BMW Art Car yang Tetap Jadi Tolak Ukur

Saat BMW membawa BMW 635CSi ikonis karya Robert Rauschenberg ke Art Basel Hong Kong 2026, kami berbincang dengan Prof. Dr. Thomas Girst tentang 51 tahun disrupsi budaya, pergeseran dari lintasan balap ke jalanan kota, dan mengapa Art Car masih menjadi simbol utama dari “museum yang bisa bergerak.”

Seni
522 0 Komentar
Save

Robert Rauschenberg pernah memimpikan sebuah dunia yang dipenuhi “museum yang bisa bergerak” — sebuah visi yang ia wujudkan ketika mengubah BMW 635CSi menjadi mahakarya bergulir untuk program BMW Art Car. Puluhan tahun kemudian, cetak biru inovatifnya tetap sama relevannya seperti 40 tahun lalu. Sebagai tribut seratus tahun yang terasa sangat tepat, BMW akan menampilkan Art Car karyanya di Art Basel Hong Kong 2026, menandai kemunculan perdana mahakarya tersebut di Asia.

Program BMW Art Car yang kita kenal sekarang telah mengalami sejumlah perubahan dalam empat dekade terakhir. Saat ini, prosesnya diatur oleh juri internasional yang terdiri dari para direktur museum terkemuka; BMW mengajukan satu model kendaraan ke dalam gelanggang, tetapi pilihan senimannya sepenuhnya berada di tangan para ahli, menghadirkan energi yang berbeda dibanding era ‘80-an. “Ada masa di tahun ‘80-an ketika kami menggunakan mobil seri reguler, saya rasa karena BMW sedang berkembang menjadi merek global dan kami ingin menunjukkan bahwa mobil kami adalah mobil yang tersedia untuk semua orang di jalan,” ujar Prof. Dr. Thomas Girst, Global Head of Cultural Engagement BMW, kepada Hypebeast. Meski sosok seperti Julie Mehretu dan Jeff Koons telah mengembalikan seri ini ke lintasan-lintasan keras Le Mans dan Daytona, dekade penuh dekadensi itu justru berfokus merayakan mobil yang benar-benar dikendarai orang — secara sempurna menerjemahkan misi Rauschenberg dan diwujudkan lewat BMW 635CSi miliknya. Berbeda dengan mesin khusus lintasan dari para pendahulunya di tahun 1970-an seperti Alexander Calder, Roy Lichtenstein, dan Andy Warhol, kontribusi Rauschenberg menerjemahkan obsesinya pada “aksesibilitas” ke dalam sebuah kanvas yang legal di jalan raya, menjembatani rekayasa kelas atas dengan pengalaman publik sehari-hari.

Di era ketika imersi digital menjadi frontier baru, BMW tetap berkomitmen menggeser seni keluar dari lorong-lorong sunyi galeri langsung ke atas aspal. Sejak program ini dimulai pada 1975, BMW antusias memanfaatkan teknologi terbaru yang tersedia bagi para seniman ke dalam seri Art Car, mulai dari kuas dan warna hingga teknik foiling, augmented reality, bahkan aplikasi, seperti yang dilakukan Cao Fei pada BMW Art Car #18 karyanya. Namun ketika diberi kesempatan memamerkan karya di luar dinding museum, Prof. Dr. Girst menuturkan bahwa banyak seniman langsung menyambutnya, seraya menambahkan, “Seperti John Baldassare, yang sangat ingin karyanya tidak hanya dilihat pengunjung di museum, tapi juga hadir di jalanan.”

“Di situlah peran BMW Art Cars,” ujarnya, “membawa seni ke tempat orang berada, alih-alih membuat orang datang ke tempat seni berada.”

Hypebeast: Art Car tahun 1986 menampilkan citra dari maestro Renaissance dan Neoklasik seperti Bronzino dan Ingres. Seberapa penting bagi program Art Car untuk mempertahankan dialog dengan sejarah seni sekaligus terus mendorong batas-batas teknologi otomotif?

BMW Art Cars sama menariknya bagi mereka yang menggemari seni dan desain maupun bagi mereka yang tertarik pada engineering, teknologi, motorsport, dan balap. Jadi, ketika kami memberi penghormatan kepada para seniman, dan para seniman itu memberi penghormatan kepada sejarah seni, bukan berarti mereka wajib menyelami ratusan tahun karya sebelumnya seperti yang dilakukan Rauschenberg ketika ia menggunakan Une Odalisque karya [Jean-Auguste-Dominique] Ingres dari abad ke-19, yang pada dasarnya menjadi semacam co-driver, dan Portrait of a Young Man karya Bronzino sebagai “pengemudi” mobilnya.

