Belajar "Slowness" Sebagai Bentuk "Resistance" dari Olafur Eliasson

“I’m not here to give. I’m here to take.”

Seni
6.2K 0 Komentar
Save

Ada banyak alasan kenapa pameran Olafur Eliasson di Museum Macan terasa spesial. Tapi di artikel ini, seenggaknya ada dua yang kami mau bahas. Alasan pertama, tentunya, karena ini pameran perdana seniman asal Denmark tersebut di Indonesia.

Kecuali kalian sempat melihat (atau lebih tepatnya experiencing) karyanya saat ia berpameran di luar negeri, kreasi Olafur cuma bisa aksesibel lewat layar digital. Padahal, instalasi-instalasi yang ia buat selalu melibatkan partisipasi aktif pengunjung: ada manipulasi cahaya, warna, bayangan, bahkan “suhu.” Sebagus apapun foto yang kalian lihat, sedetail apa pun deskripsi yang ditulis, sensasi inderawi semacam itu tentu nggak akan bisa dinikmati sambil scrolling di hp.

Sekalipun “Rainbow assembly” (2016) udah beberapa kali sliweran di internet karena menciptakan pelangi di dalam ruangan, meskipun kami udah tau “Room for one color” (1997) akan bikin warna kulit kami jadi abu-abu, kami tetap mesmerized ketika liat gimana karya seni Olafur bekerja di level yang lebih impresif dibanding apa terlihat di dokumentasi.

Alasan keduanya adalah: alasan kenapa Olafur Eliasson akhirnya pameran “Your Curious Journey” di Indonesia.

Sebagai seniman yang selama puluhan tahun mengeksplorasi cahaya, persepsi, dan hubungan manusia dengan lingkungan, Olafur selalu bekerja dengan satu prinsip: belajar dari dunia yang ia masuki. Indonesia is no exception.

Buat Olafur, Indonesia terasa sebagai negara yang penuh anak muda, sekaligus kompleks. Ia menyebut bagaimana ia melihat energi generasi muda, juga realita politik, isu lingkungan, sampe ketidakadilan sosial. Ia ngedeskripsiin Jakarta dengan keterkejutan yang jujur: “This is the largest megacity in the world. The population of Jakarta is bigger than the population of Australia.

Meski begitu, Olafur di Indonesia nggak datang dengan posisi sebagai orang yang mau mengajar.

I’m not here to give. I’m here to take. I’m here to learn from the great Indonesian,” ujarnya. 

Selama di Jakarta dan Bali, Olafur nyempetin waktu buat muter-muter. Ia nongkrong di kafe, cek brand lokal, sampai mampir ke pop-up. Bukan untuk belanja, tapi ketemu langsung sama anak-anak muda yang ngebangun semua itu. “I want to see all these young people. That generation,” katanya.

Ia juga pengen lihat proses yang lebih teknis. Di Bali, ia datang ke bengkel bambu buat ngeliat gimana material itu diolah dari dekat. Di Jakarta, ia sengaja nyewa pemandu di Museum Bahari biar bisa nangkep konteks sejarah yang nggak selalu ditulis di label atau internet. Salah satu cerita yang paling nempel buat dia adalah soal pala, komoditas yang sebelumnya ia kenal lewat buku tentang sejarah kolonial dan konflik yang ngikutin di belakangnya.

Lo mungkin bertanya: buat apa? Penjelasan Olafur cukup jujur. Menurutnya, seniman juga bisa mengalami fase stagnan, and Olafur is no different.

It’s so difficult to always be inspired. When you wake up in the morning, and you just say, now I have to make art again, and I don’t know what to do. So because everything is like you feel you’ve done, you feel you’re repeating yourself, right? So I need new input. And I need people who know things that I never heard about,” jelas Olafur.

Ia cerita tentang pembuat pisau, pemahat batu di sebuah pura, perajin keramik, sampai desainer yang bekerja dengan katun Bali. Interaksi kecil dan expertise lokal semacam ini yang memicu spark baru buat Olafur.

Dari situ, obrolan kami melebar ke isu yang lebih besar: soal siapa yang sebenarnya punya akses terhadap seni. Buat Olafur, dateng ke Jakarta bukan cuma urusan bawa instalasi ke negara baru. Ini tentang membuka ruang buat orang-orang yang selama ini cuma bisa lihat karyanya lewat foto viral atau klip TikTok.

I am trying to be very accessible. I’m very interested in the accessibility or the democratization of accessibility to art. As art has historically been very elitist, and it also still is, to be honest. But it is not as elitist as it was. And I am very interested in making a museum like this as accessible as possible.”

Olafur sadar betul bahwa setiap galeri atau museum punya “normative set of invisible rules” untuk bagaimana kita harusnya bersikap dan berperilaku. “There is a sort of social control” jelasnya.

But talk about social control—it’s not just about art. The sidewalk: ‘don’t walk like this.’ It’s about public spaces. We need to break the rules, but it doesn’t have to be by being opposite of the rules, because then we are also predictable. Public disobedience doesn’t have to be a riot or revolution—it can also be softness. It can be tenderness. If you go into a hard space with a certain normative behavior, you can bend and soften the rules. You can blur them.”

Mungkin alasan itu juga yang bikin Olafur rajin bikin karya yang melibatkan partisipasi aktif alih-alih passive viewing.

