WOOYOUNGMI FW26 Menggali Golden Age of Travel
Mengajak penonton seakan berdiri di peron kereta musim dingin Seoul yang bersalju.
Ringkasan
-
Koleksi WOOYOUNGMI FW26 mengeksplorasi “golden age of travel”, memadukan keanggunan historis para komuter jalur kereta api pertama Korea Selatan dengan siluet musim dingin kontemporer yang membalut tubuh.
-
Ikonografi Korea Selatan dihadirkan lewat motif kuil dancheong pada knitwear dan panorama musim dingin bergaya istana yang tercetak pada kemeja sutra, memaknai ulang busana cuaca dingin tradisional dari sudut pandang lokal.
-
Rangkaian aksesori berfokus pada konsep “protective elegance” yang berfungsi melindungi sekaligus memoles penampilan, menampilkan collar bar berlogo perak, heritage luggage dengan tekstur eksotis, serta simbiosis antara sarung tangan opera bernuansa high fashion dan sepatu hiking yang tangguh.
Untuk Fall/Winter 2026, Madame Woo membawa semesta WOOYOUNGMI ke peron beku Gyeongin—jalur kereta api pertama di Korea Selatan. Koleksi ini menjadi sebuah meditasi bernuansa drama tinggi tentang “protective elegance”, yang menjembatani era lokomotif uap di pergantian abad dengan energi kinetik metro modern Seoul. Terinspirasi dari “Far Eastern fantasia” berupa pegunungan berselimut salju dan lanskap kota yang membeku, rangkaian busananya memaknai ulang musim dingin bukan sekadar musim yang harus dilalui, melainkan sebuah pertunjukan gaya yang dijalankan dengan sadar.
Siluetnya menghadirkan tarik-ulur canggih antara dandyisme era Edwardian dan kemewahan santai nan decadent ala 1970-an. Tailoring tampil dengan disiplin yang menonjolkan bentuk tubuh; blazer, pelindung dada faux astrakhan, dan jaket field kulit berpotongan jam pasir direkayasa untuk membalut lekuk tubuh, memberi struktur “tegas namun lembut” melawan cuaca. Material outerwear tradisional digubah menjadi item esensial yang sleek dan intim, sementara bomber faux fur bervolume dan mantel Chesterfield dengan kerah lembut nan mewah menawarkan kontras nomadik yang opulen.
Warisan Korea Selatan ditenun langsung ke dalam DNA wardrobe musim dingin global. Pola knitwear Nordik klasik digantikan secara cerdas dengan motif dancheong—lukisan rumit yang menghiasi kuil-kuil Korea—sementara foulard sutra menampilkan pagoda berselimut salju. Pertukaran budaya ini berlanjut hingga ke aksesori, ketika manset kaku dan kerah tinggi berpalang perak berfungsi layaknya perhiasan. Dipijakkan pada sepatu hiking kulit berkilau dan sarung tangan opera berpadding, koleksi ini menyelaraskan nuansa perjalanan dunia lama—dievokasi lewat tas carryall bertekstur eksotis—dengan “techno-wear” kontemporer sang komuter urban. Diiringi soundtrack lantunan Buddha dan kidung Gregorian yang dihasilkan secara digital, WOOYOUNGMI FW26 menandai babak baru kemewahan nomadik.



















