Interview: Zar Lasahido Bahas Soal Dinamika Padel di Jakarta, Mimpi Olimpiade, Hingga Skeptisisme Padel
Menurut Zar, padel bukan sekadar “tren” sementara
Interview: Zar Lasahido Bahas Soal Dinamika Padel di Jakarta, Mimpi Olimpiade, Hingga Skeptisisme Padel
Menurut Zar, padel bukan sekadar “tren” sementara
Ketika itu jam 9 malam di Madrè Menteng Reserve Padel di kawasan Menteng. Di lokasi itu, tim Hypebeast janjian untuk ketemu dengan Zar Lasahido, pemain padel nomor satu di Indonesia saat ini. Zar sendiri lahir dan besar di Belanda, tempat dia pertama kali nyobain dan jatuh cinta sama padel pas pandemi. Dari sana, dia udah bisa lihat kalau olahraga ini bakal punya masa depan besar di Indonesia.
Lewat cerita-ceritanya, Zar ngejelasin gimana padel bisa berubah dari sekadar tren jadi bagian dari lifestyle, lengkap dengan komunitasnya yang solid. Dia juga ngomongin mimpinya soal Olimpiade, rencana bikin akademi biar lahir talenta-talenta baru, hingga raket padel berlabel PRADA. Here’s what he shared!
HB: Kapan pertama kali lo discover padel? Apakah waktu itu emang udah jadi trend?
Zar: Gue pertama kali kenal padel di Belanda, karena gue lahir dan besar di Amsterdam. Paspor gue Indonesia, tapi di Belanda padel udah gede banget. Di Indonesia tahun 2023 tuh masih kecil banget. Mulainya di Bali, terus pelan-pelan nyebar ke Jakarta dan kota besar lainnya.
Gue discover padel pas Covid di Belanda, dan dari situ gue udah kebayang kalau padel bakal jadi huge banget di Indonesia. Soalnya komunitas tenis di Indonesia kan udah besar. Gue liat lifestyle-nya, orang-orang enjoy main tenis, jadi gampang banget kebayang mereka shifting ke padel.
HB: Banyak yang bilang padel itu the fresh face of Jakarta’s lifestyle scene. Dari perspektif lo, apa sih yang bikin olahraga ini relevan banget sekarang?
Zar: Padel sekarang emang relevan banget di Indonesia, tapi sebenarnya secara global juga relevan. Di Jakarta iya, di Bali juga, karena padel tuh beginner-friendly. Jadi orang yang sebelumnya nggak pernah main olahraga pun bisa main. Dan begitu mereka coba, langsung suka dan ketagihan. That’s the first thing.
Selain itu, di Jakarta atau orang Indonesia in general mereka suka banget jadi bagian dari komunitas. Mereka nyari sense of belonging. Main olahraga itu bukan cuma soal sport doang, tapi juga lifestyle. Apalagi sekarang ada tren orang makin health-conscious. Nah, padel pas banget masuk ke segmen itu.
HB: Apa sih faktor utama yang bikin padel ada di level ini, dari cuma olahraga biasa jadi bagian dari lifestyle dan culture kota?
Zar: Pertama jelas karena olahraganya sendiri. Tapi nggak cuma itu. Ada faktor accessibility dan juga community. Community ini penting banget di Jakarta, karena orang-orang di sini suka networking. Menurut gue ini lumayan unik, biasanya kan sports dan networking jarang digabung. Tapi di padel, karena jumlah court masih terbatas, akhirnya orang ketemu, networking, bahkan business deals juga jalan lewat padel. Itu yang bikin padel bisa naik ke level berikutnya di Indonesia.
Satu lagi faktor lifestyle. It’s also about who’s got the most stylish clothes, the most stylish look. Dan itu nyambung banget sama olahraga, fashion, dan community.
HB: Beberapa tahun terakhir banyak banget olahraga yang dapat attention, apalagi di Jakarta. Sekarang ada padel, sebelumnya ada running, cycling, juga tennis. Menurut lo ada pattern tertentu nggak di situ?
Zar: Iya, gue lihat ada pattern di sports yang dapat spotlight. Kayak lo bilang, dulu running, terus tennis, cycling, dan sekarang padel. Tapi menurut gue padel beda, karena ini unisex sport. Men and women bisa main bareng, dan mereka enjoy. Gue juga lihat ada shift. Orang-orang pindah dari golf ke tennis, dari running ke padel sekarang. Kita masih fase awal, tapi gue yakin dalam 5 sampai 10 tahun ke depan bakal gede banget.
Secara global juga, celebrities dan key figures udah mulai invest di padel. Bahkan Qatar beli kompetisi Premier Padel, bikin tournament baru, dan sekarang semua top players main di situ. That’s a big push for the sport globally.
