Berbincang dengan Kendra Ahimsa Soal Karyanya yang One of a Kind
Dari proses kreatif, NFT, hingga pandangannya soal pentingnya punya style sendiri dalam berkarya.

Selama hampir satu dekade terakhir, Kendra Ahimsa jadi salah satu nama paling stand out yang muncul dari scene kreatif lokal lewat karya-karya artwork dan ilustrasinya. Kekhasan dalam output visual di tiap karya artist berbasis Jakarta ini jadi identitasnya yang solid dan jadi pembeda dengan yang lainnya—bukan nggak mungkin bakal nimbulin kesan pertama kayak “cuma dia doang nih yang kayak gini”.
Paduan palet-palet warna cerah yang bold dan highly-saturated di dalam ilustrasi bernuansa surreal berisi referensi cross-culture dengan musik yang jadi rootsnya, berhasil bikin dia jadi artworker langganan banyak banget band dan musisi baik di Indonesia maupun mancanegara. Entah untuk bikin cover album sampai poster tur, begitu pula dengan artwork poster sejumlah festival musik top dunia dan masih banyak lainnya.
Dalam sebuah kesempatan, HYPEBEAST dateng ke studionya buat berbincang dari proses kreatif, ongoing projects, peran kucing di hidupnya sekarang, NFT, hingga pandangan tentang gimana punya style sendiri dalam berkarya adalah hal yang penting baginya.
HB: Apa project yang sedang lo kerjakan?
Ardneks (A): Sekarang lagi ngerjain desain buat 2 LP, yang pertama buat band asal Perancis, satu lagi buat mix kompilasi rilisan label independen asal London, Inggris. Gue udah 2 tahun terakhir nonstop ambil commissioned work, jadi abis dua projects ini selesai gue berencana break beberapa bulan alias nggak ambil kerjaan untuk fokus ke personal work.
HB: Belakangan ini, gimana cara lo ngedapetin inspirasi dalam membuat karya?
A: Kalau soal inspirasi nggak ada yang berubah sih, secara inspirasi-inspirasi gue datang dari dengerin musik, nonton film, berita, baca buku, atau browsing internet.
HB: Apa yang berubah dari proses kreatif lo selama paling nggak 2 tahun terakhir selama pandemi berlangsung?
A: Nggak signifikan sih, tapi gara-gara terpaksa di rumah, gue jadi lebih in tune aja sama pacing gue berkarya. Gue sadar kalau penting banget punya interest atau hobi lain yang bisa meng-reset mood dan pikiran saat jenuh berkarya. Kaya gue misalnya suka masak dan main kucing, jadi gue make sure setiap 3 jam gue stop apapun yang lagi dikerjain dan melakukan hobi tersebut.
“Gue sadar kalau penting banget punya interest atau hobi lain yang bisa meng-reset mood dan pikiran saat jenuh berkarya. Kaya gue misalnya suka masak dan main kucing, jadi gue make sure setiap 3 jam gue stop apapun yang lagi dikerjain dan melakukan hobi tersebut.”
HB: Apa hal yang menarik buat lo akhir-akhir ini dan kenapa?
A: Beberapa waktu lalu gue membuat karya yang penuh elemen ikan, jadi gue research tentang berbagai jenis ikan dan mamalia. Gue jadi tau kalau spesies lumba-lumba itu memanggil sesama pakai nama. Gue jadi kepikiran banget nama lumba-lumba kaya apa ya, banyak banget soalnya faktornya; lebih ke nama panggilan, julukan, apakah mereka pakai nama panjang atau nggak, apa sama kaya manusia? Jadi sesuai teritori perairan, misalnya lumba-lumba perairan Afrika itu beda nggak sama misalnya di tempat lain, apa bisa juga ternyata punya bahasa sendiri kaya Kkvkkvvvsl Pppqiiqii.
HB: Hahaha, menarik! Terus kalau ngomongin soal kamar yang akhirnya lo sulap jadi studio, gimana studio dan lingkungan sekitar lo memengaruhi lo dalam setiap proses pembuatan karya?
A: Gue sangat bersyukur dikelilingi lingkungan yang suportif dan membuat gue semangat berkarya.
“Gue melihat idola-idola gue dan gue bertanya apa yang membuat karya-karya mereka stand out. Jawabannya mereka semua punya style dan karakter yang singular; maksudnya orang sekali lihat langsung tahu itu karya mereka. Mulailah gue kembangin pelan-pelan.”
HB: Apa hal favorit lo dari studio lo?
A: Di studio, gue coexist dan bertanggung jawab merawat 5 kucing yang tiap hari berkeliaran keluar masuk. Emang sih kadang jadi susah fokus, tapi ada hari-hari dimana mereka anteng aja nemenin gue diatas meja. Kucing itu tingkah lakunya suka ajaib, jadi keberadaan mereka ini sangat penting buat studio gue.
HB: Boleh tau nggak, gimana turning point lo sampe akhirnya bikin karya yang jadi ciri khas lo sekarang—dengan palet-palet warna yang bold dan colorful?
