rap Tee

2. 90’s Akira All-Over Print

1. 1993 Snoop Dogg ‘Beware Of Dogg’

Eric:

5. 1994 Nirvana Black Incesticde

4. 1986 Grateful Dead Surfing Skeleton

3. 1996 Supreme Red on Black Box Logo

2. 80’s Two Gun Mickey Mouse

1. 1993 Nirvana Heart Shaped Box

Dhika: 

5. 1988 Akira ‘Neo Tokyo Is About To Explode’

4. 1995 Ranma ½

3. 1998 Supreme Eric B & Rakim

2. 1992 Ray Charles

1. 1998 Keith Haring ‘Best Buddies’

Hans:

5. 1997 Wu Tang Clan & Rage Against the Machine Tour

4. 1993 Snoop Dogg “Beware of Dogg”

3. 1996 2Pac Bootleg Memorial

2. 1993 A Tribe Called Quest “Midnight Marauders”

1.1997 Notorious BIG Bootleg Memorial

 

View this post on Instagram

 

A post shared by PRIMETIME JAKARTA ?? (@primetime.jkt)

HB: Sebutin juga top 3 sneakers yang kalian punya masing-masing.

Eric:

3. 2017 Nike Tom Sachs Mars Yard 2.0

2. 2007 Air Max Homegrown ‘Statemag’ F&F Hyperstrike

1. 1985 Nike Dunk ‘Kentucky’ Player Exclusive

Ryan:

3. 1985 Jordan 1 ‘Metallic Blue’

2. 2004 U.N.K.L.E. x Nike SB Dunk High

1. 2002 Supreme x Nike SB Dunk Low ‘Black Cement’

Dhika:

3. 2003 Air Force 1 Vibe

2. 2003 Air Force 1 ‘Courir’

1. 2014 Air Jordan 1 x Fragment

Hans:

3. 2011 Air Jodan 3 “Pit Crew”

2. 2006 Nike Dunk Quasimoto

1.1999 Nike Wu-Tang Dunk

HB: Gimana kalian ngelihat Prime Time dalam lima tahun ke depan? Big collab projects or more stores maybe? Tell us!

Dhika: Hopefully kita bisa expand in having more stores, kita lagi planning untuk collab dengan beberapa brand juga, hopefully it all goes well. 

Baca Artikel Lengkap

Baca Berikutnya

Ngobrol Bareng Arswandaru Soal Artworknya Buat Butter Goods
Desain

Ngobrol Bareng Arswandaru Soal Artworknya Buat Butter Goods

Nyari tahu soal relasinya dengan brand Australia tersebut hingga musik yang dia dengerin di studio.

Big Poppa dan Prime Time Rilis Bundle Pack Food & Apparel Eksklusif
Kuliner

Big Poppa dan Prime Time Rilis Bundle Pack Food & Apparel Eksklusif

Terdiri dari taco, T-shirt, beer, dan tote bag limited edition.

Membangun dan Mempertahankan Konsistensi Brand bareng Hendry Sasmitapura
Fashion

Membangun dan Mempertahankan Konsistensi Brand bareng Hendry Sasmitapura

Founder Pot Meets Pop menceritakan pengalamannya selama 10 tahun terakhir.


Euforia Party Culture Mewarnai Koleksi FW21 Richardson
Fashion

Euforia Party Culture Mewarnai Koleksi FW21 Richardson

Terinspirasi dari pesta di New York tahun 90an, khususnya Studio 54.

Tyler, the Creator Rilis GOLF le FLEUR* x Converse Chuck 70 "Yellow Flame"
Footwear

Tyler, the Creator Rilis GOLF le FLEUR* x Converse Chuck 70 "Yellow Flame"

Setelah mengeluarkan album keenamnya yang berjudul “Call Me If You Get Lost”, Tyler, the Creator

doublet Tampilkan Koleksi SS22 di Kebun Organik
Fashion

doublet Tampilkan Koleksi SS22 di Kebun Organik

Sustainability bertemu punk.

Floyd Mayweather Akui Dapat Keuntungan 100 Juta USD dari “Fake Fight”-nya lawan Logan Paul
Olahraga

Floyd Mayweather Akui Dapat Keuntungan 100 Juta USD dari “Fake Fight”-nya lawan Logan Paul

”Am I the best bank robber?”

Story mfg. Gunakan Teknik Baru dalam Koleksi Spring/Summer 2022
Fashion

Story mfg. Gunakan Teknik Baru dalam Koleksi Spring/Summer 2022

Menampilkan berbagai artikel hand-knit, block printing, dan batik.

Berikut Sneak Peek NEIGHBORHOOD x Vans Comfycush Sk8-Hi dan Era
Footwear

Berikut Sneak Peek NEIGHBORHOOD x Vans Comfycush Sk8-Hi dan Era

”THE FILTH AND THE FURY.”


Marc Klok Resmi Bergabung dengan Persib Bandung
Olahraga

Marc Klok Resmi Bergabung dengan Persib Bandung

Disambut dengan hangat oleh Bobotoh lewat media sosial Instagram dan Twitter.

’GTA VI’ Kemungkinan Akan Rilis Tahun 2024 atau 2025
Gaming

’GTA VI’ Kemungkinan Akan Rilis Tahun 2024 atau 2025

11-12 tahun setelah ‘GTA V’.

Lawless Dogbar Hadirkan Menu Baru “Demon Dog”
Kuliner

Lawless Dogbar Hadirkan Menu Baru “Demon Dog”

Sosis, beef brisket, spicy mustard.

Prada Berkolaborasi dengan Black + Blum untuk Merilis Alat Makan Portable
Desain

Prada Berkolaborasi dengan Black + Blum untuk Merilis Alat Makan Portable

Sebagai upaya mengurangi limbah plastik.

Off-White™ Ekspansi ke Kidswear
Fashion

Off-White™ Ekspansi ke Kidswear

Koleksi pertamanya akan dirilis untuk FW21.

More ▾
 

Adblock Detected.

We charge advertisers instead of our readers. If you enjoy our content, please add us to your adblocker's whitelist. We'd really appreciated it.