Diary Sundance 2026 Director Fits: Last Dance Utah
Sosok di balik @directorfits akhirnya ke Sundance pertama kalinya, tepat saat festival ini mengucap selamat tinggal pada Park City.
Sebagai kurator look sutradara paling keren yang bakal kamu lihat di Instagram, langkah awal aku masuk ke industri film benar-benar kilat dan chaos. Apa yang awalnya cuma semacam “distillery” untuk para filmmaker berpenampilan tajam,@directorfits, akun milikku, justru mengantarkan aku ke ruangan-ruangan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Dari menghadiri pemutaran perdana berkarpet merah,berbincang langsung dengan para idola sinema, sampai berkolaborasi dengan studio untuk membuat merch promo, hingga sekarang menghadiri festival film pertamaku mewakili Hypebeast, perjalanan naik kelas ini rasanya benar-benar gila.
Menjelang perjalanan pertamaku ke Sundance Film Festival, jutaan hal berputar di kepalaku. Bisa berada langsung di lokasi salah satu agenda terbesar kalender film seperti ini sudah lama jadi keinginanku. Beberapa nama paling prestisius di ranah film independen memulai karier mereka di sini: Richard Linklater, Steven Soderbergh, Paul Thomas Anderson, dan banyak lagi. Setelah membaca buku Peter Biskind,Down and Dirty Pictures, fantasi di kepalaku mulai menjelma seperti beberapa film favoritku tentang proses membuat film. Aku membayangkan akan tak sengaja bertemu Elvis Mitchell di Main Street atau mengobrol dengan Todd Haynes setelah pemutaran tengah malam. Tapi semua imaji glamor yang kubangun bertahun-tahun itu langsung runtuh begitu aku tiba di Park City, Utah.
Kesalahan pertamaku adalah datang di paruh kedua dari festival 10 hari itu, tepat saat para A-lister mulai terbang kembali ke New York dan LA. Waktu di sana rasanya seperti momen sewaktu SMP ketika ibumu lembur dan kamu jadi salah satu anak terakhir yang menunggu dijemput di sekolah. Meski begitu, justru itu yang membuat pengalamanku terasa lebih unik dan autentik—murni fokus nonton film tanpa segala teatrikal sok-elit yang biasanya menyelubungi festival. Aku tidak menghadiri pemutaran keren, after party, atau makan malam fancy. Aku cuma mendudukkan pantat di bioskop-bioskop biasa dan ruang pemutaran yang lebih proper, sebagian bahkan mirip aula sekolah menengah pada hari hujan. Dan aku menonton film. Aku menikmati setiap detiknya.
Satu hal yang tak akan kulupakan dari Sundance adalah reaksi para penonton di setiap pemutaran. Aku dari LA, kota yang mungkin mencintai film lebih dari siapa pun selain orang Prancis, mungkin? Tapi aku tetap tak percaya melihat betapa hidupnya respons audiens terhadap dialog campy Gregg Araki di I Want Your Sex atau ambisi gila Natalie Portman di dunia seni rupa dalam film Cathy Yan The Gallerist. Yang berikut ini adalah catatan harian pengalaman pertamaku di Sundance, yang juga bertepatan dengan “hurrah” terakhir festival ini di Utah sebelum pindah ke Boulder, Colorado untuk edisi-edisi selanjutnya. Nantikan juga artikel lanjutan soal film-film terbaik yang kutonton, plus beberapa pengamatan soal gaya di Sundance.
Kamis, 29/1
08.15 AM PST
Sampai di bandara dan langsung melihat TV di food court LAX yang memutar wawancara Variety dengan John Wilson soal dokumenter terbarunya,The History of Concrete. Sundance benar-benar terasa di mana-mana bagi mereka yang tahu harus melihat ke mana…
10.00 AM PST
Di depan gate. Aku menunggu naik pesawat dan belum melihat satu pun orang yang tampak seperti akan terbang ke Utah untuk Sundance. Sepertinya lebih banyak skier dan snowboarder? Tanda pertama bahwa aku datang ke festival ini terlalu telat…
10.10 AM PST
Lupakan. Di pesawat, aku sempat menguping dua orang di dekatku yang ngobrol soal datang ke sini untuk festival.
