Robert De Niro dan Al Pacino Bintangi Kampanye Terbaru Moncler

Bertajuk “Warmer Together”, kampanye ini dipotret oleh fotografer potret legendaris Platon, yang juga menyutradarai serangkaian film pendek yang menampilkan dua maestro sinema tersebut.

Fashion
4.0K 0 Komentar
Save

Jarang-jarang kita disuguhi kehadiran dua maestro sinema sekaligus. Faktanya, kalau bicara soal Robert De Niro dan Al Pacino, jumlah film yang mereka bintangi bersama bisa dihitung dengan satu tangan – The Godfather Part II (1974), Heat (1995), Righteous Kill (2008), dan The Irishman (2019) – dan masih sisa satu jari.

Sambut kampanye terbaru Moncler: Warmer Together – secara teknis ini adalah kali kelima keduanya tampil bersama di layar, meski secara resmi disebut sebagai “kampanye bersama pertama mereka.” Dan kalau jaket Moncler saja belum cukup menghangatkanmu, chemistry De Niro dan Pacino dijamin melakukannya; persahabatan seumur hidup mereka memancar lewat layar, baik dalam foto maupun film pendek yang membentuk kampanye ini.

Bergabung dalam jajaran Coppola, Mann, Avnet, dan Scorsese—para sutradara dari film-film yang disebutkan tadi yang masing-masing memegang kehormatan langka: pernah menyutradarai duo De Niro–Pacino di layar—hadir Platon, fotografer Inggris yang dikenal berkat potret para pemimpin dunia yang ikonik dan mendefinisikan zamannya. “Kurasa kini aku telah memotret lebih banyak pemimpin dunia daripada siapa pun dalam sejarah,” ujarnya kepada Hypebeast, seraya menambahkan “tetapi itu merupakan kehormatan besar bisa menyutradarai dua orang ini.”

Dibuat di studio Platon di New York, kampanye ini menampilkan Bob dan Al saling bersandar hangat di depan kamera dengan cara yang belum pernah kamu lihat sebelumnya. Dalam gaya khas Platon, hasilnya adalah deretan potret monokrom yang menohok, ditemani serangkaian film pendek—sebagaimana Moncler menyebutnya—sebuah “ekspresi sinematik tentang persahabatan, koneksi, dan kehangatan manusia” antara “dua sahabat seumur hidup.”

Mungkin kamu menganggap Warmer Together sedikit berbeda dari karya Platon biasanya. Sang seniman telah memotret semua orang mulai dari Obama hingga Gaddafi,

Bagi Platon—yang telah memotret semua orang dari Kolonel Gaddafi hingga Presiden Obama— Warmer Together mungkin, di satu sisi, tampak sebagai penyimpangan dari karya biasanya. Namun di sisi lain, bagi seorang seniman yang lensanya berfokus pada “kondisi manusia” dan koneksi manusia” – frasa yang ia ulang beberapa kali saat berbicara dengan Hypebeast – itu hanya hari biasa di studio.

Hypebeast berbincang dengan Platon jelang peluncuran kampanye baru Moncler berjudul Warmer Together. Ia bercerita tentang kerajinan seninya dan seperti apa rasanya bekerja dengan para raksasa seperti De Niro dan Pacino, juga membagi nasihat untuk fotografer yang sedang naik daun serta anekdot lucu dari lokasi kampanye. Simak selengkapnya di bawah ini…

Kamu sudah memotret begitu banyak legenda. Apakah rasanya berbeda saat memotret dua orang sekaligus—Bob De Niro dan Al Pacino—yang kebetulan juga sahabat karib?