HB: Jadi kalau disingkat, lo percaya padel akan tetap ada dalam jangka panjang?
Zar: Yes. Dengan banyaknya orang yang invest di padel, plus support dari pihak-pihak yang bisa dorong lebih jauh, dan kemungkinan padel jadi Olympic sport, pemerintah pasti juga akan push lebih keras. So it’s only going to be more explosive.
HB: Dari sisi skeptis, ada juga orang yang bilang, “ah, padel cuma bakal bertahan tiga atau empat tahun aja.” Lo gimana jawabnya?
Zar: People will always have opinions. Tapi gue lihat faktanya. Di negara lain, memang prosesnya beda, tapi somehow di Indonesia padel udah jadi salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Bahkan mungkin yang paling besar, kalau lihat jumlah club. Di Asia, khususnya Asia Tenggara, sport ini lagi grow banget. Dengan momentum Olympic dan global trend, makin kuat aja. U.S. juga invest besar di padel. So I really believe this sport is here to stay.
HB: Sekarang padel udah gede banget di Indonesia, kan? Tapi kan dulu nggak kayak gitu, sempat masih niche banget. Gue bisa bilang lo salah satu faktor yang bikin padel jadi besar sekarang. Jadi, apa sih tantangan terbesar buat bawa olahraga niche kayak padel ke level international competition?
Zar: Tantangannya jelas, negara lain terutama di Eropa, jauh lebih berpengalaman. Indonesia masih baru banget, masih early stages. Coach yang benar-benar experienced juga belum banyak. Infrastruktur buat coaching, training, sparring, negara lain udah jauh lebih siap. Jadi otomatis mereka punya advantage. Mereka udah beberapa langkah di depan, sementara Indonesia masih punya jalan panjang untuk ngejar.
“Tapi ngelihat growth di sini, kemungkinan besar bakal attract international coaches buat datang ke Indonesia. Mereka bisa training dan kerja di sini, which could help the sport grow even more.“
HB: Gimana menurut lo soal padel scene di Jakarta?
Zar: Di Jakarta, khususnya soal community dan court, menurut gue seru banget ngelihat sport ini grow. Biasanya orang lihat dulu apa yang terjadi di Jakarta, baru nyebar ke seluruh Indonesia.
Mungkin karena Jakarta itu kota yang berbasis community. Orang suka jadi bagian dari komunitas. Satu court bisa diisi sepuluh orang, padahal di negara lain biasanya cuma empat orang main selama dua jam. Di sini sepuluh orang gantian main dua sampai tiga jam. Karena itu mereka sering post story atau share di social media, dan langsung nyebar cepat. Temen-temennya jadi nanya, “next time bisa join nggak?” atau “ini olahraga apa sih?” People are enjoying life and sharing the experience.
Clubs juga grow cepat banget. Orang lihat ini bisa jadi bisnis yang bagus, makanya club baru banyak bermunculan. Tapi gue saranin hire orang yang benar-benar ngerti padel, supaya nggak salah bikin atau desain infrastrukturnya.
HB: Kalau lo bisa bawa satu pemain padel internasional ke Jakarta buat lihat scene di sini, siapa dan kenapa?
Zar: Gue bakal bawa Agustín Tapia. Dia nomor satu di dunia, tekniknya bagus banget. Dia talented banget, sering dibandingin sama Messi. Bahkan orang nyebut dia Messi of padel. Mainnya effortless, kreatif, dan inspirasi di seluruh dunia. Gue pengen banget bawa dia ke Indonesia karena dia nomor satu.
Selain top player, gue juga bakal bawa Leo Augsburguer dari Argentina. Dia masih muda, explosive, dan punya smash yang gila banget. Di region sini gue pengen lihat lebih banyak big smashes, dan dia cocok banget buat itu.
HB: Apa saja stereotype atau miskonsepsi soal padel yang menurut lo nggak sesuai kenyataan?
Zar: Biasanya opini begitu datang dari orang-orang yang belum pernah main. Mereka bilang kayak, “oh, lo nggak banyak lari,” atau “olahraga ini cuma cocok buat orang yang nggak bisa main tenis.” Jujur aja, gue sendiri dulu sempat mikir gitu.
Tapi begitu lo bener-bener main dan tanding lawan pemain lain, lo bakal sadar kalau padel itu physical banget dan dinamis. Lo harus mikirin tactics, strategy, sampai technical skills. Ada dimensi tambahan juga karena ada tembok, plus teamwork karena lo harus cari partner yang pas. Jadi saran gue, coba aja dulu. Once you play, judgment lo bakal totally different.
