The Panturas: It's All About Merch

Gabungin energi surf rock dengan sentuhan lokal.

Musik
18,003 Hypes

Band surf rock asal Jatinangor, The Panturas, udah nggak perlu diragukan lagi eksistensinya di dunia musik Indonesia. Dibentuk tahun 2015 saat masih berstatus mahasiswa, band tersebut berhasil ngerilis dua album, yaitu Mabuk Laut dan Ombak Banyu Asmara, serta beberapa single lainnya. 

Bernaung di bawah LaMunai Records, The Panturas beranggotakan Surya Fikri (Kuya) pada drum, Abyan Nabilio (Acin) pada gitar dan vokal, Rizal Taufik (Ijal) pada gitar, dan Bagus Patria (Gogon) pada bass. Aliran surf rock yang mereka adopsi berhasil membawa konsep ala pantai dan dunia laut ke segala hal dari band tersebut, mulai dari tema album dan single, aksi panggung, sampe ke nama fanbase mereka yaitu Anak Buah Kapal (ABK). 

Nggak cuman itu, konsep pantai dan dunia laut tersebut ternyata juga diaplikasikan ke dalam project merchandise-nya bernama Los Panturas Mart. Bisa dibilang The Panturas jadi salah satu band di Indonesia yang cukup serius buat mengurus produksi official merchandise-nya. Setiap artikel merchandise yang mereka rilis nggak sekedar nampilin grafis bertuliskan nama bandnya, tapi juga ngasih visual yang berkonsep ataupun jadi representasi album dan lagu mereka. 

Di sela-sela kesibukan tour awal tahunnya, Hypebeast Indonesia berkesempatan buat ngobrol bareng The Panturas mengenai sejarah dibentuknya Los Panturas Mart sampe peran merchandise buat band tersebut.

HB: Hai The Panturas, seberapa besar pengaruh surf rock terhadap visual yang kalian tampilkan, baik secara materi lagu, aksi panggung, nama fanbase dan crew, sampe ke merchandise?

The Panturas: Pengaruh surf rock cukup besar dalam pembentukan gaya visual The Panturas di awal-awal. Terutama busana di panggung dan artwork-artwork yang ditampilkan pada saat itu. Namun dalam perjalanannya, kami menemukan gaya visual yang lebih lokal dan kami merasa lebih sreg menggunakan itu. 

“Kalau dari sisi kami, bootleg itu tidak masalah asalkan desain kaos tersebut adalah kreasi sendiri dan untuk dipakai sendiri, kalaupun commercial, perlu ada obrolan sama band dulu, siapa tau malah bisa jadi kolaborasi.”

HB: Ceritain dong awal mula Los Panturas Mart terbentuk gimana sih?

The Panturas: Los Panturas Mart awalnya adalah wadah kami membuat merchandise. Karena space berjualan di panggung itu sangat sedikit dan waktunya terbatas, jadi kami buat langsung akun khusus merchandise kami di Instagram dengan nama Los Panturas Mart (LPM). Konsepnya simple sih, kami buat toko pernak-pernik khas The Panturas sebagai oleh-oleh ketika mereka datang ke gigs kami. Kemudian, Jika ada yang mau beli merchandise The Panturas, kami langsung kasih page Instagram LPM untuk mengecek langsung tanpa harus direct message akun band.

HB: Kenapa bisa seniat itu buat ngurus merchandise band, emangnya tujuan kalian apa?

The Panturas: Tujuan kami adalah bagaimana musisi bisa hidup dari musik (dan turunan karya lain) yang sudah kami buat. Titik balik kenapa Los Panturas Mart jadi seniat itu adalah ketika kami dihadang oleh pandemi di tahun 2020. Semua panggung ditutup, angka streaming tidak menjanjikan, dan semua serba susah. Yang masih bisa berjalan saat itu ya kegiatan di internet dan jual beli online. Nah, dari sini kami langsung kepikiran untuk membuat sistem merchandise yang proper sesuai dengan bagaimana sebuah brand clothing bekerja. Ada timeline, ada monthly article yang release, sistem SKU-nya dipikirin, sistem dividen untuk personil, dan lain-lain.

HB: Beberapa waktu yang lalu kalian rame ngebahas merchandise bootleg, seberapa penting emangnya merchandise buat kalian?

The Panturas: Penting banget. Sebenernya dari kejadian kemarin kita jadi banyak belajar sih soal bootleg-bootleg-an itu. Termasuk definisi bootleg itu sendiri. Kalau dari sisi kami, bootleg itu tidak masalah asalkan desain kaos tersebut adalah kreasi sendiri dan untuk dipakai sendiri, kalaupun commercial, perlu ada obrolan sama band dulu, siapa tau malah bisa jadi kolaborasi.

Dari kasus kemarin,sebenarnya kami gerah sama orang yang menjual barang fake. Cuma asal comot desain dan diproduksi dengan kualitas yang asal-asalan. Malah jadi menyayangkan dan kasian sama yang beli. Kayak coolness nya tuh kurang gitu. haha.

“Pas pandemi semua panggung ditutup, angka streaming nggak menjanjikan, dan semua serba susah. Yang masih bisa berjalan saat itu ya kegiatan di internet dan jual beli online.”

Mendengarkan musik di era sekarang itu udah semudah dan sebebas itu. Hampir gratis malah. Tidak perlu lagi aktivitas beli ke toko kaset, atau request ke radio radio untuk bisa mendengarkan lagu kami. Nah, dengan adanya perubahan culture itu, merchandise mungkin jadi salah satu pendapat yang dampaknya bisa dirasakan langsung oleh musisi. Dari support pembelian merchandise itu, bisa membantu si musisi tetap bertahan, berkarya untuk rilisan selanjutnya, dan rencana-rencana lainnya.

