Laju Cepat Sara Choi, dari Drifting Track Hingga ke Ranah Fashion Lewat Label BADSEKI
An interview with Sara Choi
Drifting sering kelihatan keren dari layar digital. Dari asap ban hingga build JDM, semua seru ketika dilihat sebagai konten. Tapi buat Sara Choi, drifting nggak pernah sesimpel itu. Ini bukan cuma soal gaya, tapi soal mental, disiplin, dan hidup dengan risiko yang nyata. Sebagai pro drifter dan stunt performer, Sara datang dari dalam scene, bukan dari kursi penonton.
Di obrolan ini, Sara cerita soal gimana drifting ngebentuk cara dia menghadapi rasa takut, kontrol diri, dan komitmen, baik di track maupun di luar. Mulai dari keresahannya lihat kultur JDM yang makin direduksi jadi estetika media sosial, sampai kenapa BADSEKI lahir sebagai upaya buat jaga makna dan sejarah car culture.
HB: Kapan pertama kali lo sadar kalau drifting itu bukan cuma hobi, tapi udah jadi way of life?
SC: Sejak kecil gue emang tipe adrenaline junkie. Rebel, suka ambil risiko, dan ngejar sensasi ekstrem. Jadi hidup gue dari dulu ya soal being a rebel dan ngejar “high.” Karena gaya hidup itu, drifting akhirnya masuk ke hidup gue sebagai passion. Buat gue, ini bukan cerita hobi yang kemudian jadi gaya hidup. Justru drifting itu lahir dari cara gue menjalani hidup. Apalagi gue besar di lingkungan mobil, kerjaan pertama gue juga di bengkel tuning. Dari situ drifting jadi bagian dari perjalanan hidup gue.
HB: Lo pernah bilang drifting bikin lo kehilangan rasa takut sama kematian. Sebenarnya apa yang berubah di pikiran waktu rasa takut itu ilang?
SC: Kalau lo main drifting level advanced di motorsport serius, buat sampai ke level tertentu, mental tanpa rasa takut itu harus ada secara natural, termasuk ngalahin fear of death. Drifting itu high-speed entry, ngerem di detik terakhir sebelum tembok. Lo harus sepenuhnya hadir di momen sekarang buat bisa nyampe ke level itu.
Buat stay present itu butuh inner work yang besar. Rasa takut bikin anxiety, dan kalau dipikir-pikir, takut sama masa depan itu lahir dari kondisi pikiran lo sekarang. Kalau mindset lo bisa dikontrol di present moment, anxiety dan fear bisa hilang. Di drifting, dua hal itu justru bikin lo self-sabotage.
HB: Di luar track, gimana drifting ngerubah cara lo menghadapi kontrol, kecemasan, dan komitmen?
SC: Drifting, apalagi kompetisi, jadi cermin hidup gue. Dari situ gue bisa lihat sisi-sisi diri gue yang perlu diperbaiki. Di drifting, kalau lo nggak full commit ke momen sekarang karena takut, overthinking, atau ragu ambil risiko, lo pasti bikin kesalahan. Ini bukan soal setting mobil atau teknis, tapi soal mental.
Karena drifting, gue belajar breathing exercise, meditasi, dan baca buku soal letting go, termasuk soal judgement orang lain. Dari situ hidup gue di luar track juga jadi lebih self-aware.
HB: Beberapa tahun terakhir drifting dan kultur JDM meledak di media sosial, tapi sering direduksi cuma jadi visual, estetika, dan lifestyle. Gimana perasaan lo soal itu?
SC: Menurut gue ini pedang bermata dua. Popularitas itu bagus, tapi otomatis narik orang-orang yang cuma mau numpang tren. Estetika emang bagian penting dari car culture. Tapi buat drift racer, takeover itu bukan drifting. Crowd takeover juga bukan bagian dari scene JDM atau drift yang asli. Donut di tengah jalan, nutup highway, bikin kecelakaan, itu bukan car culture.
Karena drifting jadi estetika populer, ada orang-orang yang pakai itu buat melampiaskan sifat rebel mereka dan dibungkus seolah-olah itu culture, padahal jatuhnya riot.
Soal build JDM yang nggak autentik, jangan mulai. Ini kayak fashion, orang pakai barang KW tapi dipamerin seolah asli. Sejarah dan style autentik jadi hilang. Dulu gue sempat khawatir ini bakal dinormalisasi, tapi sekarang gue lebih hopeful karena banyak orang di komunitas yang speak up. Plus, hype fatigue itu nyata. Lama-lama orang bakal bisa bedain mana yang autentik dan mana yang nggak.