Yah, aku sudah pernah bekerja dengan keduanya sebelumnya. Faktanya, dengan Pacino, mungkin sekitar 25 tahun lalu pertama kali kami bekerja bersama. Setiap kali kami bekerja bersama, waktu seperti tercatat: dia kian menua, aku kian menua, begitu pula De Niro. Aku punya momen-momen magis bersama mereka di masa lalu, tapi melihat mereka datang bersama dengan cara seperti ini sungguh luar biasa. Dan pada sisi film dari kampanye ini, itu merupakan kehormatan besar bisa menyutradarai dua orang ini. Maksudku, menyutradarai Pacino dan De Niro bersama-sama… tak banyak orang yang pernah melakukannya dalam sejarah. Dan bagi seorang fotografer, bisa melakukan itu adalah pengalaman yang sangat, sangat merendahkan hati. Tapi yang menakjubkan, aku selalu berusaha belajar dari subjekku. Selalu. Jika kamu menghabiskan waktu yang magis dengan orang-orang, kamu harus pulang dengan rasa yang meluas tentang kondisi manusia—setiap kali—dan itulah yang menginformasikan fotoku.

Ada rasa persahabatan yang sangat terasa dalam foto-fotonya – kamu bisa melihat bahwa ini adalah dua pria yang saling menghormati dan berteman akrab. Tapi ada juga nuansa jenaka yang sama kuatnya terpancar dari foto-foto itu.

Mereka sangat berbeda sebagai pribadi. Dan ini hanya kesanku, tapi Bob itu seperti maestro konsentrasi. Dia bisa mendengar jarum jatuh di ruangan—dan kalau kamu sedang melakukan sesuatu, dia akan menoleh dan memberi seseorang itu tatapan yang tak seorang pun ingin dapatkan, karena ada yang lupa mematikan ponsel atau semacamnya. Dan itu bukan karena dia sulit; ada ketenangan dalam dirinya, dan saat kamu bertemu dia cukup pendiam, namun dia menguasai ruangan dengan konsentrasinya. Aku belum pernah bertemu konsentrasi profesional setingkat itu sebelumnya. Al jauh lebih ekstrover, tipe yang ekspresif secara emosional. Dia bisa berteriak kegirangan, atau frustrasi, dan semuanya lebih terekspos keluar. Jadi kamu punya dua karakter yang sangat berbeda, dan mempertemukan mereka sungguh menarik. Hasilnya bukan sekadar dua sahabat, melainkan dua pribadi yang sangat berbeda bertemu di titik tengah. Ada satu momen ketika aku meminta mereka berpelukan untuk salah satu foto, dan kuminta mereka menahannya sebentar. Kembali ke akar Italia mereka, lelaki Mediterania memang gemar berpelukan. Dan saat mereka saling memeluk, aku bisa melihat Al dan Bob diam-diam saling menggelitik di bawah lengan! Itu menciptakan momen tawa yang benar-benar manis. Jadi kami menangkap sisi usil, sisi bermain-mainnya. Aku tahu mereka berdua kerap memerankan tokoh yang intimidatif, tetapi, sebagai manusia, persahabatan mereka justru memunculkan keceriaan dan sisi kemanusiaan mereka. Entah itu lembut dan filosofis, atau usil dan jenaka, dan mereka saling menggoda. Menurutku itu cara yang sangat indah untuk menunjukkan persahabatan dalam kampanye ini.

Sebagai fotografer potret, bagaimana kamu menjaga sebuah gambar tetap jujur pada 2025?

Itu pertanyaan besar, dan pantas mendapat jawaban besar. Aku sering memikirkannya dan mulai sadar bahwa hal terpenting bagi kita semua adalah jadi lebih penasaran dan kurang menghakimi. Sebagai fotografer potret, ini bukan soal fotografi – itu agak membosankan, hanya latihan teknis. Yang paling penting adalah kapasitasmu terhubung dengan orang dan berbagi sebuah pengalaman. Dalam beberapa kasus, aku tak selalu sependapat dengan subjekku. Faktanya, aku pernah memotret sebagian besar diktator dunia dan ada banyak hal yang secara fundamental kutolak. Namun saat kamu menghakimi, kemampuanmu untuk mengamati dan menemukan mengecil—kamu membuat penilaian dan mempersempit bandwidth-mu—sementara saat kamu penasaran, itu melebar. Jadi aku belajar untuk tidak menghakimi. Bukan bagianku untuk menghakimi. Biarkan sejarah yang menghakimi. Bersikaplah terbuka, saling penasaran satu sama lain, kesampingkan penilaian, dan kamu akan menemukan lebih banyak tentang dunia tempatmu hidup. Kurasa itulah yang kucapai di titik hidupku saat ini.