HB: Indonesia punya sejarah kuat di olahraga raket, ambil contoh Susi Susanti sampai Taufik Hidayat. Menurut lo, apakah Indonesia bisa melahirkan atlet padel sekelas itu, dan berapa lama sampai bisa dapat pengakuan global?
Zar: Kalau lihat atlet kayak Taufik Hidayat, itu karena infrastrukturnya udah siap. Ada pelatih, ada pengalaman, aksesnya juga gampang. Jadi lebih gampang melahirkan juara.
Untuk padel, di Asia ini masih very new. Kita butuh infrastruktur yang lebih kuat, lebih banyak pelatih, dan pengalaman sebelum bisa sampai level dunia.
HB: Sneakers dan sports culture biasanya jalan bareng. Menurut lo, padel nyambung ke fashion dan style kayak gimana?
Zar: Fashion itu bagian besar dari padel di seluruh dunia, apalagi di Jakarta. Orang suka banget tampil keren dan show off baju paling stylish.
Banyak juga yang langsung bawa racket paling advanced. Tapi buat pemula, gue nggak rekomendasiin langsung beli yang paling mahal atau paling canggih. Bisa malah bikin lo nggak berkembang. Kalau mau main lama, better start properly dengan racket yang sesuai level biar bisa build your game.
Fashion and style go hand in hand with the sport. Di Jakarta, orang selalu suka tampil keren bahkan pas main.
HB: Lo sempat bilang orang tertarik dengan corporate style di padel. Menurut lo, bisa nggak padel berkembang jadi lebih dari sekadar olahraga? Mungkin jadi lifestyle statement kayak skateboarding atau basketball?
Zar: Iya, gue percaya banget bisa. Ada berbagai kelompok di dalam culture padel. Ada yang mainnya fokus ke style dan fashion, mereka selalu update outfit terbaru, mix and match dengan cara yang kreatif.
Nggak cuma soal brand mahal, tapi juga soal cara mereka styling. Fit itu penting banget. Lo bisa lihat orang datang pakai sunglasses, bahkan ada yang main sambil pakai high-end brand kayak Prada.
HB: Luxury brands juga mulai masuk ke dunia padel. Lo lihat itu gimana?
Zar: Menurut gue bagus, karena padel masih dipandang sebagai olahraga high-end, terutama di Jakarta. Dan memang orang-orang yang main di sini punya budget buat beli produk kayak Prada racket.
HB: Lo sendiri bakal pakai Prada racket buat kompetisi?
Zar: Kalau kompetisi, gue nggak bakal pakai. Maybe just for fun play, iya. Tapi bukan buat performance, karena itu bukan performance racket.
Contoh lain yang gue suka, KITH baru aja desain padel court, bahkan padel racket barengWilson. Itu salah satu brand favorit gue dari New York, dan gue seneng banget lihat kolaborasi kayak gini di dunia padel.
HB: Gaya pribadi lo sendiri di dalam dan di luar lapangan kayak gimana?
Zar: Di lapangan gue suka clean, timeless styles. Gue juga enjoy pakai itu di luar lapangan. Kadang mood gue pengen look yang baggy dan oversized, kadang pengen tailored fit.
Tergantung mood dan kemana gue pergi.
HB: Kalau suatu hari orang ngelihat balik ke momen ini di budaya olahraga Indonesia, lo pengen dikenal karena apa?
Zar: Goal pribadi gue selalu buat bikin padel jadi olahraga nomor satu di Indonesia. Caranya dengan spread the message everywhere lewat media kayak Hypebeast dan lainnya, biar lebih banyak orang tahu.
Sebagai pemain, gue pengen bisa inspire banyak orang. Kadang gue ikut turnamen, ada anak-anak yang minta foto bareng. Rasanya merinding banget lihat mereka nonton permainan gue dan ngikutin apa yang gue lakukan. Itu sesuatu yang gue pengen teruskan.
Gue juga punya harapan bisa create Olympic-level athletes lewat akademi yang lagi gue rencanain untuk bangun. Hopefully, one day bisa develop great talents yang bisa bersaing di Olimpiade. Buat gue, ini nggak cuma soal olahraga tapi juga soal legacy. Gue pengen ada sistem yang jelas, ada jalur dari grassroots sampai elite level. Supaya anak-anak yang punya passion di padel bisa punya tempat berkembang, dan Indonesia eventually bisa punya atlet yang go international.
HB: Kami doain lo yang bisa wakilin Indonesia di Olimpiade!
Zar: Yeah, yeah, that’s also my dream. Tapi gue nggak tahu apakah waktu itu gue masih main atau nggak. So… let’s see aja, kapan itu bakal kejadian dan gimana nanti prosesnya.
View this post on Instagram

