Ia juga, tentu saja, memasukkan tanaman serta flora dan fauna dari Captiva, pulau di lepas pantai Florida tempat ia memiliki studio dan tempat ia benar-benar mengerjakan BMW Art Car tersebut. Ia menciptakan foil-foilnya, merumuskan pendekatan hitam-putih yang serba tereduksi pada mobil itu, sebagaimana Frank Stella menggarap mobilnya pada 1976 dengan grid hitam-putih, sebagai penghormatan kepada para insinyur mobil tersebut.

Ketika mobil Rauschenberg yang begitu terkenal itu pertama kali masuk ke studionya, ia berkata mobil itu berdiri di sana serbaputih seperti seekor singa jantan. Ia lalu mengatakan ingin membuat 10 lagi, sambil tertawa khasnya. Menurut saya, Robert Rauschenberg pada 1985 sangatlah postmodern, dan postmodernisme berkaitan dengan cara menggunakan dan bermain-main dengan citraan dari masa lalu. Mobil ini, saya rasa, menjadi contoh dari fase postmodern Robert Rauschenberg. Jelas ia sudah lama tertarik pada mobilitas, pada gagasan museum yang bisa dikendarai, dan inilah alasan ia menyebut mobil ini sebagai mimpi yang menjadi nyata baginya. Termasuk seluruh gagasan dan pandangannya tentang kolaborasi, serta dialog lintas budaya yang melintasi berabad-abad — semua itu bertemu di mobil ini.

Rauschenberg menggunakan mobil tersebut untuk mengeksplorasi konsep Walter Benjamin seputar “The Work of Art in the Age of its Mechanical Reproduction.” Saat kita memasuki era AI dan seni generatif, bagaimana program ini berevolusi untuk merespons metode-metode baru reproduksi “mekanis” maupun digital?

Yang penting dalam esai Walter Benjamin tentu adalah gagasan tentang aura. Seberapa sering pun sebuah karya seni direproduksi, sebanyak apa pun kita melihatnya — bahkan secara online hari ini — tetap ada aura yang hanya dimiliki oleh karya orisinal dan hanya milik yang orisinal. Saya akan berpendapat bahwa Robert Rauschenberg, melalui mobilnya, benar-benar menguji batas tentang apa yang nyata? Apa yang asli? Bagaimana kita bermain-main dengan gagasan dari masa lalu? Bagaimana kita menggunakannya dengan cara yang jenaka dan santai? Bagaimana kita membuat seni kita mudah didekati? Bagaimana kita membuat seni berarti bagi sebanyak mungkin orang? Inilah alasan ia senang bekerja dengan sebuah mobil, yang secara definisi membuat karya itu lebih mudah diakses, dengan mobil yang berkendara di ruang publik, dan juga, seperti saya sebutkan, tidak hanya memanfaatkan sejarah seni dan referensi-referensi historis, tetapi juga, Anda tahu, tanaman-tanaman menakjubkan dari Captiva Island dan Florida, tempat mobil ini dibuat.

Sekarang, terkait AI, saya rasa BMW sangat tertarik pada seniman yang bekerja dengan teknologi-teknologi paling mutakhir. Seperti yang Anda tahu, para seniman, dengan rasa ingin tahu mereka, selalu menggunakan teknologi terbaru, sejak masa Renaissance ketika teleskop atau mikroskop membuka beragam pintu dan semesta baru bagi para pelukis. Saat ini hal yang sama berlaku lewat pemanfaatan AI dan ranah digital — sesuatu yang juga sangat relevan dengan bisnis inti BMW. Kami memposisikan diri di garis depan inovasi teknologi, dan kami senang menyaksikan sekaligus berkolaborasi dengan seniman yang melakukan hal serupa. Tentu saja, setiap kali kami bekerja dengan seniman, mereka memiliki kebebasan penuh untuk melakukan apa pun yang ingin mereka lakukan. Tidak ada intervensi dari pihak kami, karena kebebasan total itu sama pentingnya bagi seniman untuk melahirkan karya-karya revolusioner, sebagaimana pentingnya bagi para engineer dan desainer kami untuk menemukan jawaban terbaik atas pertanyaan seputar mobilitas hari ini dan esok.

