Ayako Rokkaku tentang ‘THE ISLAND – ONIGASHIMA’ dan Menciptakan Kebahagiaan dari Dalam Diri
Seniman Jepang ini mengubah LANDMARK Atrium menjadi ruang di mana pengunjung diajak kembali menemukan rasa takjub masa kecil.
Selama High Art Week Hong Kong, LANDMARK Atrium berubah total berkat hadirnyaAyako Rokkaku’s THE ISLAND – ONIGASHIMA. Seniman asal Jepang ini menghadirkan sebuah intervensi berskala besar di mal ikonis tersebut, menggantikan atmosfer mengilap nan glamor dengan lanskap organik berisi figur-figur kawaii, bentuk bergelombang, dan tekstil lembut. Berlokasi di jantung kawasan Central, atrium terbuka ini sudah lama menjadi kanvas utama bagi instalasi seni berskala besar, namun pembukaan kali ini menandai sebuah pencapaian penting: pameran tunggal perdana Rokkaku di Hong Kong sekaligus instalasi terbesarnya di dunia dalam ruang komersial.
Denyut utama proyek ini terletak pada kekerabatan geografis antara Hong Kong dan Jepang. Menyadari identitas kepulauan yang mereka miliki bersama, Rokkaku kemudian menengok keOnigashima (Demon Island) dari Momotaro – salah satu pilar folklor Jepang – sebagai jangkar visinya. Jika pulau legendaris itu dulu digambarkan sebagai tempat kejahatan, versi Rokkaku justru menghadirkan kehangatan dan rasa nyaman. “Jepang adalah negara kepulauan, dan Hong Kong juga punya banyak pulau,” jelasnya, seraya menambahkan bahwa kedekatan ini memicu keinginannya untuk menciptakan sebuah suaka tempat pengunjung bisa “menjelajahi makhluk-makhluk tak dikenal ini bersama-sama.” Dengan menyuntikkan nuansa misteri dan rasa takjub kekanak-kanakan ke dalam lanskap, ia mengaburkan batas antara dunia kreatif batinnya dan pengalaman fisik para pengunjung.
Perwujudan fisik dariTHE ISLAND – ONIGASHIMA dimulai enam bulan lalu melalui proses eksperimental membentuk tanah liat. “Saya bukan orang yang suka membuat rencana,” ujar Rokkaku, mengenang bagaimana tanah liat itu perlahan-lahan berubah wujud menjadi bentukoni (monster), yang pada akhirnya menjembatani folklor warisannya dengan topografi Hong Kong. Semangat spontanitas ini semakin terasa saat pertunjukan live painting di pembukaan instalasi. Menggunakan tangan kosong untuk menumpuk pigmen-pigmen berwarna pekat langsung di permukaan, Rokkaku menghadirkan sekilas momen intim tentang keterhubungan yang begitu fisikal antara seniman dan medium karyanya.
Dengan menyadari kesamaan sebagai wilayah kepulauan antara Hong Kong dan Jepang, Rokkaku kembali merujuk pada pulau mitisOnigashima (Monster Island) dariMomotaro, kisah terkenal dalam folklor Jepang, sebagai landasan visinya. Jika pulau dalam dongeng aslinya terasa jauh lebih kelam, versi Rokkaku justru hangat, nyaman, dan super imut. “Jepang adalah negara kepulauan dan Hong Kong juga punya banyak pulau,” jelas sang seniman, menegaskan bahwa gema geografis ini memicu keinginan untuk menciptakan ruang di mana semua orang bisa “menjelajahi makhluk-makhluk tak dikenal ini bersama-sama”. Dengan menginfuskan pulau ini dengan perpaduan misteri dan rasa takjub ala anak kecil, ia mengaburkan batas antara dunia batinnya dan pengalaman para pengunjung.
Pada akhirnya, pameran ini berfungsi sebagai suaka kebebasan dan “energi hidup” di tengah denyut ritel mewah kawasan Central. Pengunjung diajak untuk menyentuh, merasakan, bahkan bersantai bersama instalasi, menjadikan aktivitas melihat karya sebagai perjalanan personal. Rokkaku menuturkan bahwa keterbukaan ruang LANDMARK memberinya rasa leluasa, memungkinkannya untuk “menciptakan kebahagiaan dari dalam diri” dan kemudian membagikan energi itu kepada publik.
“[LANDMARK Atrium adalah] tempat di mana saya merasa punya ruang untuk menciptakan kebahagiaan dalam diri saya sendiri, dan pada gilirannya, saya ingin memenuhi seluruh area ini dengan kebahagiaan itu.”
THE ISLAND – ONIGASHIMAadalah instalasi terbesar Anda sejauh ini. Apa yang memicu keterhubungan antara folklor Jepang dan geografi Hong Kong?