Ketika Olafur membuat The Weather Project (2003) di Tate Modern, banyak orang yang “melanggar aturan” dengan rebahan di lantai untuk experience karya tersebut. “An interesting problem” menurut Olafur. Pasalnya momen itu nunjukkin bahwa kadang “softness can be frictional. Sometimes being tender, being slow, and breaking the rules softly is important.

I believe we have many senses and we should experience with that. We should not just see with our eyes, we should see with our body. When I take a step, the perspective changes. When I move around, temporality is active and things change. I’m so interested in slowness as resistance. To slow down, to stop the fucking machine. So when we talk about engagement, it is also that. It is to actually also claim back your own time.

Baca Artikel Lengkap

Baca Berikutnya

Pameran “Out of Home” dari Hilarius Jason: Eksplorasi Memori di Bar Kotak
Fashion Seni

Pameran “Out of Home” dari Hilarius Jason: Eksplorasi Memori di Bar Kotak

Open for public viewing dari tanggal 21 to 23 November 2025.

LOEWE Hadirkan Seragam Kerja Baru untuk Konservator Seni di Prado Museum
Fashion

LOEWE Hadirkan Seragam Kerja Baru untuk Konservator Seni di Prado Museum

Kolaborasi yang menyatukan keahlian kriya, kenyamanan, dan pelestarian budaya.

Solange Knowles Gabung USC Jadi Pengajar Kurasi Musik
Musik

Solange Knowles Gabung USC Jadi Pengajar Kurasi Musik

Sekarang, panggil dia Profesor Solange.


10 EP yang Membentuk 2025 Versi Kami
Musik

10 EP yang Membentuk 2025 Versi Kami

Menyorot 10 rilisan pendek yang paling sering kami putar non-stop sepanjang tahun.

Nissan Skyline GT-R R33 NISMO S1 Langka Berkelir Midnight Purple Siap Dilelang
Otomotif

Nissan Skyline GT-R R33 NISMO S1 Langka Berkelir Midnight Purple Siap Dilelang

“Godzilla” besutan Nissan, salah satu nama paling legendaris di dunia otomotif, akhirnya resmi mendarat di AS dengan pedigree buas NISMO S1-Spec.

Video Promo Terbaru Film Gundam ‘The Sorcery of Nymph Circe’ Ngulik Trauma Hathaway Noa
Hiburan

Video Promo Terbaru Film Gundam ‘The Sorcery of Nymph Circe’ Ngulik Trauma Hathaway Noa

Lengkap dengan kilas balik perannya di film ‘Char’s Counterattack’.

Intip Pertama Victor Wembanyama x Nike GT Cut 4 “All-Star”
Footwear

Intip Pertama Victor Wembanyama x Nike GT Cut 4 “All-Star”

Dijadwalkan rilis Februari mendatang.

'Legend of Aang: The Last Airbender' Langsung Tayang Streaming di Paramount+
Hiburan

'Legend of Aang: The Last Airbender' Langsung Tayang Streaming di Paramount+

Dibintangi deretan pengisi suara ternama seperti Taika Waititi, Ke Huy Quan, Freida Pinto, Steven Yuen, Dave Bautista, dan banyak lagi.

nanamica SS26 Padukan Estetika Pesisir dengan Performa Urban
Fashion

nanamica SS26 Padukan Estetika Pesisir dengan Performa Urban

Mengusung tema “One Ocean, All Lands.”

Marvel Resmi Pastikan Chris Evans Kembali sebagai Steve Rogers di Teaser Baru ‘Avengers: Doomsday’
Hiburan

Marvel Resmi Pastikan Chris Evans Kembali sebagai Steve Rogers di Teaser Baru ‘Avengers: Doomsday’

Tayang perdana musim liburan akhir tahun depan.


Air Jordan Spizike Resmi Hijrah ke Lapangan Golf
Fashion

Air Jordan Spizike Resmi Hijrah ke Lapangan Golf

Hybrid arsip Jordan yang terinspirasi Spike Lee ini kini siap beraksi di fairway.

The North Face Purple Label SS26 Usung Gaya Utility Santai untuk Kota dan Outdoor
Fashion

The North Face Purple Label SS26 Usung Gaya Utility Santai untuk Kota dan Outdoor

Menggabungkan detail kasual seperti tie-dye dan patchwork dengan siluet utilitarian yang siap menjelajah kota maupun alam bebas.

Kith dan Columbia Luncurkan Koleksi Nippon Snow Expedition
Fashion

Kith dan Columbia Luncurkan Koleksi Nippon Snow Expedition

Didesain untuk performa maksimum di puncak gunung.

‘Marty Supreme’ dan Gelombang Baru Merchandising Film
Fashion

‘Marty Supreme’ dan Gelombang Baru Merchandising Film

Kampanye jaket yang dipimpin Chalamet ini digerakkan oleh strategi cerdas yang diam-diam telah dikuasai A24.

Nike Kobe 3 Protro “Christmas” Jadi Bintang di Deretan Rilisan Sneaker Terbaik Minggu Ini
Footwear

Nike Kobe 3 Protro “Christmas” Jadi Bintang di Deretan Rilisan Sneaker Terbaik Minggu Ini

Minggu yang lebih sepi dari biasanya ini tetap diramaikan deretan sneaker basket bernuansa liburan, kolaborasi atmos x BlackEyePatch x Clarks Wallabee, dan banyak lagi.

50 Album yang Mendefinisikan 2025 Versi Kami
Musik

50 Album yang Mendefinisikan 2025 Versi Kami

Membagi 50 pilihan kami ke dalam debut, comeback, kolaborasi, nama besar, hingga permata tersembunyi.

More ▾