“Di situlah peran BMW Art Cars, membawa seni ke tempat orang berada, alih-alih membuat orang datang ke tempat seni berada.”

Namun demikian, ada satu hal yang perlu kita perjelas: Marshall McLuhan di tahun 1960-an pernah mengatakan bahwa jika kita memandang Bumi sebagai sebuah pesawat luar angkasa, maka kita sebenarnya sudah berada di luar angkasa. Jika kita menganggap planet kita sebagai sebuah spaceship, katanya, di spaceship Earth tidak ada penumpang, hanya ada kru. Jadi jika tidak ada penumpang dan hanya ada kru, itu adalah pola pikir yang luar biasa: bahwa kita adalah anggota kru, bukan penumpang, di spaceship Earth. Dan AI jelas bukan anggota kru. AI adalah alat. Paling jauh, AI hanyalah material mentah. Ketika digunakan di dalam seni, AI tidak mengurangi diri seorang seniman atau kreativitasnya, tetapi bisa dimanfaatkan sebagai alat. Di sinilah kami senang melihat keterlibatan terjadi. Di sinilah, melalui apa yang kami lakukan — menyediakan platform bagi seniman emerging dan internasional di seluruh dunia — kami sangat peduli untuk melihat bagaimana mereka menyikapi teknologi-teknologi terbaru. Bertahun-tahun lalu, kami bekerja sama dengan ArtDrunk dalam konsep ultimate AI masterpiece, di mana para seniman yang kami gandeng menyerahkan karya mereka ke dalam sebuah algoritme, yang kemudian memproyeksikan kemungkinan-kemungkinan karya mereka ke atas sebuah mobil. Jadi, mobil sebagai kanvas yang menunjukkan apa saja yang dimungkinkan oleh AI adalah sesuatu yang sudah kami lakukan di masa lalu, dan yang masih sangat kami minati untuk dikembangkan di masa depan.

Rauschenberg punya sejarah panjang berkolaborasi dengan ilmuwan dan engineer, misalnya lewat proyek E.A.T.-nya. Bagaimana BMW memfasilitasi spirit “technical innovator” yang spesifik ini ketika seorang seniman kontemporer masuk ke studio untuk merancang Art Car baru?

Dari pengalaman kami, para seniman yang bekerja dengan kami sangat senang menyelami segala hal yang bisa kami tawarkan. Mereka senang bekerja dengan para engineer kami. Mereka juga senang bekerja dengan para desainer, sound engineer, dan kru mekanik kami yang berada di pit stop menggarap sebuah mobil, dan memandang diri mereka sebagai bagian dari tim saat menciptakan sebuah BMW Art Car. Art Car sendiri hanyalah salah satu dari banyak inisiatif kami di seluruh dunia. Kami bermitra dengan institusi budaya, orkestra, gedung opera, art fair, dan setiap kali kami selalu punya pendekatan yang berbeda. Tapi Anda tahu? Benang merah yang menyatukan semuanya adalah upaya kami mewujudkan visi — visi yang ingin direalisasikan para seniman — dengan menyediakan platform bagi visibilitas mereka, sekaligus memosisikan BMW sebagai pemimpin di bidang ini yang, sekali lagi, tidak pernah ikut campur soal konten, dan tidak menambah sekadar bling bling di dunia seni, melainkan menyumbang dialog yang bermakna antara penonton dan yang dilihat, antara pendengar dan sebuah komposisi, sebuah karya musik, misalnya.

Mengambil langkah pertama di atas 635CSi digambarkan sang seniman sebagai sesuatu yang “sangat sulit.” Bagaimana tim Anda membantu para seniman mengatasi rasa gentar ketika bekerja dengan sebuah “kanvas” berperforma tinggi yang begitu memukau?

