Kantor Baru TOON FACTORY Shueisha: Minimalisme Bertemu Aliran Kreatif
Dirancang oleh GAMMA Architects, ruang ini dikonsep sebagai lingkungan yang menginspirasi untuk berkarya kreatif.
Ringkasan
- GAMMA Architects merancang Shueisha TOON FACTORY Fase 2 sebagai ruang kerja kreatif yang fleksibel, sarat cahaya
- Kantor seluas 135 meter persegi ini menampilkan interior minimalis, tata ruang berzona, dan furnitur rancangan khusus
- Furnitur kustom dibalut dengan majalah mingguan yang dimanfaatkan kembali, menegaskan estetika manga
GAMMA Architectsmenggarap desain fase kedua kantor TOON FACTORY milik Shueisha, menciptakan ruang kerja yang diperluas dan disesuaikan untuk lini bisnis manga dan WEBTOON perusahaan. Dengan luas 135 meter persegi, kantor ini mencerminkan komitmen studio terhadap kejernihan ruang, zonasi fungsional, serta upaya merangsang daya cipta untuk menggambar, membuat storyboard, dan menyunting konten.
Proyek ini dihadapkan pada kondisi yang menantang: menempati lantai sewaan yang memanjang, sempit, dan berketinggian plafon sangat rendah—sekitar 2.200 mm—dengan bukaan hanya di satu sisi. Untuk meredam rasa sesak dan keterbatasan visual, tim arsitek mengadopsi satu konsep kunci: mengubah batasan fisik menjadi modal kreatif. Desain interiornya menyeimbangkan minimalisme dengan aksen playful, merefleksikan semangat imajinatif sang penerbit.
Palet netral dan garis-garis bersih mendominasi ruang, sementara furnitur terkurasi dan tekstur subtil menghadirkan kehangatan serta karakter. Penggunaan partisi yang strategis dan variasi ketinggian plafon membantu mendefinisikan area tanpa mengorbankan aliran visual. Hasilnya adalah ruang kerja yang terasa padu sekaligus adaptif—ideal bagi perusahaan dengan produksi yang merentang dari narasi digital hingga media visual. Integrasi tematik ini berlanjut ke furnitur dan detail material. Di area tunggu, digunakan kursi yang terinspirasi dari ikon LC2, namun pelapisnya dirancang dari majalah mingguan yang tak terpakai (seperti Weekly Shonen Jump). Para pengrajin terampil membungkus piping pelapis secara manual menggunakan sampul majalah tersebut—detail yang menyematkan cara pandang estetika khas perusahaan ke dalam ruang, sekaligus merayakan aksi menggambar tangan yang fundamental bagi penciptaan manga.



















