Kehidupan Baru yang Penuh Main-main dari Imperium dalam “I, Pet Lion” Karya Mohamed Monaiseer
Bagaimana seniman berbasis Kairo ini memadukan perang dan fantasi lewat papan permainan vintage karyanya.
Selama seni berkisah pada kita tentang keindahan, s told us one of power. Egyptian artist ia juga selalu bercerita tentang kuasa. Seniman asal Mesir Mohamed Monaiseermenautkan dirinya pada dualitas ini lewat seri “I, the Pet Lion” yang baru-baru ini dipresentasikan bersama Gypsum Gallery di Art Basel Qatar, menelusuri bagaimana sejarah kolonial merembes ke dalam objek-objek permainan yang “menggoda namun berbahaya”. Meski berkilau, megah, dan seolah jenaka, karya-karya Monaiseer tidak
Monaiseer traces how the language of conflict embeds itself in what we know play to be — if war is a game, then people are its pawns. Chessboards and Ludo sets hang beside shields and banners clad with mythical creatures, recalling childhood relics while collapsing the lines between fantasy and warfare. The lion itself best embodies this contradiction, both a protector and predator, mirroring how power presents itself as reassuring even as it remains inherently violent.
berniat melunakkan sisi tajam kekuasaan, melainkan membongkar bagaimana estetika dominasi menyamar bahkan di dalam ritual kita yang tampak paling lugu sekalipun.
Monaiseer menelusuri bagaimana bahasa konflik meresap ke dalam apa yang kita pahami sebagai permainan — jika perang adalah sebuah permainan, maka manusialah bidaknya. Papan catur dan set Ludo tergantung di samping perisai dan panji yang dihiasi makhluk-makhluk mitis, membangkitkan kembali relik masa kecil sambil meruntuhkan batas antara fantasi dan peperangan. Sang singa sendiri menjadi perwujudan paling gamblang dari kontradiksi ini: sekaligus pelindung dan pemangsa, mencerminkan bagaimana kekuasaan menampilkan diri sebagai sesuatu yang menenteramkan meski pada hakikatnya tetap brutal.Dalam tampilan memikat yang memadukan lukisan, sulaman, dan aplikasi khayamiya, sang seniman merujuk pada gestur repetitif dan meditatif seni Islam, sembari dengan cermat mengusik ketepatan itu: ujung-ujung kain yang berjumbai dan asimetri tipis memecah ilusi keteraturan, menyingkap retakan dalam sistem yang membanggakan kendali. Menyusul Art Basel Qatar, kami berbincang dengan Monaiseer tentang “I, the Pet Lion” dan beragam wajah kekuasaan. Simak wawancara lengkapnya berikut ini
Proyek ini berawal setelah kunjungan pertama saya ke Inggris, ketika saya merasakan ketegangan antara kekaguman atas apa yang saya alami di sana dan kesadaran saya akan sejarah kolonial yang memungkinkannya — sejarah yang terkait dengan ekstraksi, eksploitasi, dan dampak berkelanjutannya pada konteks saya sendiri.
“I, Pet Lion” menelisik bagaimana sistem-sistem kontemporer menormalkan kekuasaan imperial dan membentuk kesadaran kolektif. Proyek ini merefleksikan bagaimana otoritas, rasa memiliki, dan kepatuhan ditanamkan — kerap sejak masa kanak-kanak — serta bagaimana kekerasan dan dominasi dapat bersembunyi di balik kedok legitimasi atau perlindungan. Karya ini mengulas bagaimana pendudukan memelintir identitas kultural dan menjebak masyarakat di antara masa lalu yang dirampas dan masa kini yang terkompromi. Ia juga menimbang bagaimana individu direduksi menjadi instrumen dalam struktur politik dan ekonomi yang lebih besar, serta bagaimana siklus kehancuran dan rekonstruksi direkayasa untuk mempertahankan kendali.Saya mengeksplorasi gagasan-gagasan ini lewat metafora seperti permainan dan bermain. Permainan masa kecil mencerminkan sistem orang dewasa: Ludo menjadi metafora padat untuk perluasan kolonial, sementara catur membangkitkan asosiasi strategi dan perang.
“Setiap lembar kain menyimpan memori yang menggantung di antara kelembutan dan kebengisan.”
Bagaimana Anda memanfaatkan kriya dan tekstil sebagai medium untuk mengekspresikan memori kolektif maupun personal?
Seni adalah bahasa visual yang dibangun dari alat dan keterampilan, baik yang dibuat tangan maupun industri. Keterampilan manual membawa energi manusiawi — ketika itu memudar, jejak kemanusiaan pun ikut surut. Saya mengintegrasikan kriya untuk menjaga kehadiran itu dan merefleksikan bagaimana mekanisasi perlahan-lahan menggusurnya.
Tekstil, khususnya, menarik bagi saya karena kedekatannya dengan tubuh. Ia hadir dalam ruang-ruang perawatan dan perlindungan — pakaian, seprai, interior domestik — namun juga dalam kekerasan, sebagai pelapis mesin-mesin militer. Setiap kain menyimpan memori yang menggantung di antara kelembutan dan kebengisan.
Bisakah Anda jelaskan pilihan hewan dalam karya-karya ini dan bagaimana mereka mewujudkan dualitas kendali dan permainan?
Hewan adalah cerminan kuat dari kondisi manusia, dalam naluri, emosi, dan perilaku. Mereka mengingatkan kita bahwa di balik retorika peradaban, kita tetap diatur oleh struktur purba tentang dominasi dan bertahan hidup.



