A: Awal mulanya gue gambar hitam putih dengan pensil dan tinta, sampai akhirnya gue menghadapi tembok yang membatasi ide-ide yang ingin gue sampaikan. Gue melihat idola-idola gue dan gue bertanya apa yang membuat karya-karya mereka stand out. Jawabannya mereka semua punya style dan karakter yang singular; maksudnya orang sekali lihat langsung tahu itu karya mereka. Nah ini yang saat itu gue belum punya. Mulailah gue kembangin pelan-pelan, dari mulai pemilihan palet warna, warna kulit, ketebalan garis, gimana gue menggambar figur orang, hewan, pohon, laut, sampai akhirnya ketemu yang pas formulanya. Karya pertama gue dengan formula itu judulnya Celestial Broadcast dan gue masih inget momen dimana karya itu selesai gue kerjain. Saat itu gue langsung “Nah ini dia!”, soalnya gue langsung kebayang narasi-narasi yang ingin gue sampaikan dengan style dan palet warna itu.
“Di studio, gue coexist dan bertanggung jawab merawat 5 kucing yang tiap hari berkeliaran keluar masuk. Emang sih kadang jadi susah fokus, tapi ada hari-hari dimana mereka anteng aja nemenin gue diatas meja. Kucing itu tingkah lakunya suka ajaib, jadi keberadaan mereka ini sangat penting buat studio gue.”
HB: Mana karya lo yang paling memorable? Bisa diceritain nggak dan alasan kenapa itu memorable?
A: Gue melihat 12 laki-laki kuat Jepang bekerja sama menaikkan billboard 6x6m karya gue, Cosmic Boogaloo, Dojima Crosswalk, Osaka. Itu sekitar akhir tahun 2016, jadi di karyanya gue pasang lampu kerlip mengikuti garis-garis gue. Karya akhirnya terpasang, matahari pas terbenam, gue gemetaran sendiri menitikkan air mata kemudian menyalami 12 orang itu satu persatu.
Visual art Jepang adalah kiblat gue berkarya. Generasi gue mau perempuan mau laki-laki tumbuh dengan anime Jepang di televisi dan komik Jepang di toko buku. Gue nggak nyangka aja sekian tahun kemudian orang Jepang bisa mengapresiasi karya gue di negara mereka.
HB: Eh, belakangan ini lo bikin karya berupa NFT juga ya?
A: Iya, gue baru aja ngemint NFT pertama gue, judulnya Paraíso. Karya yang sangat meaningful buat gue personally, yang diharapkan bisa menjadi batu loncatan buat gue mengeksplor dunia baru itu.
HB: Kenapa lo akhirnya mutusin buat bikin karya berupa NFT dan gimana lo ngeliat hal itu ke depannya, terutama untuk artist dan karyanya?
A: Setelah mempelajari dan riset, menurut gue NFT itu platform/space yang penuh potensi dan masih terus berkembang. Banyak pro dan kontra layaknya semua hal yang baru, maka penting dari kita untuk ngeliat dengan pikiran terbuka. Gue percaya semua orang berhak berkarya mau bagus mau jelek, soalnya gue percaya proses dan perkembangan. Orang yang karyanya jelek kalau dia serius belajar ya bisa jadi bagus. Sama dengan teknologi. Van Gogh yang pas hidup nggak ada yang peduli aja sekarang dicintai. Jangan aja sih jadi kakek-kakek yang kalo ada Black Sabbath di radio udah marah-marah duluan langsung dimatiin.
“Setelah mempelajari dan riset, menurut gue NFT itu platform/space yang penuh potensi dan masih terus berkembang. Banyak pro dan kontra layaknya semua hal yang baru, maka penting dari kita untuk ngeliat dengan pikiran terbuka. Gue percaya semua orang berhak berkarya mau bagus mau jelek, soalnya gue percaya proses dan perkembangan.”
HB: Apakah lo punya wishlist siapa yang pengen lo bikinin ilustrasi?
A: Nggak ada sih, gue berkeyakinan setiap orang yang pernah gue bikinin ilustrasi emang dijodohkan ke gue, jadi ke depannya pun akan begitu.
HB: Apakah lo pernah random mikirin, kira-kira kalau lo nggak bikin artwork dengan style lo sekarang, lo bakalan bikin dengan style kayak gimana?
A: Gue obsessed banget sama poster kain film lama yang dilukis. . Gue inget di bioskop deket rumah gue ada film action baru tayang, tapi lho kok sosok karakter/aktornya kelihatan penyek di lukisan posternya. Sekarang ada sebuah galeri di Amerika dimana mereka mengkomisi pelukis-pelukis dari Ghana untuk reka ulang poster-poster film. Hasilnya sangat ajaib.
Seperti kata Kendra Ahimsa, NFT adalah salah satu platform masa depan yang punya potensi dan terus akan berkembang. Selain NFT, perkembangan dunia virtual juga semakin besar, dan the realness of the virtual world menjadi sangat penting untuk bisa menyuguhkan diferensiasi di masa saat ini. Jika kamu mau merasakan virtual experience yang ngepush batasan kreatif dengan karya artis dan musisi lokal pilihan, bisa langsung klik di sini.