Karyamu sering berada di persimpangan antara kuasa dan kemanusiaan. Bagaimana kamu menavigasi ketegangan itu? Dan apakah rasanya berbeda ketika berada dalam konteks budaya dan fesyen seperti di kampanye ini?

Aku sangat tertarik pada kekuasaan. Dan aku sering bertanya pada diri sendiri, apakah kekuasaan mengungkap siapa diri kita sebenarnya, atau justru membelokkan dan merusak seiring kita meraihnya? Kurasa keduanya. Aku merasa kini aku telah memotret lebih banyak pemimpin dunia daripada siapa pun dalam sejarah, dan aku punya bangku kecil—apple box-ku—yang, kata seseorang di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), telah diduduki lebih banyak pemimpin dunia daripada kursi mana pun dalam sejarah.Bahkan Muhammad Ali pernah duduk di atasnya, kamu tahu. Menarik, karena itu hanya sebuah kotak. Di satu sisi, kotak itu terasa tak bermakna. Di sisi lain, ia menjadi simbol kekuasaan. Ada semacam demokrasi di situ. Biasanya, aku bekerja dengan cara yang sangat intim:Orang-orang datang ke studiku di New York; suasananya sangat hening, sangat saling menghormati. Timku—kecil—dan aku menjaga semuanya rendah hati, karena aku menginginkan keintiman itu. Nah, di pemotretan ini, ada sekitar dua atau tiga ratus orang di set – set terbesar yang pernah kualami, kurasa, karena ada rombongan film juga. Jadi, semuanya cukup membuat kewalahan. Bahkan bagi Bob dan Al, mereka berdua sempat berkata, “Siapa semua orang ini?” ketika melangkah ke set. Skalanya masif, tapi aku juga bisa berkembang dalam lingkungan seperti itu. Aku harus bekerja sangat keras agar segala proyeksi kekuasaan, kesuksesan, dan keramaian orang tidak menggerus keintiman dan kemanusiaan dalam karya. Ketika momen di set tiba dan aku merekam, aku berbicara dengan mereka—aku menangkap spirit mereka. Itu harus kujaga. Menjaga keotentikan manusiawi itu sangat sulit, apalagi ketika kita semua terdistraksi.

Jadi, dalam lingkungan seperti itu, bagaimana kamu menemukan momen keintiman yang nyata?

Itu sebenarnya tugasku – menyetel ke frekuensi seseorang, seperti radio lawas, berkonsentrasi keras sampai menemukan kanalnya. Dan ketika kamu menemukannya, itu pengalaman paling indah. Menyelaraskan diri dengan sisi kemanusiaan seseorang dan menemukan siapa mereka sebenarnya sebagai pribadi membutuhkan konsentrasi yang luar biasa, dan itulah yang kulakukan di pemotretan ini.

Hal pertama apa yang kamu cari ketika seseorang memasuki ruangan?

Kamu harus membaca situasi ruangan dengan sangat, sangat baik. [Masa] sebelum pemotretan adalah pengalaman yang cukup tidak menyenangkan bagiku. Aku merasa sangat kesepian. Aku harus meningkatkan daya konsentrasi dan pengamatanku. Ada banyak kebisingan dan distraksi yang coba kuredam. Itu sangat mirip dengan atlet. Jika kamu melihat seorang atlet bersiap sebelum lari cepat di Olimpiade, apa yang mereka lalui? Aku yakin saat kamu bersiap untuk wawancara, kamu juga menajamkan fokus agar sudah berada di zona ketika dimulai. Jadi… ini atletik, tapi di dalam pikiran. Begitulah yang kujalani.

Seberapa besar porsi insting dibanding persiapan dalam karyamu?