Ayako Rokkaku: ONIGASHIMAberasal dari sebuah dongeng Jepang yang sangat terkenal berjudulMomotaro. Saat saya mencari benang merah antara Hong Kong dan Jepang, saya menyadari bahwa keduanya sama-sama didefinisikan sebagai pulau yang dikelilingi pulau-pulau lain. Jadi, saya memilihTHE ISLANDsebagai tema utama dan mulai membayangkan makhluk seperti apa yang hidup di pulau fiksi saya ini, lalu mengundang orang lain menjelajahinya lewat karya saya.
Versi Anda tentang monster island dariMomotaroterasa jauh lebih hidup dan kawaii. Apakah itu pilihan yang disengaja?
Ya, sudah tentu. Dalam semua karya saya, saya selalu menonjolkan kelincahan dan “energi hidup”. Saya ingin orang benar-benar merasakan gerak dan energi ketika melihat karya saya. Meski LANDMARK adalah kompleks komersial, saya terkejut dengan rasa terbuka dan lapangnya. Itu memberi saya rasa bebas. Di sinilah saya merasa punya ruang untuk menciptakan kebahagiaan dalam diri, dan pada gilirannya, saya ingin memenuhi seluruh area dengan kebahagiaan itu.
Anda sempat menyebut tidak terlalu suka merencanakan. Bagaimana spontanitas itu bisa diwujudkan dalam proyek sebesar ini?
Saya sebenarnya bukan tipe yang mengikuti rencana ketat. Proyek ini baru benar-benar dimulai enam bulan lalu ketika saya mulai bermain dengan tanah liat. Bentuk-bentuknya perlahan tampak sepertionibagi saya pada satu titik, lalu koneksi antara pulau-pulau Hong Kong dan Jepang terasa langsung mengklik. Saya membuat model tanah liat awalnya, tetapi realisasinya adalah hasil kerja tim bersama tim kreatif LANDMARK, yang membantu mewujudkan visi ini dengan memberi masukan soal material kain dan palet warna. Saya benar-benar tidak bisa mengklaim semua pujian; proyek ini pada dasarnya adalah sebuah kolaborasi.
“Saya benar-benar ingin [pameran ini] menjadi pelarian dari realitas — kalau sampai mengingatkan Anda pada selembar kenangan masa kecil atau perasaan yang sudah lama terlupakan, itu akan luar biasa.”
Kebanyakan pameran seni menerapkan aturan “boleh melihat saja, jangan menyentuh”. Mengapa penting bagi pulau ini untuk bisa diraba dan interaktif?
Saya ingin orang menikmati kepolosan momen berada sedekat ini dengan karya seni tanpa terlalu banyak berpikir. Jarang sekali seseorang bisa sedekat ini dengan karya, jadi gagasan bahwa siapa pun boleh menyentuh dan merasakan pameran ini justru menginspirasi proses saya sendiri. Saya benar-benar ingin pameran ini menjadi pelarian dari kenyataan — kalau sampai memicu kenangan masa kecil atau perasaan yang lama terlupa, itu akan sangat luar biasa.
Inspirasi dalam karya Anda tampaknya merupakan perpaduan antara yang alami dan yang artifisial. Bagaimana dua dunia ini berdampingan di benak Anda?
Ini adalah perpaduan antara alam dan budaya buatan manusia. Saya suka berjalan di hutan, mengamati bagaimana cahaya menembus dedaunan atau bagaimana ombak bergerak — gerakan-gerakan organik seperti itu sangat menginspirasi saya. Tumbuh besar di Jepang, saya secara alami selalu dikelilingi karakter-karakter kawaii dan budaya pop – semua itu menjadi sumber inspirasi karya saya. Terutama warna-warna artifisial seperti neon pink, yang tidak kita jumpai di alam, sangat esensial bagi saya, karena karya saya memang perpaduan dua dunia tersebut.
Saat menatap masa depan, adakah medium baru yang ingin Anda eksplorasi?
Karena saya tidak suka merencanakan, saya sepenuhnya mengandalkan insting. Saya hanya bisa menunggu dan melihat, alat atau material apa berikutnya yang akan memunculkan rasa tertentu ketika saya bersentuhan dengannya.
Karya Ayako RokkakuTHE ISLAND – ONIGASHIMAsaat ini tengah dipamerkan di LANDMARK ATRIUM hingga 17 April 2026. Pengalaman imersif ini berlanjut ke area bawah, BELOWGROUND, yang berfungsi sebagai galeri sekaligus ruang ritel pelengkap pameran. Di sini, gaya energik khas sang seniman dihadirkan lewat seleksi lukisan orisinal yang terkurasi, menawarkan sudut pandang lebih intim terhadap karya-karya kanvasnya. Ruang ini juga menjadi tuan rumah pop-up eksklusif dengan merchandise edisi terbatas, termasuk kolaborasi lampu spesial bersama AllRightsReserved, yang memungkinkan para penggemar membawa pulang sepotong kecil dunia berpendar milik Rokkaku.
LANDMARK
15 Queen’s Road Central,
Central, Hong Kong



















