Antonin Tron: Direktur Kreatif Baru Balmain dan Kekuatan Baru Industri Mode
Dari bangku kuliah bersama Glenn Martens dan Demna, meluncurkan labelnya sendiri Atlein, hingga mendapat kursi puncak di Balmain, maison Prancis berusia 80 tahun.
Antonin Tron: Direktur Kreatif Baru Balmain dan Kekuatan Baru Industri Mode
Dari bangku kuliah bersama Glenn Martens dan Demna, meluncurkan labelnya sendiri Atlein, hingga mendapat kursi puncak di Balmain, maison Prancis berusia 80 tahun.
Belum genap sepekan sejak Olivier Rousteing hengkang dari Balmain, rumah mode berusia 80 tahun itu sudah mengumumkan penggantinya. Dijadwalkan debut pada Maret 2026, direktur kreatif baru Balmain adalah veteran mode adibusana sekaligus pendiri Atlein, Antonin Tron.
Mengingat masa kepemimpinan Rousteing yang begitu berpengaruh, Tron mengemban tanggung jawab besar. Namun, berbekal rekam jejak berkilau dan filosofi yang sejalan, estafet Tron berpotensi menjadi kelanjutan yang gemilang.
Desainer berusia 41 tahun ini bergabung ke rumah mode sambil tetap menakhodai labelnya sendiri, dengan portofolio karier impresif yang memuat pengalaman di sejumlah maison besar.Tron belajar di Royal Academy of Fine Arts Antwerp bersama rekan seangkatan seperti Glenn Martens (kini di Maison Margiela) dan Demna (kini di Gucci). Setelah lulus, ia bergabung di divisi busana pria Louis Vuitton, divisi busana wanita Givenchy, dan Saint Laurent. Namun, masa baktinya di Balenciaga terbilang paling krusial, bekerja di bawah jajaran direktur kreatif yang beragam termasuk Nicolas Ghesquière, Alexander Wang, serta rekan kuliahnya, Demna.
Pada 2016, Tron mendirikan label busana wanita Atlein, dan lekas menuai pujian atas kepiawaiannya memahat busana. Saat Atlein diluncurkan, ia menerima penghargaan 2016 ANDAM Creative Brand Prize dan, kemudian, 2018 ANDAM Grand Prize. Dikenal lewat gaun jersey knit yang membalut tubuh, pendekatan label ini berpusat pada bentuk feminin dan interaksinya dengan busana.
Dengan gaun dan busana yang kerap merefleksikan gerak bebas debur ombak, Tron menekankan kecintaannya pada selancar sebagai pengaruh kunci, menyebutnya “penggerak utama hidup saya,” dalam sebuah 2022 wawancara dengan Fédération de la Haute Couture et de la Mode. Memang, “Atlein” adalah singkatan ciptaannya sendiri untuk Samudra Atlantik, yang mewakili “fokus pada tubuh, energinya, dan geraknya” sang desainer.
Rasa kebebasan sartorial ini juga mencerminkan sikap couture Prancis pascaperang—tempat Balmain bermula—yang beralih dari utilitarian nan asketis menuju feminitas glamor. Siluet ramping sang desainer, yang digemari bintang Hollywood seperti Marlene Dietrich, Brigitte Bardot, dan Sophia Loren, menonjolkan ekspresi lebih lembut dengan bahu yang natural, pinggang yang dipersempit, dan draperi yang piawai.
Pada 1946, penulis Amerika Alice B. Toklas menerbitkan esai yang memuji debut Balmain berjudul “A New French Style.” Ia menulis, “Tiba-tiba, ada kesadaran baru akan pemahaman tentang apa sebenarnya mode [fashion] itu: pengayaan dan pendalaman bentuk serta pesona perempuan.”
CEO Balmain Matteo Sgarbossa mengatakan bahwa visi Tron “menandai keberlanjutan dari keyakinan dasar Pierre Balmain bahwa ‘dressmaking is the architecture of movement,’” dalam sebuah wawancara dengan WWD. Sgarbossa juga menegaskan keyakinannya pada Tron, menggambarkan metodologi desainnya sebagai “berakar pada seni draping dan dimensi fisik kain.”
Namun, tugas Tron dua serangkai: bukan hanya meneruskan etos sang pendiri, tetapi juga membangun di atas warisan monumental pendahulunya, Olivier Rousteing. Rousteing secara resmi mengumumkan kepergiannya dari rumah mode pada 5 November, menuntaskan masa jabatan mencengangkan selama 14 tahun yang ia mulai di usia 25. Selain itu, Rousteing secara luas dipandang sebagai sosok yang mengantarkan rumah mode ini memasuki abad ke-21 lewat estetika yang mewah bernuansa streetwear.
Beberapa karya sang desainer yang paling dikenal antara lain koleksi Musim Gugur 2012 “Fabergé” dengan detail hias yang rumit (terkenal dikenakan di jalanan Paris oleh Kim Kardashian). Kemudian, pada 2015, Rousteing memperkenalkan koleksi busana pria resmi pertama label tersebut, yang mencakup jeans biker skinny yang begitu identik dengannya. Selain menjadi desainer busana wanita berkulit hitam pertama yang memimpin sebuah rumah mode Prancis, kisah hidupnya yang menginspirasi, visi yang peka budaya, dan karisma personal menjadikannya semacam legenda hidup di industri.
Sekalipun estetika Tron berjarak dari sensibilitas berani ala Rousteing, sikap industri saat ini tidak serta-merta menuntut maksimalisme atau visi yang benar-benar baru. Nada musim SS26—dengan jumlah pergantian pucuk pimpinan kreatif yang belum pernah terjadi sebelumnya, termasuk Piccioli di Balenciaga, Vitale di Versace, Demna di Gucci, Trotter di Bottega Veneta, dan lainnya—lebih menekankan keseimbangan ketimbang disrupsi. Di tengah iklim yang berhati-hati, para desainer menakar dengan saksama visi personal mereka dengan keakraban warisan rumah mode.
Di atas kertas, Tron adalah pilihan yang cemerlang. Ia seangkatan dengan beberapa desainer paling berpengaruh saat ini yang kini memimpin rumah-rumah mode terkemuka dunia. Ia menimba pengalaman bertahun-tahun di berbagai maison, di bawah bimbingan direktur kreatif ternama. Dan, mirip rekan seangkatannya saat ini, Jonathan Anderson, yang memimpin Dior, ia tiba di sebuah rumah mode besar sambil tetap merawat label bikinannya sendiri.
Pertanyaannya bukan apakah Tron punya kapasitas—rekam jejaknya jelas membuktikan itu. Melainkan, apakah ia mampu menerjemahkan etos Pierre Balmain sambil mengintegrasikan capaian-capaian yang dirintis Rousteing yang inovatif. Meski namanya mungkin belum begitu akrab, Rousteing pun dulunya pendatang baru ketika pertama muncul—dan fondasi kuat Tron jelas menempatkannya siap menjawab tantangan.


















