Graphpaper SS27 Menyelami Keheningan Puitis "What Time Leaves Behind"
Merangkul filosofi Jepang ‘yohaku’ dengan menyeimbangkan minimalisme dan fungsionalitas.
Ringkasan
Graphpaper memperkenalkan koleksi SS27 bertajuk "What Time Leaves Behind," yang menekankan keheningan dan yohaku khas Jepang.
Rangkaian minimalis ini menampilkan jaket Judo berbahan linen, blouson Pertex Unlimited, dan kemeja kulit full-grain.
Graphpaper merilis lookbook koleksi Spring/Summer 2027 bertajuk “What Time Leaves Behind,” yang pertama kali dipresentasikan di 21 Rue Chapon selama Paris Fashion Week. Membawa filosofi yang mengutamakan pematangan perlahan alih-alih tren musiman, koleksi ini menerjemahkan keheningan dan yohaku khas Jepang—konsep ruang kosong—melalui struktur modern yang tegas dan fungsi utilitarian yang kuat.
Menghindari klise budaya yang dangkal dan terlalu ornamental, director Takayuki Minami menghadirkan koleksi kapsul yang sangat terasah, di mana sebuah busana baru mencapai titik “selesai” lewat proses pemakaian yang terus berlangsung. Setting visual lookbook yang tenang dan serbastudio mencerminkan filosofi ini, membingkai potongan-potongan yang memancarkan bobot yang tidak dibuat-buat dan kehadiran material yang begitu kuat.
Palet utama koleksi ini tersusun ketat pada empat rona sophisticated yang diambil langsung dari elemen alam yang dibentuk waktu: putih bersih porselen tua (Stone White), hijau pekat lumut di atas batu basah (Moss Green), beige lembut kayu tua yang mengering (Oak), dan hitam dalam yang terinspirasi tinta kaligrafi yang meresap ke dalam kertas (Sumi). Deretan ready-to-wear bergerak mulus di antara siluet fluid yang gender-neutral, loungewear bernuansa arsitektural, dan outerwear yang direkayasa dengan presisi.
Deretan gaya kunci menyorot overshirt V-neck dari linen–cupro berstruktur yang dipadankan dengan celana sarouel bersiluet santai, blouse seersucker punggung terbuka, serta celana berlipit banyak yang dibuat dari satin cupro–cotton bertekstur tegas. Lapisan outerwear standout hadir lewat bal collar coat berteknik garment-dyed dan blouson berlengan yoke yang dibangun dari tekstil ringan Pertex Unlimited, disandingkan dengan blouson raglan kulit full-grain bernuansa moss green pekat dan jaket Corbusier dari kulit domba kaku.
Sentuhan tailoring seni bela diri tradisional muncul kembali dalam bentuk jaket Judo dari linen–cotton canvas bersiluet longgar, disempurnakan dengan sabuk riggers dari nilon yang kokoh. Fungsi utilitarian bernuansa street kian lengkap dengan rilisan sepatu kolaboratif, mulai dari slip-on kulit full-grain premium bersama Beautiful Shoes hingga trainers Suede Classic monokrom kustom yang direkayasa bersama PUMA.



