1.20 PM MST
Dua jam di pesawat kuhabiskan dengan “cosplay” sebagai pekerja industri film: mendengarkan podcast Matt Belloni berjudul The Town dan mengedit wawancara yang akan terbit dengan Kleber Mendonça Filho. Rasanya kalau aku dibayar untuk datang ke festival dan menulis tentangnya, berarti aku memang bagian dari industri ini, kan? Entahlah, sesekali aku masih saja jadi korban imposter syndrome…
2.30 PM MST
Aku tiba di hotelku di Park City yang juga menaungi Yarrow Theater. Disambut dengan satu chocolate chip cookie hangat gratis.
3.00 PM MST
Aku pergi ke markas Sundance untuk mengambil press pass selama seminggu. Lalu mampir ke toko resmi merch Sundance dan melihat tumpukan merch yang super mid… mereka seharusnya merekrut aku untuk bikin desain yang lebih menggugah lain kali! Setelah beres, aku menunggu sekitar 20 menit bus lokal Sundance yang mengantar dari satu venue ke venue lain. Sambil menunggu, aku ngobrol dengan salah satu volunteer lokal Park City yang bertugas di acara. Dia menjawab semua pertanyaan bego-ku soal arah ke Main St. dan sebagainya. Gayanya keren banget: rambut panjang beruban, topi lusuh bertulisan Film Crew di samping (bagian depannya sudah terlalu lapuk untuk kubaca), jaket puffer crew resmi Kenneth Cole Sundance (ombre kuning ke hitam), plus banyak pin dari festival tahun ini menempel di sana.
4.30 PM MST
Akhirnya, setelah menunggu selamanya untuk shuttle bus (pengalaman ini jelas tak seglamor kelihatannya dari luar) yang mengantarku ke Main Street, aku sampai juga di episentrum festival. Di sinilah para cowok dari Entourage berkumpul untuk pemutaran Queens Blvd di Egyptian Theatre untuk Vincent Chase. Rasanya benar-benar seperti dalam mimpiku—bahkan lebih. Aku kelaparan, jadi aku masuk ke sebuah Irish pub bernama Flanagans dan melihat-lihat menu, mencari sesuatu yang bisa menghangatkanku. Aku memesan Guinness draught dan fish and chips di bar, lalu mengobrol dengan pria di sebelahku yang sibuk dengan laptopnya. Kami ngobrol soal The Grateful Dead dan buku Marshall McLuhan The Medium Is the Message. Ternyata dia adalah seseorang yang menghasilkan jutaan dari investasi di Shopify saat masih sangat awal, dan sekarang memakai keuntungannya untuk ikut membiayai film. Menurutku, itu cara yang cukup keren untuk menghabiskan profit. Ia bilang memang tak punya film yang tayang di festival ini, tapi ia sangat terlibat dalam proses pembuatan Nirvanna the Band the Show the Movie.
6.00 PM MST
Totalnya, aku berjalan 19.000 langkah di sekitar Main Street hanya untuk menangkap feel keramaiannya. Aku melihat satu pasangan menarik yang tampil dari kepala sampai kaki seperti full Rick Owens. Mereka menolak ketika kutawari untuk memotret mereka. Tampaknya hiruk-pikuk beberapa hari sebelumnya sudah mereda dan kota mulai lengang.
11.30 PM MST
Anthony Mackie terlihat di luar hotelku sedang merokok cerutu bersama teman-temannya sambil berkata, “Terakhir kali gue bohong adalah waktu gue bilang I DO.” Kedengarannya benar-benar tipe suami sejati, kan? Seorang fan mendekat dan berkata, “Bro, gue nggak mau jadi orang itu, tapi…” Mackie langsung menimpali, “Ya jangan jadi orang itu!” Si fan tetap bertanya apakah ia boleh menyapa. Uber-ku datang untuk mengantarku ke pemutaran pertama festival dan aku tak bisa tinggal untuk mendengar akhir percakapan mereka yang seru itu. Mereka terus mengobrol sementara aku menatap ke luar jendela Tesla Model Y Uber-ku.