Yah, ada banyak persiapan, tapi semuanya mental. Tidak ada yang fisik. Aku tidak punya set—hanya latar putih, satu lampu, dan sebuah apple box. Tidak ada tirai, tidak ada kursi megah atau kursi berlengan untuk membangun suasana. Semuanya akan datang dari subjekku. Dan, tentu, aku belum bertemu subjekku, jadi aku tidak tahu ruh seperti apa yang mereka bawa. Bahkan kalau aku mengenal mereka dan sudah beberapa kali memotret, setiap kali selalu berbeda karena kamu tak tahu suasana hati mereka hari itu. Jadi kamu harus sangat menghormati kondisi manusia, dan kamu tak tahu apa yang baru saja mereka lalui. Aku ingat bekerja dengan Heath Ledger, dan dia tampak begitu jauh. Dia orang yang sangat manis, tapi sangat jauh dan sulit dijangkau. Dan, tentu, saat itu aku tidak tahu alasannya, tapi, kamu tahu, dia meninggal beberapa bulan kemudian. Dan aku baru sadar setelahnya bahwa dia adalah sosok yang sedang gelisah, bergulat dengan hidupnya saat itu, dengan gagasan tentang ketenaran, kesuksesan, dan tanggung jawab—dan dia benar-benar sedang berjuang. Setiap orang datang dengan kisah emosional yang berbeda—dan itulah yang menakjubkan dari pekerjaanku, karena setiap kali, pengalamannya berbeda. Foto final itu 1/500 detik. Foto-foto Al dan Bob yang kamu lihat hanyalah sekelebat sepersekian detik, dan entah bagaimana, ketika kamu mendapatkannya dengan tepat, fragmen detik itulah yang menentukan.

Apakah pandanganmu tentang apa yang membuat sebuah potret hebat berubah seiring waktu?

Kamu tahu, saat masih muda semuanya soal insting – aku merasa, yang ini terasa tepat. Seiring usia bertambah, aku mulai memahami kenapa momen itu terasa tepat. Namun esensinya tidak berubah, instingku tetap sama. Setiap orang punya semacam momen ketika kamu berbicara dan mereka menyingkap sesuatu yang magis tentang diri mereka. Saat masih muda, aku tertarik pada momen-momen ini, tapi belum benar-benar tahu alasannya.Tidak penting apakah itu hitam-putih atau berwarna. Tidak penting bagaimana crop-nya atau lensa apa yang kamu pakai. Yang penting adalah ketika kamu menatap gambar itu dan refleks berkata ‘wow’. Itu tidak bisa didesain. Tidak ada riset pasar untuk itu. Kita bicara tentang koneksi antarmanusia, dan kita semua mengetahuinya saat kita merasakannya.

Penasaran, apa saja isi tas peralatanmu?

Aku sebenarnya hanya punya dua jenis lensa yang kupakai. Kadang tiga. Lensa close-up, yang memberitahumu apa yang terjadi pada detail wajah; ketika kamu masuk sangat, sangat dekat kamu akan melihat jika seseorang gugup – ada sedikit ketegangan di bawah mata, wajahmu sangat ekspresif terhadap apa yang terjadi di dalam jiwamu. Saat aku mendekat, itu pengalaman yang sangat intim. Maksudku, aku pernah berada hanya satu setengah inci dari hidung Putin. Aku bisa merasakan napasnya di tanganku saat kufokuskan lensa itu. Begitulah aku mendapat kebenaran. Karena itu pengalaman yang intim, dia memercayaiku dan aku memercayainya pada momen itu. Lalu aku punya lensa yang lebih lebar yang menggambarkan sesuatu yang sangat berbeda, yaitu bahasa tubuh. Lupakan kata-kata. Kita mengekspresikan diri sepanjang waktu lewat ekspresi wajah dan gerak tubuh, jadi kadang kamu mungkin bergerak dengan cara yang menarik, cara kamu condong, cara kamu bersandar – semua yang kamu lakukan adalah deskripsi tentang bagaimana perasaanmu di dalam sebagai manusia. Aku melihat hal-hal itu; itulah bahasaku, itulah tata bahasaku, dan lensa lebar membantuku menggambarkanmu secara lebih fisik. Lensa close-up menukik benar-benar… ke dalam jiwamu, ke dalam rohmu.