Yang kami lakukan adalah menyiapkan sebuah sistem untuk para seniman BMW Art Car yang dipilih oleh juri internasional independen yang terdiri dari direktur museum ternama di seluruh dunia. Para seniman ini diundang ke sebuah ajang balap, sehingga mereka bisa melihat langsung apa yang terjadi ketika mobil masuk pit stop. Mereka melihat bagaimana para pembalap bekerja sama dengan engineer mekanik, para engineer, dan para desainer — semua itu demi memiliki mobil yang benar-benar memenangkan balapan, atau setidaknya bersaing untuk juara pertama. Inilah yang membuat para seniman tertarik untuk mengeksplorasi lebih jauh, dan peran kami sangat jelas: mewujudkan visi para seniman. Hal yang sama kami lakukan bersama Julie Mehretu, yang tidak ingin Art Car No. 20 miliknya disebut sebagai “rolling sculpture” seperti banyak BMW Art Car lainnya, melainkan sebagai performative painting. Ia membayangkan hidung besar mobil itu seolah menghirup salah satu lukisannya yang tergantung di dinding studio saat ia mengerjakan mobil tersebut. Ini menjadi cara lain untuk membuat seniman tertarik dengan apa yang bisa kami tawarkan, yakni dengan memberi mereka versi miniatur dari mobil yang bisa mereka ubah menjadi Art Car, sehingga mereka bisa menyimpannya di studio dan memikirkan apa yang ingin mereka lakukan terhadapnya.

“AI jelas bukan anggota kru. AI adalah alat. Paling jauh, AI hanyalah material mentah.”

Rauschenberg mendirikan Rauschenberg Overseas Cultural Interchange (ROCI) untuk melampaui batas-batas geografis. Dalam cara seperti apa program Art Car berfungsi sebagai “cultural interchange” modern bagi BMW di skala global?

Saya percaya bahwa ROCI, Anda tahu, sudah selangkah lebih maju dalam hal gagasan kolaborasi, dalam bekerja di skala global, dalam menyelami kreativitas dari begitu banyak budaya dan sisi berbeda dari kemampuan kita sebagai manusia. Dan saya percaya bahwa cultural interchange atau dialog kultural bukanlah sesuatu yang sekadar hendak dikejar atau dicapai, melainkan fondasi kesuksesan sebuah perusahaan internasional, termasuk ketika kita berbicara tentang bisnis inti kami. Dialog lintas budaya ini esensial, dan itulah yang kami tampilkan. Itulah yang kami rayakan. Itulah yang kami dukung habis-habisan ketika berbicara soal keterlibatan kultural kami, sekaligus saat memikirkan bisnis inti kami sebagai perusahaan yang beroperasi di lebih dari seratus negara. Sangat penting untuk saling memahami, saling menghormati, saling menghargai, dan saling berjumpa dengan kadar rasa ingin tahu yang tinggi. Seni mampu melakukan itu. Seni bisa melompati batas apa pun dan menegaskan bahwa kita semua adalah manusia di planet yang sama, berusaha mewujudkan sesuatu yang luar biasa.

Dari seekor kambing isi dengan ban dalam Monogram hingga kap BMW yang ia tanda tangani pada 1986, Rauschenberg selalu berupaya menyatukan seni dengan “dunia yang lebih luas.” Menatap masa depan, bagaimana program Art Car tetap menjadi simbol utama komitmen BMW terhadap keterlibatan kultural di tingkat global?

Menurut saya, tahun inilah kita melihat bagaimana AFMAC benar-benar mengambil peran. AFMAC adalah African Film and Media Arts Collective yang digagas oleh Julie Mehretu, seniman BMW Art Car untuk Art Car No. 20. BMW M v8 hybrid miliknya turun di balapan 24 jam di Le Mans pada 2024, tetapi proyek itu tidak berhenti di sana. Bagi Julie Mehretu, seniman asal Ethiopia yang pindah ke Amerika Serikat di usia sangat muda, sangat penting baginya untuk memberikan sesuatu kembali kepada benua asalnya, dalam hal ini benua Afrika. Karena itulah African Film and Media Arts Collective lahir dari proyek Art Car. Kita bergerak maju dari titik awal BMW Art Car pada 1975 yang berfokus pada kuas dan mengecat mobil, menuju keterlibatan dan integrasi ranah digital, menjadikannya sesuatu yang juga berkaitan dengan corporate citizenship, memberi kembali pada masyarakat tempat kita menjalankan bisnis dengan sukses. Kini AFMAC menjadi platform dialog, yang menghadirkan banyak lokakarya di seluruh Afrika, di mana para pembuat film muda membahas praktik mereka bersama seniman-seniman papan atas yang dipilih AFMAC. Semua ini berpuncak di Zeitz Museum of Contemporary Art Africa (Zeitz MOCAA), mitra jangka panjang BMW dan museum seni kontemporer terpenting di seluruh Afrika, yang berlokasi di Cape Town.