11.45 PM MST
Sudah duduk manis untuk menyaksikan film Tamra Davis berjudul The Best Summer dan sejauh ini inilah crowd paling menarik yang kulihat di sini. Ternyata meski kota terasa sepi, ruang pemutaran justru penuh energi. Alt girl dengan fishnet, rok, tindik wajah, eyeliner gelap dan micro bangs. Cowok-cowok dengan jaket workwear belel kebesaran dan celana double knee super lebar. Masuk akal sih, mengingat tema filmnya?
Jumat, 30/1/26
1.30 AM
The Best Summer sungguh luar biasa. Dalam doc ini, Tamra Davis mengikuti rombongan all-star band yang tur keliling Australia pada 1995 dan merekam nyaris semua hal. Ia mengajak Kathleen Hanna untuk melemparkan pertanyaan yang sama kepada seluruh personel band yang ikut tur. Melihat Adam Yauch memakai kaos logo klasik Supreme di 1995, hanya setahun setelah James Jebbia meluncurkan brand itu, rasanya gila. Beck bilang resolusi Tahun Barunya adalah akhirnya membeli celana pendek untuk pertama kali sejak ia berusia 10 tahun. Dave Grohl menunjuk rokok dan wine ketika ditanya bagaimana ia bisa tetap tampil di atas panggung. Ingat, ini hanya setahun setelah kepergian Kurt Cobain, lukanya masih terasa sangat mentah.
Secara keseluruhan, doc ini terasa seperti menonton video keluarga di rumah, hanya saja keluarga mereka adalah The Beastie Boys, Sonic Youth, Bikini Kill, Foo Fighters, Pavement, dan seterusnya. Davis memilih mempertahankan long cut dengan kamera goyang alih-alih mengeditnya jadi potongan cepat yang rapi. Hasilnya membuatmu merasa benar-benar berada di ruangan yang sama dan ikut di jalan bersama mereka. Ada begitu banyak momen behind-the-scenes yang intim dan langka. Sekarang, kita sudah terbiasa melihat konten seperti ini dari artis favorit kita berkat Instagram dan TikTok. Rasanya seperti perpaduan wawancara gaya “man on the street” dan konten budaya rekomendasi yang bertebaran di feed kita… tapi ini di tahun 1995. Kamu bahkan bisa membayangkan akun resmi Coachella di Instagram membuat konten persis seperti ini…
Di sesi Q&A setelah pemutaran, seseorang bertanya pada Tamra Davis, kalau sekarang ia boleh mengikuti satu band lagi, siapa yang ia pilih? Jawabnya: Geese. Seorang member Ion Pack kelihatan di sana, kupikir itu KJ. Tiba-tiba seseorang pingsan tepat di depanku saat kami menuruni tangga; itu menakutkan sekali. Untungnya mereka kembali siuman, tapi selama beberapa menit kami semua panik sementara staf festival berlari mencari bantuan medis. Saat aku berjalan keluar, aku menyadari bahwa crowd-nya mirip sekali dengan orang-orang yang tampak di bagian penonton konser di film tadi.
8.30 AM MST
Dengan modal tidur sekitar 5,5 jam, aku bangun, bersiap, dan mulai berjalan dari hotel ke The Ray Theater tempat seremoni penghargaan Sundance akan berlangsung. Entah bagaimana, aku berhasil menyusup ke ruang pers. Meski punya press pass, aku tak berhasil masuk ke daftar resmi media yang boleh ikut di press line acara itu. Kekacauan di ruangan justru membantuku melenggang tanpa banyak dilirik (untuk sementara).
Aku langsung melihat Eugene Hernandez, direktur festival sekaligus founder IndieWire. Ia memakai sepatu Paraboot Briac dan kacamata Jacques Marie Mage. Tahu bahwa ia pria dengan selera tinggi, aku merasa wajib menanyainya soal gaya di festival yang ia pimpin. Sedikit name dropping Hypebeast dan Director Fits cukup manjur. Di tengah kesibukannya, begitu mendengar nama media tempatku menulis, ia meluangkan delapan menit untukku.