Kalau bawaan harianmu, apa saja?

[Mengeluarkan iPhone] Aku punya ponsel yang kupakai sepanjang waktu. Kupakai untuk membuat catatan, bukan menulis catatan, melainkan catatan visual. Aku memotret hal-hal sepanjang waktu: tipografi cantik di dinding, atau sebuah bentuk, atau kombinasi warna yang sangat apik. Dulu aku selalu menggambar di buku kecil saat naik kereta bawah tanah, aku menggambar orang-orang yang tertidur dan gerak-gerik mereka. Aku jelas seorang murid dari kondisi manusia, dan aku masih terpesona olehnya. Aku tak bisa tidak melihat, misalnya, cara seorang nenek berjalan di jalan, bagaimana dia menenteng tas dan membagi beban tubuhnya. Hal-hal begitu kutangkap dan kutemukan sangat menarik—dan kadang sangat indah—melihat bagaimana seseorang bergerak. Di masa ketika kita semua tenggelam dalam distraksi teknologi, sangat penting mengambil jeda refleksi dan melihat dunia di sekitar kita. Perhatikan cara orang yang kamu cintai bergerak saat sedang, katakanlah, mencuci piring. Luangkan momen untuk mengaguminya, karena ketika mereka sudah tiada, kamu tak bisa lagi melakukannya—dan kamu dirampas dari momen itu karena terus teralihkan oleh pesan, email, dan media sosial. Kita semua melakukannya. Aku juga. Kita harus melawannya, membuka mata, membuka hati, dan mulai melihat betapa indahnya kita sebagai manusia.

Menurutmu, apa yang membuat seorang fotografer menonjol di era smartphone?

Menurutku, menjadi fotografer itu sebuah lencana kehormatan, karena seorang fotografer—seorang fotografer yang baik—sebenarnya adalah provokator budaya. Dan lewat karya, kita memantik perdebatan yang saling menghormati di masyarakat. Saat kita baik, yang kita lakukan adalah menyodorkan cermin ke masyarakat dan berkata, “Inilah siapa kita, dan kita perlu membicarakannya.” Itulah fotografer yang baik. Aku pikir kita jelas membutuhkan generasi baru fotografer. Dunia majalah tempat aku dibesarkan telah runtuh. Era itu selesai, dan yang benar-benar menarik kini adalah di era baru ini perantara nyaris tidak ada. Sekarang, semua orang punya kesempatan untuk berbicara dari hati, dan kita semua punya platform untuk menjangkau siapa pun. Di sisi minusnya, tentu, ada jutaan, miliaran orang kini memotret—lebih banyak daripada kapan pun dalam sejarah. Tapi bagaimana kamu menembus kebisingan? Itu sepenuhnya terserah kamu—dan kini, suaramulah yang menembus. Menurutku itu gagasan yang sangat demokratis. Aku menyukainya, dan memeluknya.

Nasihat apa yang akan kamu berikan kepada fotografer muda yang sedang mencari suara di dunia yang dipimpin algoritma?