Kami telah bermitra dengan mereka sejak awal melalui BMW Education Center, menghadirkan pendidikan seni dan budaya bagi para pelajar muda. Di sana pula akan dipresentasikan hasil dari berbagai platform AFMAC untuk perfilman yang selama dua tahun terakhir berlangsung di sedikitnya enam kota berbeda di Afrika. Semuanya akan berpuncak pada pemaparan karya-karya mereka berdampingan dengan BMW Art Car pada awal Desember 2026 di Zeitz MOCAA.

“Seberapa sering pun sebuah karya seni direproduksi, sebanyak apa pun kita melihatnya, bahkan secara online hari ini, tetap ada aura yang hanya dimiliki oleh karya orisinal dan hanya milik yang orisinal.”

Ketika berbicara tentang bagaimana kami memandang masa depan BMW Art Cars, jelas bahwa seri ini akan terus berlanjut. Saya rasa kami sudah sangat menegaskan bahwa proyek ini memang soal mobil, tetapi bukan hanya tentang mobil. Robert Rauschenberg sendiri telah menegaskannya lewat mobil menakjubkan miliknya, karena ia sudah tertarik pada persoalan mobilitas sejak tahun 1950-an ketika ia menciptakan automotive tire track itu. Panjangnya hampir, saya kira, 30 kaki, atau lebih dari 20 kaki. Jejak ban itu berasal dari mobil musisi John Cage, yang kala itu adalah temannya dan satu-satunya orang yang ia kenal yang punya mobil di New York City. Ia meminjam mobil John Cage untuk menciptakan jejak ban ini, yang nyaris menyerupai kaligrafi Tiongkok.

Saya rasa bagian dari seluruh gagasan yang menjadi inti Rauschenberg sedang dirayakan dan benar-benar diwujudkan dalam pameran Robert Rauschenberg yang luar biasa dan tengah berlangsung di M+, bertepatan dengan kami membawa BMW Art Car miliknya ke Art Basel Hong Kong. Dengan Art Basel yang telah menjadi mitra kami selama lebih dari dua dekade, semuanya berpadu dengan sangat serasi, karena pameran ini, selain menampilkan tire track-nya, tidak hanya menunjukkan pengaruhnya di Asia, tetapi juga pengaruh Asia terhadap karyanya. Menurut saya, itulah sesuatu yang akan sangat ia sukai bila bisa menyaksikannya terwujud. Ia begitu berhasrat membuat seninya relevan secara internasional — atau membuat apa yang diwakili seninya berdampak — yakni kolaborasi lintas negara dan lintas disiplin. Semua itu bertemu dan berpuncak pada karya agung yang ia ciptakan untuk kami: BMW Art Car.

Baca Artikel Lengkap

Baca Berikutnya

Chan Wai-lap Bawa Suasana Kolam Umum ke Art Basel Hong Kong — dan Ia Ingin Kamu Berlama-lama
Seni

Chan Wai-lap Bawa Suasana Kolam Umum ke Art Basel Hong Kong — dan Ia Ingin Kamu Berlama-lama

Kami menyelami instalasi Chan “Mimimomo Pool (2026)” dan membahas bagaimana ia menghadirkan momen pelan dan komunal di salah satu pameran seni terbesar di dunia.

Art Central Hong Kong 2026: Pusat Perjumpaan Global untuk Penemuan dan Budaya Digital
Seni

Art Central Hong Kong 2026: Pusat Perjumpaan Global untuk Penemuan dan Budaya Digital

Intip dari dekat edisi terbesar Art Central sejauh ini, dengan lebih dari 500 seniman dan instalasi imersif di tepi laut ikonis Hong Kong.

7 Event Terbaik Hong Kong Art Month 2026 yang Wajib Kamu Datangi
Seni

7 Event Terbaik Hong Kong Art Month 2026 yang Wajib Kamu Datangi

Dari Art Basel hingga pameran tunggal perdana di Asia, Hong Kong Art Month 2026 menegaskan posisi kota ini sebagai salah satu pusat lintas budaya paling hidup di dunia.


Menyimak Lebih Dekat Art Basel Hong Kong 2026
Seni

Menyimak Lebih Dekat Art Basel Hong Kong 2026

Kupasan lengkap dari dalam gelaran art fair raksasa yang menghadirkan talenta kontemporer terdepan dan ikon blue-chip dunia seni.

