Natasha Tontey Angkat Sosok Pejuang Perempuan Sulawesi Utara di Venice Biennale
Angkat figur pejuang perempuan Len Karamoy
Natasha Tontey bawa cerita dari Indonesia ke Venice Biennale ke-61. Lewat karya terbarunya yang berjudul “The Phantom Combatants and the Metabolism of Disobedient Organs,” ia tampil di Ateneo Veneto, Venice, bareng dua institusi seni, LAS Art Foundation dan Amos Rex.
Di karya ini, Tontey ngangkat sosok Len Karamoy, pejuang perempuan dari Sulawesi Utara di era 1950-an yang terlibat dalam gerakan Permesta. Tapi ceritanya nggak disajikan secara historis biasa. Sosok Karamoy diolah jadi figur mitologis yang berkembang jadi “Phantom Combatants,” semacam pasukan kolektif yang punya kekuatan transformasi. Ceritanya juga main di tema pengkhianatan, balas dendam, sampai proses perubahan tubuh yang terasa simbolis dan cukup liar.
Instalasinya menghadirkan video, suara, cahaya, sampai elemen patung yang dibungkus dengan estetika campy ala film B-movie. Di saat yang sama, Tontey juga pakai teknologi seperti LiDAR, thermal camera, sampai teknik imaging lain buat ngebahas gimana tubuh dan wilayah bisa dipetakan, diukur, bahkan dimiliterisasi. Unsur budaya Minahasa juga jadi layer penting, termasuk referensi ke konsep purgatory yang ngebahas kondisi “di tengah” antara konflik yang belum selesai.
Karya ini jadi bagian dari seri Macho Mystic Meltdown dan bisa dibilang salah satu proyek paling besar Tontey sejauh ini. Lewat pendekatan yang cukup teatrikal tapi tetap reflektif, ia ngajak kita buat ngelihat ulang soal kedaulatan, bukan cuma soal wilayah, tapi juga tubuh dan cara kita memahami dunia di tengah situasi yang terus berubah.
View this post on Instagram



