Aku pikir algoritma adalah kutukan generasi kita, karena kemanusiaan tidak bekerja dengan algoritma. Yang membuat budaya benar-benar menarik adalah ketika seseorang autentik dan mengekspresikan apa yang benar-benar ada di hatinya. Pikirkan, Van Gogh tidak menjual satu lukisan pun semasa hidupnya; apakah itu berarti dia seniman yang buruk? Tidak. Saat itu mereka bilang begitu, tetapi sebenarnya dia begitu jauh di depan zamannya hingga butuh 40 tahun setelah kematiannya untuk menjual lukisan pertamanya. Jadi, kepada fotografer muda, pesanku: jadilah autentik, kamu dibutuhkan; kamu akan merasa kesepian dan ada masa-masa saat kamu tak mendapat validasi, tetapi yang paling penting adalah memiliki rasa hormat pada diri sendiri dan mampu menopang kecintaanmu pada ekspresi diri. Jika kamu bisa menopang diri tanpa bergantung pada validasi orang lain, maka kamu bebas dari belenggu penerimaan—dan di situ kamu menjadi kuat, karena kamu adalah dirimu sendiri. Aku pernah menghabiskan satu hari bersama Quincy Jones, di rumahnya, dan aku berkata kepadanya: “Quincy, ketika kamu masih muda, seorang pria kulit hitam muda di Amerika yang mencoba menembus industri kulit putih, pasti kamu menghadapi banyak rasisme dan oposisi. Apa yang biasa kamu katakan kepada orang-orang yang menghadangmu?” Wajahnya berubah, sebuah sorot yang kuat hadir di dalam dirinya, dan dia berkata: “Ini yang dulu kukatakan kepada para penentangku: ‘Tidak setetes pun harga diriku bergantung pada penerimaanmu terhadapku.’” Itulah yang kukatakan kepada generasi fotografer muda sekarang. Mandirilah, berdedikasilah—kamu harus mendedikasikan hidup untuk menjadi seorang perajin. Kamu harus mempelajari kerajinanmu dan tidak bergantung pada algoritma atau validasi [dari orang lain].

Terakhir… bagaimana pandanganmu tentang AI dan dampaknya pada kerajinanmu—kerajinan fotografi?

Saat ini, ada perlombaan raksasa untuk merebut taruhan terbesar dalam bisnis AI. Jadi, semua orang membangun. Ini seperti mobil balap yang didesain untuk melaju secepat mungkin mencapai garis akhir, tetapi mereka tidak benar-benar fokus pada sistem pengereman atau keselamatan mobil yang mereka bangun. Karena mereka tak mampu memikirkan untuk melambat sedetik pun—mereka bisa kalah balapan. Jadi ada dinamika yang aneh—dan menurutku cukup berbahaya—di mana kita lebih fokus memenangkan balapan bisnis AI ketimbang pagar pengaman bagi masyarakat. Aku pikir ada risiko budaya yang besar. Kita harus mengingat kembali apa arti huruf “A”. Itu “artificial” – dan, saat ini, ia masih sebatas novelty. Semua orang sangat bersemangat oleh gagasan bahwa sesuatu—entah gambar, film, atau potongan musik—tidak dibuat oleh manusia. Saat ini itu novelty, dan itulah yang membuat kita teralihkan. Tapi setelah beberapa saat, aku percaya, semuanya akan mencapai titik seimbang dan kita akan sadar, “Tunggu dulu, hal ini mungkin bisa mengesankan kita, tetapi apakah ia punya jiwa?” Komputer bisa punya kecerdasan, tapi tidak punya jiwa. Jiwa seseoranglah yang membuat sesuatu benar-benar indah—kerentanan, rasa, emosi. Kadang amarah, kadang sukacita. Semua sisi dari kondisi manusia—itulah yang membuat sesuatu sungguh indah. Bukan sekadar kecerdasan.

Baca Artikel Lengkap

Baca Berikutnya

Koleksi Terbaru Moncler di HBX Sudah Hadir
Fashion

Koleksi Terbaru Moncler di HBX Sudah Hadir

Belanja sekarang sebelum kehabisan.

Moncler Grenoble Menelusuri Akar Alpen Lewat ‘The Beyond Performance Exhibit’
Fashion

Moncler Grenoble Menelusuri Akar Alpen Lewat ‘The Beyond Performance Exhibit’

Pengalaman multisensorial di Portrait Milano ini membawa pengunjung dari ekspedisi K2 tahun 1954 hingga koleksi Aspen FW26.

Moncler dan Jil Sander Hadirkan Koleksi Terbaru Terinspirasi Keindahan Alam yang Eteris
Fashion

Moncler dan Jil Sander Hadirkan Koleksi Terbaru Terinspirasi Keindahan Alam yang Eteris

Perpaduan elegansi fungsional dan presisi sofistikat yang memberi penghormatan pada warisan pegunungan Moncler.