9.30 AM MST
Setelah sekitar satu jam berada di ruang pers yang sumpek, bising, dan kacau, aku memutuskan keluar sebentar untuk menghirup udara sebelum jajaran nama besar di seremoni penghargaan diumumkan. Begitu aku melangkah keluar, sebuah nomor tak dikenal dari LA masuk. Aku angkat, dan suara di ujung sana terdengar sangat familiar. Ternyata kepala HR dari pekerjaan harianku sebagai strategist di sebuah agensi iklan besar di LA. Wah…
Dengan sangat lugas ia mengabarkan bahwa karena pemangkasan anggaran, posisiku dihapus. Oke, mantap. Dengan kabar itu, aku kembali ke ruang pers dan melihat kesempatan untuk mewawancarai sutradara Filipiñana, Rafael Manuel. Ia memakai setelan korduroi monokrom warna zaitun. Celananya mengatung dan memperlihatkan sepasang Paraboot Michaels yang indah. Dua pasang Paraboot di ruangan yang sama? Ini antrean di Maru Coffee atau ruang pers Sundance Film Festival? Di balik kemeja kerja korduroinya, ia mengenakan zip-up Lululemon merah terang—kombinasi menarik antara performance gear dan workwear. Pemilihan warnanya juga keren.
10.00 AM MST
Penyamaranku ketahuan. Salah satu staf ruang pers memperhatikan aku yang jelas-jelas tampak tidak pada tempatnya. Meski lanyard pers tergantung di leher, ia tetap bertanya apa yang kulakukan di sana karena semua media yang boleh ada di ruangan punya placard khusus di lantai. Kecurigaanku benar, aku memang tidak diizinkan berada di sana—tapi aku sudah memaksimalkan waktu singkatku di ruang pers. Contoh sempurna dari model “lakukan saja sampai ada yang melarang”.
11.00 AM MST
Aku lalu melenggang ke bar lain di Main Street, menenggak beberapa pint Guinness dan menenggelamkan diri dalam duka atas pekerjaan yang baru saja hilang. Kuserahkan tanda tangan di dokumen pesangon. Boom, seketika itu juga statusku resmi menganggur.
3.30 PM MST
Rafael Manuel dan film panjang debutnya Filipiñana adalah dua penemuan baru bagiku. Sejak awal, aku memang ingin menonton film-film yang sama sekali belum ada di radarku, dan ketika undangan untuk film ini datang begitu saja, aku langsung mengiyakan. Film ini terasa seperti metafora visual besar tentang kelas dan gender di Filipina. Berlatar di sebuah lapangan golf mewah, yang menurut Manuel kini sedang sangat booming di Filipina. Konon, karena aturan jaga jarak saat pandemi, golf berkembang pesat di sana. Lapangan golf di film ini menjadi mikrokosmos dinamika kelas dan gender di Filipina.
Di sesi Q&A, Manuel menjelaskan bahwa negaranya sangat subur secara agrikultur, tapi di tempat seperti lapangan golf, kesuburan itu hanya bisa dinikmati segelintir orang kaya. Ada dikotomi yang kaku antara para pegawai, caddy, dan para pekerja kebersihan di resor tersebut. Secara visual, film ini sangat cantik. Sulit percaya bahwa ini adalah film panjang pertama sang sutradara, pemeran utama, penata produksi, dan penata kostum. Karya mereka terasa matang dan penuh keyakinan. Sebuah tambahan yang kuat untuk jagat slow cinema. Aku suka sekali shot yang locked-off, minim pergerakan kamera. Semua pilihan terasa sangat terencana dari awal sampai akhir.
6.00 PM MST
Aku kembali ke sebuah bar (tanpa alkohol kali ini) dan mencoba menyusun rencana kasar soal bagaimana menjalani hidup tanpa pemasukan tetap.
