“Efek Mencekam”: COO FIFA Heimo Schirgi Kecam Kenaikan Tarif NJ Transit Jadi USD 150
FIFA bentrok dengan Gubernur Mikie Sherrill saat NJ Transit berupaya menutup defisit transportasi Piala Dunia senilai USD 48 juta lewat tiket kereta hari pertandingan yang selangit.
Ringkasan
- NJ Transit mengonfirmasi tarif kereta pulang-pergi sebesar USD 150 untuk perjalanan 15 menit dari Manhattan ke MetLife Stadium—hampir dua belas kali lipat dari harga normal.
- Pejabat New Jersey menyatakan bahwa badan penyelenggara tidak memberikan dana sepeser pun untuk transportasi, sehingga negara bagian itu kini menghadapi defisit sebesar USD 48 juta untuk perhelatan tersebut.
- FIFA dengan cepat menepis kritik tersebut dengan merujuk pada perjanjian tahun 2018 yang mewajibkan transportasi gratis bagi penggemar, sembari menegaskan bahwa tidak ada acara stadion besar lain yang mensubsidi mobilitas penonton.
Menuju Piala Dunia 2026, biaya sudah melambung tinggi bahkan sebelum satu bola pun digulirkan. Pejabat New Jersey telah mengonfirmasi kenaikan harga monumental bagi para penggemar yang menuju MetLife Stadium, memicu perseteruan publik soal siapa sebenarnya yang harus menanggung tagihan transportasi regional. Para komuter dari Penn Station di Manhattan ke lokasi pertandingan di East Rutherford akan dipaksa merogoh kocek USD 150 untuk tiket kereta pulang-pergi. Tarif selangit ini hampir 12 kali lipat dari ongkos normal USD 12,90 untuk perjalanan singkat 15 menit sejauh sembilan mil. Tanpa area parkir umum bagi penonton di kompleks stadion, otoritas memperkirakan sekitar 40.000 penggemar per pertandingan akan bergantung pada opsi transportasi massal ini.
Beban finansial tersebut memicu pernyataan tajam dari jajaran pimpinan lokal. Gubernur Mikie Sherrillmenyatakan bahwa pemerintahannya mewarisi kesepakatan yang sangat cacat, di mana badan pengelola sepak bola internasional sama sekali tidak menyumbang untuk urusan mobilitas. Menurut perkiraan negara bagian, operasional tambahan ini akan menelan biaya total USD 62 juta, sementara hibah federal dari luar hanya menutup USD 14 juta. Artinya, agen transportasi lokal harus berhadapan dengan defisit USD 48 juta. Alih-alih membiarkan pembayar pajak di negara bagian menanggung tagihan, otoritas setempat memberlakukan tarif pengguna yang curam. Para pejabat membela langkah tersebut, menegaskan bahwa lembaga itu sekadar berupaya menutup biaya operasional murni, bukan mengeruk keuntungan berlebihan dari basis penggemar global.
Tak mengherankan, strategi penetapan harga agresif dari NJ Transit benar-benar membuat para penyelenggara kecolongan. FIFAmembalas tudingan tersebut, secara terbuka menyatakan keterkejutan atas lonjakan harga yang begitu besar. Organisasi itu menegaskan bahwa perjanjian kota tuan rumah yang ditandatangani pada 2018 pada awalnya mensyaratkan transportasi gratis ke semua pertandingan. Chief operating officer FIFA, Heimo Schirgi, mengatakan, “Model harga NJ Transit saat ini akan menimbulkan efek menggentarkan,” seraya menambahkan bahwa organisasi tersebut bertujuan “meminimalkan kemacetan, mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, dan memastikan pengalaman penggemar tetap positif dan berkesan—didefinisikan oleh aksi di lapangan, bukan keterlambatan di jalan raya.”
“Kenaikan tarif pada akhirnya akan mendorong penggemar beralih ke opsi transportasi lain,” lanjutnya. “Hal ini meningkatkan kekhawatiran soal kemacetan, keterlambatan kedatangan, dan memicu efek domino yang pada akhirnya menggerus manfaat ekonomi serta warisan jangka panjang yang seharusnya bisa dinikmati seluruh kawasan dari menjadi tuan rumah Piala Dunia.”
Selain itu, para penyelenggara menekankan bahwa tidak ada ajang hiburan atau olahraga besar lain yang digelar di New York New Jersey Stadium yang diwajibkan mensubsidi perjalanan penggemar. Lonjakan harga ini bahkan menuai kritik dari Gubernur New York, Kathy Hochul, yang secara terbuka mempertanyakan tarif lebih dari USD 100 untuk perjalanan sesingkat itu. Jika pelancong ingin sepenuhnya menghindari kereta, pilihan lain juga tak memberi kelegaan: satu-satunya rute alternatif yang realistis hanyalah shuttle resmi seharga USD 80 atau slot parkir premium senilai USD 225 di mal American Dream di dekatnya.
Benturan logistik ini menyingkap ketegangan kultural yang lebih dalam antara infrastruktur Amerika dan gelaran mega-event global. Sementara kota tuan rumah seperti Los Angeles, Houston, dan Kansas City berkomitmen menjaga tarif tetap tak berubah—dengan Houston mempertahankan tiket kereta USD 1,25 dan Kansas City menawarkan shuttle USD 15—wilayah East Coast justru memilih monetisasi premium. Gillette Stadium di Foxborough mengusung agenda serupa, mengenakan biaya USD 95 untuk bus ekspres dan USD 80 untuk akses kereta komuter dari Boston. Pada akhirnya, strategi-strategi lokal ini berisiko menjauhkan pendukung sehari-hari, mengubah perayaan yang seharusnya inklusif menjadi pengalaman mewah eksklusif yang dibatasi oleh biaya perjalanan yang terus menumpuk.



