Samsung Gandeng Fotografer Fesyen Inggris Tom Craig untuk Kampanye Terbaru
Fashion

Samsung Gandeng Fotografer Fesyen Inggris Tom Craig untuk Kampanye Terbaru

Lewat “One Shot Challenge”, Samsung mengajak kamu memotret lebih sedikit dan lebih hadir di momen – lalu memanfaatkan kecanggihan AI di perangkat untuk merapikan ketidaksempurnaan pada foto, tentunya.

Mercedes-Benz Perkenalkan Vision Iconic: Mobil Konsep Retro-Futuristik
Otomotif

Mercedes-Benz Perkenalkan Vision Iconic: Mobil Konsep Retro-Futuristik

Mobil konsep yang terinspirasi dari gril radiator khas Mercedes-Benz.

Manchester City dan EA SPORTS FC™ Luncurkan Jersey Keempat Futuristis dengan Sentuhan Digital
Fashion

Manchester City dan EA SPORTS FC™ Luncurkan Jersey Keempat Futuristis dengan Sentuhan Digital

Desain baru yang berani, hasil kolaborasi dengan PUMA, dibekali teknologi NFC terintegrasi yang menghubungkan dunia fisik dan digital.

GEEKS RULE x Infinite Archives ungkap kolaborasi T-shirt terbaru 'Ghost in the Shell: Stand Alone Complex'
Fashion

GEEKS RULE x Infinite Archives ungkap kolaborasi T-shirt terbaru 'Ghost in the Shell: Stand Alone Complex'

Menampilkan ilustrasi Motoko, protagonis utama serial anime tersebut.

Fear of God Athletics FW25: Siap Turun ke Lapangan Basket, Makin Berkelas
Fashion

Fear of God Athletics FW25: Siap Turun ke Lapangan Basket, Makin Berkelas

Rilis akhir pekan ini.

LEGO® Icons Resmi Luncurkan Set Tropical Aquarium
Fashion

LEGO® Icons Resmi Luncurkan Set Tropical Aquarium

Utopia bawah laut, tanpa repot.

Aman Niseko Siap Menjadi Retret Pegunungan Paling Prestisius di Hokkaido
Travel

Aman Niseko Siap Menjadi Retret Pegunungan Paling Prestisius di Hokkaido

Nikmati ketenangan lereng salju di lokasi Aman terbaru di Jepang, Aman Niseko di Hokkaido.


Intip Pertama Nike Book 1 'Aurora'
Footwear

Intip Pertama Nike Book 1 'Aurora'

Rilis awal November.

LEGO DC ‘Batman’ Rayakan 20 Tahun dengan 4 Set Koleksi Terbaru
Fashion

LEGO DC ‘Batman’ Rayakan 20 Tahun dengan 4 Set Koleksi Terbaru

Menghormati logo ikonik Batman dan deretan Batmobile dari masa ke masa.

Back to the Future x Crocs: Classic Clog Kolaborasi Rayakan 40 Tahun
Footwear

Back to the Future x Crocs: Classic Clog Kolaborasi Rayakan 40 Tahun

Menampilkan momen ikonik saat perjalanan waktu terjadi.

Nike Zoom Vomero 5 Hadir dengan Tampilan Baru 'Seaweed'
Footwear

Nike Zoom Vomero 5 Hadir dengan Tampilan Baru 'Seaweed'

Dilengkapi midsole menguning untuk sentuhan vintage.

Labubu Resmi Punya Trading Cards Sendiri dari Topps
Gaming

Labubu Resmi Punya Trading Cards Sendiri dari Topps

Ikut meramaikan demam trading card.

Casio rayakan 40 tahun ‘Back to the Future’ dengan jam kalkulator CA-500WEBF
Jam Tangan

Casio rayakan 40 tahun ‘Back to the Future’ dengan jam kalkulator CA-500WEBF

Edisi terbatas CA-500WEBF merayakan film ikonik tersebut lewat detail halus yang mengacu pada sirkuit waktu DeLorean dan kapasitor fluks.

More ▾