7.30 MST
Aku berjalan menyusuri jalan menuju sebuah restoran sushi dan duduk. Aku sedang ngidam sedikit rasa Los Angeles. Biasanya aku jarang merasa rindu rumah, tapi kali ini kerasa sekali.
Sabtu
31/1/26 10.08 AM MST
Pemutaran ketigaku di festival ini adalah film karya Andrew Stanton berjudul In the Blink of an Eye. Film yang langsung membuatmu sadar bahwa Stanton juga menyutradarai WALL-E. Terus terang, aku mengira film ini bakal jadi tontonan yang bikin mata berputar: cheesy, klise, mudah ditebak, dan memainkan emosi dengan cara murahan dan jelas. Dan sebagian besar memang begitu… tapi tetap saja, sial, aku tersentuh. Sepertinya aku sedang dalam kondisi rapuh dan film ini datang di timing yang pas?
Ini kisah yang merentang 47.000 tahun, mengeksplorasi hidup dan mati dari sudut pandang Neanderthal, manusia masa kini, dan sekelompok manusia di masa depan yang berusaha mengisi sebuah planet lain. Kalau dipikir-pikir lagi, film ini terasa seperti propaganda SpaceX yang agak bullshit… Itulah kekuatan menonton film di layar besar, ruang gelap, bersama orang lain. Kadang sesuatu yang sebenarnya hanya mid pun bisa menggerakkanmu dan membuatmu luluh. Film ini benar-benar jadi favorit penonton yang jelas-jelas lebih tua. Orang-orang tertawa di semua lelucon garing dan di akhir banyak yang tersedu dan mengusap air mata.
12.00 PM MST
Aku memasukkan namaku ke daftar tunggu untuk Once Upon a Time in Harlem. Semoga saja tembus.
3.00 PM MST
Pemutaran keempatku di festival ini, Once Upon a Time in Harlem adalah kapsul waktu yang sangat indah tentang Harlem Renaissance garapan William dan David Greaves. Mereka mengumpulkan para pilar era renaissance di flat Duke Ellington pada 1972. Cara pengambilan gambarnya membuatmu merasa seperti pengamat yang ikut nongkrong di tengah percakapan. Tokoh-tokoh seperti Ernest Crichlow, Eubie Blake, dan Arna Bontemps bernostalgia tentang masa lalu dan dampak yang ditinggalkan rekan-rekan mereka seperti W. E. B. Du Bois dan Langston Hughes. Ini adalah dinner party yang sungguh membuatku iri. Bayangkan sekelompok intelektual sedang minum, merokok, bercerita, bermain piano, berdebat, sepakat, lalu tertawa bersama. Siapa yang tidak ingin ada di sana?
Ini sejauh ini adalah film dengan gaya berpakaian terbaik yang kutonton di sini. Mungkin karena ini orang-orang sungguhan dengan pakaian sungguhan? Atau memang orang ‘70-an berpakaian jauh lebih keren dibanding kita sekarang, sesederhana itu. Terlalu banyak setelan jas dengan kerah runcing memanjang yang memukau, kemeja bermotif dengan kerah besar berlebihan, dasi dan celana lebar. Gaun renda cantik dan perhiasan kostum yang wah… Kita perlu menghidupkan lagi level kemewahan seperti ini. Kalau versi kontemporer para tokoh itu kamu kumpulkan dalam satu dinner party, akankah tampilannya se-glorious ini? Sulit ditebak, tapi taruhanku: tidak.
4.30 PM
Dalam perjalanan ke Salt Lake City untuk menyaksikan film Cathy Yan The Gallerist.
5.15 PM
Tiba untuk menonton The Gallerist, pemutaran kelima di festival ini. Kerumunannya super hectic. Film dibuka dengan kutipan ikonik Andy Warhol, “Art is anything you can get away with.” Intinya, film ini adalah tentang bagaimana seni kontemporer pada dasarnya kebanyakan bullshit. Yang utama adalah cerita yang kamu jual, marketing, dan hype buatan—bukan substansi karya atau senimannya sendiri.
