Alasan Tiger Woods Kini Lebih Memilih Sepatu Golf Klasik
Stabilitas, riwayat cedera, dan rekayasa modern membentuk filosofi alas kaki di balik lini Pioneer milik Sun Day Red.
Ingat foto Tiger Woods di Masters 2013? Dari kepala sampai kaki serba Nike. Polo dengan potongan geometris dan blok warna tegas, lengkap dengan sabuk senada. Dan sepatu sintetis berujung lebar, TW ’13 itu, bahkan sempat dirilis ulang beberapa tahun lalu. Itu adalah puncak era sneaker dalam dunia golf, dan Tiger adalah wajah utamanya.
Namun prioritas bisa bergeser. Cedera dan rangkaian comeback seolah menjadi penanda tiap bab dalam karier Tiger. Dan pada 2022, ketika ia kembali bermain setelah kecelakaan mobil yang nyaris merenggut nyawanya, pilihan sepatunya ikut berevolusi.
“Sekarang pergerakan saya sangat terbatas dengan batang logam, pelat, dan sekrup di kaki saya,” ujar Tiger pada musim semi itu. “Saya butuh sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membuat saya bisa lebih stabil.”
“Sesuatu” itu adalah FootJoy Premiere Series: sepatu berpenampilan klasik yang dirancang dengan fokus pada stabilitas lateral, traksi, dan heel drop tradisional. Pilihan ini lebih mendekati rekomendasi dokter daripada sekadar keputusan gaya.
Preferensi tersebut berlanjut ke era pasca-Nike lewat Sun Day Red, di mana lini Pioneer merefleksikan gagasan serupa: tampilan klasik dengan rekayasa yang menempatkan stabilitas di urutan pertama.
Saat tim menunjukkan konsep awal, satu desain langsung mencuri perhatian. “Kami tahu dia menginginkan sesuatu dengan nuansa yang lebih klasik,” ujar desainer footwear Sun Day Red, Tyler Pinkos. “Kami perlihatkan sekitar 15 desain, dan dia menunjuk satu lalu berkata, ‘Itu saya. Itu saya banget. Saya orang klasik.’ Yang paling ia suka adalah fondasinya—bagian bawah yang lebih stabil dan lebih kaku.”
Filosofi itu hadir dalam detail-detail yang mungkin luput dari perhatian sebagian besar pemain. Sepatu Pioneer mengadopsi profil tumit halus yang terinspirasi dari sepatu dress, tetapi dengan heel drop yang jauh lebih rendah daripada sepatu golf tradisional (tepatnya 6 mm), sehingga Anda mendapatkan pijakan mantap seperti yang diinginkan Tiger tanpa mengangkat kaki atau mengganggu keseimbangan.
“Merek-merek olahraga biasanya tidak melakukan itu,” ujar Pinkos. “Jadi kami mengambil inspirasi dari sepatu dress dan melakukan banyak riset soal stabilitas—komposisi foam, ketinggian, hingga tingkat kekerasannya (durometer). Kami benar-benar mengulik habis bagian tooling. Begitu itu sempurna, merancang upper justru hampir menjadi bagian yang paling mudah.”
Model terbaru, Pioneer Willow, mempertahankan rangka yang sama sambil memoles siluet dengan garis yang lebih bersih, sistem tali terbuka, dan profil yang sedikit lebih ramping. Estetikanya berbeda, tetapi gagasan dasarnya tetap sama.
Itulah poin utamanya. Seiring bergesernya karier Tiger, definisi performa versi dirinya pun ikut berubah. Gaya serbainspirasi sneaker di era 2010-an berganti menjadi sesuatu yang lebih membumi, dibentuk oleh rasa, stabilitas, dan fokus pada panjangnya usia karier. Klasik, dalam konteks ini, bukan sekadar soal bentuk. Ini tentang merancang sepatu yang benar-benar selaras dengan di mana Tiger berada sekarang.



