HB: Di dunia yang digerakkan algoritma dan tren instan, menurut lo subculture masih bisa tumbuh secara organik nggak?
SC: Sekarang banyak orang di komunitas, termasuk gue, yang aktif edukasi dan ngomong soal respect dan autentisitas. Buat jaga akar subculture, penting banget buat terus ngajarin orang soal sejarah dan proses di balik JDM, drift, dan car culture.
Dengan estetika makin mainstream, orang mulai sadar kalau masuk ke scene JDM yang asli itu nggak gampang kalau lo cuma tertarik visualnya doang. Harus ada ketertarikan yang genuine ke semua aspek kultur. Subculture masih bisa tumbuh organik, tapi dengan car scene udah masuk ke mass culture lewat media sosial, fashion, dan pop culture, hype crowd itu nggak bisa dihindari. Tugas orang-orang di dalam scene buat jaga supaya yang lebih dari sekadar estetika nggak hilang.
HB: Di titik mana lo ngerasa car culture butuh brand kayak BADSEKI?
SC: Sebagai pro drifter dan stunt performer, gue lihat car culture makin besar. Banyak brand dan musisi pengin pakai mobil JDM atau drifter cuma buat nambah “cool factor”. Gue senang scene ini makin diakui global, JDM dan drifting bukan niche lagi. Tapi ini jauh lebih dalam dari sekadar Initial D atau Fast & Furious.
Waktu banyak brand cuma “minjem” visual otomotif sebagai inspirasi permukaan, kita ngerasa BADSEKI perlu ada. Brand yang lahir dari dalam kultur, paham scene secara natural, dan itu tercermin di desain dan keputusan fashion-nya.
HB: Apa yang BADSEKI nggak akan pernah lakuin dalam merepresentasikan car culture?
SC: Sebagai founder, BADSEKI bukan soal ego gue. Ini soal cinta gue ke kultur dan komunitas yang literally nyelametin gue waktu remaja dan ngasih tujuan hidup. BADSEKI lahir dari rasa sayang ke orang-orang di scene yang gue tumbuh bareng.
BADSEKI bakal menghormati keringat, passion, dan air mata yang jadi bagian sejarah car culture. Gue benci lihat sejarah ini hilang dan kultur nggak dihormati, sengaja atau nggak. Itu satu hal yang BADSEKI nggak akan pernah lakuin. Kita bakal jadi gatekeeper kultur ini.
HB: Apakah BADSEKI juga lo lihat sebagai media edukasi, bukan cuma ekspresi? Dan apa yang perlu orang ‘unlearn’ soal automotive fashion?
SC: BADSEKI gue bikin sebagai ruang buat highlight builder, driver, dan figur autentik yang ngebentuk car culture hari ini. Bukan buat nostalgia, tapi buat konteks. Karena ngerti asal-usul itu ngasih makna ke arah ke depan.
BADSEKI itu people before product. History before hype. Itu yang menurut gue perlu di-unlearn di automotive fashion.
HB: Menurut lo, apa yang kurang dari brand fashion otomotif yang udah ada?
SC: Brand yang benar-benar autentuk, punya akar di otomotif dan motorsports. Bukan sekadar car merch, dan bukan cuma estetika kolaborasi.
View this post on Instagram
HB: Gimana pengalaman lo sebagai driver mempengaruhi cara lo mendesain baju?
SC: Gue nggak yakin driving langsung ngaruh ke sisi kreatif desain, tapi toleransi stres gue yang tinggi, sifat risk-taker, dan hidup yang selalu on the go mungkin ngebantu prosesnya. Di luar dunia mobil, gue extrovert dan suka ketemu orang-orang keren dari berbagai industri. Dari situ gue bangun tim yang solid buat ngejalanin BADSEKI sesuai visi gue.
HB: Percakapan apa yang pengin lo picu lewat BADSEKI, terutama buat generasi muda yang baru masuk scene?
SC: Kalau generasi muda nemu BADSEKI, gue harap mereka bisa lihat figur-figur autentik di automotive scene yang ngebentuk car culture dan motorsports hari ini, dan belajar sejarah di balik kenapa scene ini bisa sekeren sekarang. Mau mereka nyerap atau nggak, itu pilihan mereka.
HB: Terakhir, saat semuanya pelan dan noise hilang, apa yang lo harap orang benar-benar pahami soal drifting dan diri lo lewat BADSEKI?
SC: Ini agak di luar BADSEKI, tapi di drifting, banyak orang langsung mikir, “Oh, cewek jadi pro drifter? Berarti gampang.” Dan buat itu, gue cuma mau bilang: jangan remehin kami. Dan jangan remehin drifting 😉.
View this post on Instagram


