Secara visual, film ini sangat bergaya, dengan begitu banyak pergerakan kamera dan panning menarik. Penuh celetukan lucu tentang dunia seni kontemporer. Sebuah satire tentang 1% orang kaya yang membeli karya seni hanya untuk dikurung selamanya—semata demi memperbaiki citra atau memuaskan ego. Seni kontemporer memang bullshit, setidaknya sebagian besar. Aku sering merasa konyol tiap kali masuk galeri. Tentu, bukan berarti aku benci seni—itu berlebihan. Tapi kategori dunia seni ala Art Basel atau sosok seperti Mr. Brainwash? Aku benar-benar sulit ikut merayakan itu, dan film ini terasa seperti cermin yang pas.
Aku penasaran sekali mendengar Cathy Yan bicara lebih jauh tentang dunia yang ia bangun di film ini. Outfit para karakter benar-benar on point dengan seragam Miami Art Basel yang berisik, norak, dan pamer. Charli XCX bahkan tertabrak mobil di film ini, lol. Secara keseluruhan, ini tontonan yang sangat seru.
11.40 PM MST
Kembali ke Park City untuk pemutaran keenam sekaligus film yang paling kutunggu di festival ini. Kerumunan gila memenuhi The Ray Theater untuk film pertama Gregg Araki dalam sekitar satu dekade, I Want Your Sex. Mereka bahkan memasang speaker tambahan khusus untuk film ini.
Minggu, 1/2
1.50 AM MST
I Want Your Sex adalah film favoritku di festival ini, sejauh ini. Rasanya begitu fun dan penuh hiburan tanpa henti. Film-film Gregg Araki selalu punya koleksi graphic tee terbaik. Di sini, Cooper Hoffman mengenakan kaos Sonic Youth dan Madonna, sementara Chase Sui Wonders tampil dengan tee Spahn’s Movie Ranch. Cooper Hoffman jelas bintang yang sedang dibentuk. Baik dia maupun Olivia Wilde memberikan performa yang sangat berani di sini. Kamu akan paham maksudku begitu menontonnya. Palet warnanya begitu menyegarkan untuk film modern—tanpa abu-abu kusam dan tone muram. Hijau terang, pink, biru, di mana-mana. Ini juga merupakan pemutaran tengah malam terakhir yang pernah diadakan di The Ray Theater di Park City. Energi penonton begitu dahsyat dengan tawa dan seruan kaget yang bersahutan. Rasanya seperti sedang berada di konser.
10.30 AM MST
Akhirnya, aku menonton film yang paling banyak dibicarakan di kalangan industri selama festival ini. Kabarnya, film Olivia Wilde berjudul The Invite memicu perang penawaran ala Sundance klasik di antara studio-studio besar. Proses itu berlangsung sekitar 72 jam dan berujung pada akuisisi sekitar $15 juta dari A24. Film ini terasa seperti throwback ke komedi seks era ‘60-an yang fun, dan sesekali mengingatkanku pada film klasik Mike Nichols, Carnal Knowledge. Opening credit-nya sangat playful dan jelas terasa sebagai homage ke film Steve McQueen original Thomas Crowne Affair dalam urutan credit-nya.
The Invite menghadirkan salah satu tawa penonton paling riuh sepanjang festival. Di beberapa momen, suara tawa begitu heboh sampai aku tak bisa mendengar dialog berikutnya. Film ini juga menampilkan skor biola menawan dari Dev Hynes yang mengangkat dan mendramatisasi cerita, sekaligus memberi sentuhan campy pada banyak ketegangan di meja makan. Film yang solid, dan aku paham mengapa studio-studio berebut hak tayangnya. Mungkin ini film paling mainstream dan paling jelas ditujukan ke penonton luas yang kutonton di sini. Aku yakin A24 mencium potensi sukses box office rom-com lain seperti yang mereka punya dengan Materialists musim panas lalu.
12.00 PM MST
Rasa rindu pada Los Angeles kesayanganku masih belum hilang. Seorang teman menyarankan aku mampir ke tempat sarapan/brunch terdekat bernama Harvest. Menu-nya terasa seperti sesuatu yang biasa kamu lihat di kafe-kafe hits Melrose. Bukan bagian LA favoritku, tapi mengingat aku berada di tengah-tengah Utah, ini sudah cukup.