HB: Gimana proses kreatif buat setiap artikel merchandise yang kalian bikin?

The Panturas: Biasanya ada meeting bulanan untuk merencanakan apa saja yang akan kita buat untuk perilisan selanjutnya. Kemudian menggodok desain, produksi dan bolak-balik vendor, QC, kemudian release sesuai plan yang sudah dibicarakan. 

Untuk desain, Biasanya ada yang reguler dibikin oleh Kuya, ada yang bekerjasama dengan illustrator lain. Sebenarnya kami terbuka dengan siapa saja yang mau bikin (ada proses kurasi tentunya), malah kami senang kalau ada teman-teman yang menawarkan diri untuk membuat merchandise kami. Barangkali ada yang mau? hehe.

“Kalo memang kamu mau hidup dari musik ya ini bisa jadi salah satu jalan yang paling logis untuk dieksekusi. Kalau gak pede bikin ready stock, ya bikin pre-order dulu.”

HB: Kalau versinya The Panturas sendiri, kapan sih moment yang pas buat sebuah band bikin merchandise-nya sendiri? Apa parameternya?

The Panturas: Momen yang pas ya sekarang juga sih. Hehe. Kalo memang kamu mau hidup dari musik ya ini bisa jadi salah satu jalan yang paling logis untuk dieksekusi. Kalau gak pede bikin ready stock, ya bikin pre-order dulu, tawarin teman-teman terdekat yang sekiranya akan support. Tapi, jangan lupa support balik teman yang sudah support kamu ketika mereka bikin sesuatu.

HB: Last question, kasih bocoran sedikit dong ke depannya The Panturas dan Los Panturas Mart bakal ngapain?

The Panturas: Minggu depan kita bakal tur 5 kota dan merilis beberapa merchandise eksklusif khusus tur. Terus, kayaknya beberapa bulan ke depan kami bakal kolaborasi sama salah satu brand sepatu lokal. Moga lancar dan cakep ya hasilnya. hehe.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Los Panturas Mart (@lospanturasmart)

 

View this post on Instagram

 

A post shared by The Panturas (@thepanturas)

Baca Artikel Lengkap

Baca Berikutnya

Through The Lens: Luthfi Ali Qodri (Laok)
Seni

Through The Lens: Luthfi Ali Qodri (Laok)

Cerita soal kesulitan photostage pake kamera analog.

All Round Loafers: The Kenford Fineshoes Ngerilis “Black Scotch Grain Loafers”
Footwear

All Round Loafers: The Kenford Fineshoes Ngerilis “Black Scotch Grain Loafers”

Tersedia tanggal 8 Desember 2023.

IMANUEL Hadirkan Debut Collection Mereka, “The Beginning of The End”
Fashion

IMANUEL Hadirkan Debut Collection Mereka, “The Beginning of The End”

gabungin military elements, traditional menswear, dan sentuhan elegan.


Through The Lens: Zirlyanpaja
Seni

Through The Lens: Zirlyanpaja

Cek gimana style photography-nya yang contrast dan bold buat fashion editorial dan photostage.

Orbis Hadirkan Koleksi Spring/Summer 24
Fashion

Orbis Hadirkan Koleksi Spring/Summer 24

Collab bareng lima artist dan designer.

Sunburn Ngerilis Koleksi Terbaru Mereka “Island of Mystic”
Fashion

Sunburn Ngerilis Koleksi Terbaru Mereka “Island of Mystic”

Gabungin cerita rakyat dan budaya kontemporer.

Library of Dissonance Luncurkan Koleksi Terbaru “Throwaways”
Fashion

Library of Dissonance Luncurkan Koleksi Terbaru “Throwaways”

Jadi koleksi perdana mereka.

MORAL Kembali Tampil di Harbin Fashion Week 2024
Fashion

MORAL Kembali Tampil di Harbin Fashion Week 2024

Nampilin koleksi moto jacket sampe vest-dress.

Jovem Ngerilis Dua Koleksi Terbaru,  “Memo” dan “Jane”
Footwear

Jovem Ngerilis Dua Koleksi Terbaru, “Memo” dan “Jane”

Udah bisa dibeli sekarang juga.


Sekarang Saatnya untuk TUMI
Fashion

Sekarang Saatnya untuk TUMI

Presented by TUMI
Melangkah sebagai lifestyle brand dan membuka flagship store APAC pertamanya di Tokyo.

Noble: Combo Boxing, Design, dan Fashion
Olahraga

Noble: Combo Boxing, Design, dan Fashion

Founder Jye Taylor cerita soal visi sampe next movement Noble di tahun 2024.

Kongo's Graffiti Jam Hadirkan Art Masterpiece di The Apurva Kempinski Bali
Seni

Kongo's Graffiti Jam Hadirkan Art Masterpiece di The Apurva Kempinski Bali

Featuring Cyril Kongo, Darbotz, Hard 13, Tuyuloveme, Rostarr, Curly, Lady Venz, Daena Ladeesse, dan Kidney.

AGAINST Lab Ngerilis Koleksi Bareng atmos
Fashion

AGAINST Lab Ngerilis Koleksi Bareng atmos

Jadi bentuk perayaan Lunar New Year 2024.

Sun & Sand Sports Hadirkan Private Label Perdana Mereka, “All You”
Fashion

Sun & Sand Sports Hadirkan Private Label Perdana Mereka, “All You”

Udah bisa dibeli di offline store mereka.

More ▾