Parmigiani Fleurier Hadirkan Tonda PF Sport Chronograph ‘Silver Verzasca’ yang Elegan
Jam Tangan

Parmigiani Fleurier Hadirkan Tonda PF Sport Chronograph ‘Silver Verzasca’ yang Elegan

Terinspirasi dari hijau jernih Sungai Verzasca dan granit mengilap di Alpine Riviera, jam ini memadukan warna alam Swiss dengan sentuhan mewah modern.

Dua Gradasi Keren Hiasi New Balance ABZORB 2000
Footwear

Dua Gradasi Keren Hiasi New Balance ABZORB 2000

Runner segar rilisan tahun lalu ini terus tampil dengan colorway baru yang makin standout.

Oakley Gandeng Matthew M. Williams & Nicolas Di Felice Tinggalkan Courrèges dalam Sorotan Berita Fashion Terpopuler Pekan Ini
Fashion

Oakley Gandeng Matthew M. Williams & Nicolas Di Felice Tinggalkan Courrèges dalam Sorotan Berita Fashion Terpopuler Pekan Ini

Tetap update dengan tren terbaru di industri fashion.

Hartcopy dan adidas Kembali Bersatu di Siluet BW Army
Footwear

Hartcopy dan adidas Kembali Bersatu di Siluet BW Army

Menampilkan BW Army dalam warna “Muted Grey” dan “Black.”

Melitta Baumeister Nike Vomero Premium dan Pegasus Premium Rilis Pekan Depan
Footwear

Melitta Baumeister Nike Vomero Premium dan Pegasus Premium Rilis Pekan Depan

Hadir dengan colorway hand-painted “Total Orange” dan “Volt”.

Membongkar Kengerian Dunia Pop Star: Petra Collins dan ‘STAR’
Seni

Membongkar Kengerian Dunia Pop Star: Petra Collins dan ‘STAR’

“Sedikit bocoran” dari debut film panjang Petra Collins yang sedang digarap.


Ayako Rokkaku tentang ‘THE ISLAND – ONIGASHIMA’ dan Menciptakan Kebahagiaan dari Dalam Diri
Seni

Ayako Rokkaku tentang ‘THE ISLAND – ONIGASHIMA’ dan Menciptakan Kebahagiaan dari Dalam Diri

Seniman Jepang ini mengubah LANDMARK Atrium menjadi ruang di mana pengunjung diajak kembali menemukan rasa takjub masa kecil.

The Ritz-Carlton Kyoto Hadirkan La Prairie SPA Pertama di Asia
Travel

The Ritz-Carlton Kyoto Hadirkan La Prairie SPA Pertama di Asia

Reservasi dibuka mulai 28 Maret 2026.

OVO dan DC Comics Rilis Koleksi “Batman x The Joker” yang Super Ikonis
Fashion

OVO dan DC Comics Rilis Koleksi “Batman x The Joker” yang Super Ikonis

Koleksi kapsul kolaborasi ini berfokus pada Dark Knight dan musuh bebuyutannya, The Joker.

Aimé Leon Dore dan New Balance Kembali Berkolaborasi untuk Made In USA 1300 “Navy”
Footwear

Aimé Leon Dore dan New Balance Kembali Berkolaborasi untuk Made In USA 1300 “Navy”

Runner premium ini hadir dengan lapisan suede navy dan midsole ENCAP yang nyaman.

Inside PALY: James Franco & Kyle Lindgren Mengubah Mitos Hollywood Jadi Fashion yang Bisa Dipakai
Fashion

Inside PALY: James Franco & Kyle Lindgren Mengubah Mitos Hollywood Jadi Fashion yang Bisa Dipakai

Duo kreatif ini berbagi eksklusif dengan Hypebeast soal proses kreatif mereka, pengaruh kultur skate, dan cara mereka menjadikan Hollywood sebagai “bahan mentah” untuk koleksi terbaru PALY yang kini sudah tersedia di HBX.

HYKE FW26: Perpaduan Utility Arsip dan Sentuhan Feminin Tajam
Fashion

HYKE FW26: Perpaduan Utility Arsip dan Sentuhan Feminin Tajam

Duo desainer Yoshihara dan Ode mengubah seragam arsip jadi siluet modern yang sleek dan chic.

More ▾