1.30 PM MST
Membalas email dan mulai mengedit wawancara yang kulakukan dengan Rafael Manuel dan Eugene Hernandez.
4.20 PM MST
Baru saja keluar dari pemutaran film Kogonada berjudul Zi dan wow, ini salah satu film dengan gambar tercantik dan sinematografi terbaik di festival menurutku. Plotnya, dengan cara yang menyenangkan, agak samar, misterius, dan membingungkan. Semakin kupikirkan, semakin terasa indah dan menghantui. Dari yang kupahami, film ini seolah terperangkap di ingatan terakhir sang tokoh utama ketika ia sudah tua dan mengidap Alzheimer—yang juga hari ketika ia bertemu cinta sejatinya. Romansa antara Zi dan Elle sedikit mengingatkanku pada Mulholland Drive soal rambut pirang palsu yang begitu jelas? Film ini juga didedikasikan untuk Ryuichi Sakamoto. Kalau tidak salah, Sakamoto-lah yang mengisi musik film Kogonada sebelumnya, After Yang jadi ini terasa seperti tribut yang manis untuk seorang legenda absolut.
6.00 PM MST
Aku berusaha keras untuk masuk ke pemutaran terakhir film John Wilson berjudul The History of Concrete tapi lagi-lagi gagal. Di luar film Charli XCX berjudul The Moment, ini sepertinya film paling sulit ditembus di Sundance. Aku mendengar beberapa orang di kota ini juga bercerita tentang usaha mereka yang gagal untuk bisa masuk.
8.30 PM MST
Film terakhir di festival ini bagiku adalah Ha-Chan, Shake Your Booty! di Library Theater. Ini adalah pemutaran Sundance terakhir yang pernah digelar di venue ini. Para staf yang mengelola tempat ini tampak sangat emosional. Beberapa di antaranya sudah menjadi relawan dan bekerja di festival lebih dari 10 tahun. Film ini disambut luar biasa oleh penonton. Kalau boleh merangkum satu hal tentang Sundance: penontonnya sangat terlibat dan responsif. Sebagai seseorang yang sering menghadiri pemutaran film, aku bisa bilang energi seperti ini tidak selalu ada. Antusiasme di setiap screening yang kutonton di sini benar-benar di luar batas, bahkan membuat film yang mid sekalipun terasa spesial.
Ha-Chan, Shake Your Booty! adalah film yang sangat stylish dan konyol untuk kisah tentang kematian suami. Aku memang lemah pada film apa pun yang berlatar Tokyo. Secara keseluruhan, mungkin sedikit terlalu condong ke camp ala anak teater untuk seleraku, tapi aku tetap menikmati menontonnya. Para karakter di film ini tampaknya punya selera bagus. Interior rumah Tokyo mereka tampak menawan dan di dindingnya terpajang poster Punch-Drunk Love dan All That Jazz yang tertempel di dinding. Kartu judul dan semua title card bab di film ini juga fantastis. Aku suka sekali ketika film punya desain grafis yang digarap serius.
Senin, 2/2
5.00 AM MST
Festival sudah berakhir. Aku sedang dalam perjalanan ke bandara Salt Lake City. Tenggorokanku mulai sakit dan hidung terasa mampet. Beberapa teman yang datang ke festival di awal minggu juga merasakan hal yang same. Rasanya, terperangkap di dalam bioskop bersama ratusan orang beberapa kali sehari selama empat hari memang cukup untuk membuatmu tumbang. Aku cinta menonton film di layar besar, tapi beberapa hari terakhir ini jelas terlalu banyak. Kepalaku berdenyut. Extra strength Tylenol adalah sahabat terbaikku sekarang. Mungkin aku akan kembali untuk edisi festival selanjutnya di Boulder, Colorado. Waktu yang akan menjawab.
Untuk konten lebih banyak soal Director Fits, ikuti dia di Instagram dan berlangganan newsletter.



















