Earth Island, Tribute dari Tipi Jabrik dan Mathias Lauda untuk Bumi

Cek inspirasi dan proses kreatif keduanya dalam membangun brand di sini.

Fashion
13,617 Hypes

Indonesia, sebagai negara kepulauan, membuka peluang eksplorasi kreatif yang nggak semua negara dapat nikmati. Dari pariwisata yang nggak pernah ada habisnya hingga olahraga surfing yang sudah jadi gaya hidup bagi para peselancar, seperti Tipi Jabrik dan Mathias Lauda. Meskipun keduanya sudah lama terlibat dalam dunia surfing, mereka nggak hanya berhenti di situ. Tipi Jabrik dan Mathias berkolaborasi untuk menciptakan brand yang diberi nama Earth Island.

Earth Island dibuat dengan spirit surfing untuk mendorong industri lokal, dimulai dari Bali. Nggak pake lama, mereka meluncurkan berbagai pakaian yang sangat relevan dengan kebutuhan para peselancar. Di sisi lain, mereka juga mengakui bahwa Earth Island ada untuk mendukung berbagai entitas kreatif, baik dalam dunia surfing maupun industri lainnya.

Berangkat dari keseruan ide dan kreativitas yang melatarbelakangi Earth Island, Hypebeast Indonesia berbincang-bincang dengan Tipi Jabrik dan Mathias Lauda tentang awal mereka terlibat dalam dunia surfing, konsep yang menjadi key message Earth Island, serta movement lain yang mereka rencanakan bersama brand ini.


HB: Hi guys, apa arti surfing buat kalian pribadi? Apa earliest memory kalian tentang surfing?

Tipi Jabrik: Earliest memory tentang surfing yang pasti terjadi saat saya belum sekolah, kira-kira umur 5-6 tahun. Tahun 1982, saya tinggal di Double Six, dekat dengan Legian. Setiap hari, saya pergi ke pantai, main air pake boogie board, dan akhirnya mulai surfing. Alasan saya mulai surfing? Nah, saya kurang ingat pastinya, tapi mungkin saat itu ayah saya ngasih saya surfboard yang akhirnya bikin saya senang main air. Seiring berjalannya waktu, hal tersebut jadi kebiasaan, setiap kali pulang sekolah, saya langsung pergi ke pantai. Sampai saya SMA, everyday is just about surfing. Buat saya, ini lebih dari sekadar olahraga karena sudah jadi bagian dari gaya hidup saya selama bertahun-tahun dan jadi rutinitas sehari-hari.

Mathias Lauda: Saya pertama kali kenal surfing waktu di Barcelona. Hitungannya lumayan telat karena saya baru start pas umur 18 tahun. Apalagi saya harus punya SIM dulu sebelum bisa nyetir ke pantai. Beda banget sama di Bali yang bisa nyetir ke mana aja walaupun masih muda. Begitu saya mulai surfing, akhirnya saya jadi sering traveling. Terus pas umur 19 tahun, saya nekat pergi ke Bali. Nah, sejak saat itu saya jadu cinta banget sama surfing dan Bali.

HB: Salah satu tujuan Earth Island adalah untuk membawa feeling yang dirasakan para surfer saat di laut untuk semua orang. 

Tipi Jabrik: Yes. Konsep Earth Island sendiri bisa dibilang cukup sederhana. It has been a part of my lifestyle. Jadi, waktu saya masih muda, saya nggak terlepas dari board shorts, tapi di tahun 80-90an kan susah banget tuh buat dapetin barang-barang yang berhubungan sama surfing. Baru di akhir tahun 90-an, banyak brand-brand besar datang ke Bali, seperti Billabong, Ripcurl, dan banyak brand lainnya. Bisa dibilang mereka men-takeover lifestyle surfing di sini. Para surfer yang lagi ngembangin kariernya pasti dapat sponsor dari mereka, bikin kita semua sadar akan potensi besar sebagai surfer.

Lalu semakin ke sini, saya lihat kalau brand-brand tersebut banyak mengadaptasi identitas ataupun lifestyle yang sebenarnya kita lahirkan sendiri di sini. Itulah kenapa saya merasa butuh adanya local brand yang jadi representasi dari lifestyle surfing di Bali. Sebuah brand yang terus berupaya untuk bisa bersaing secara global. Lewat Earth Island, kami pengen ngeshare feeling yang dirasakan oleh para surfer saat di laut ke semua orang. Siapa tahu nantinya mereka bisa ikutan terjun untuk berselancar.

Mathias Lauda: Sensasi saat berada di laut adalah salah satu feeling terbaik. Kadang saya suka nervous pas lagi surfing dan barengan banyak orang, tapi nggak jarang malah kebawa makin kompetitif. Tapi di luar itu, surfing bikin saya merasa chill banget; bisa nikmatin laut dan ombak. Jadi campuran antara keduanya gitu.

HB: Apa worldview yang mau kalian share lewat Earth Island?

Tipi Jabrik: Sebenarnya simple aja. Surfing itu tentang traveling, tentang adventure. Contohnya, berbagai tempat di Indonesia tuh nyimpen banyak hal yang susah buat dilupain. Ke Mentawai misalnya, kalian harus naik kapal, naik pesawat, terus harus nyobain masakan lokal. Dan itu something yang nggak akan pernah bisa buat dilupain. Efeknya beneran menular. Kalian bakal terus keingetan dan pengen balik lagi ke tempat yang sama. Inilah yang diusung oleh Earth Island. Pengalaman kayak gini yang pengen kami share ke banyak orang. Kalian nggak bakal dapat pengalaman serupa dengan lifestyle lain. Main idea dari lifestyle surfing itu adalah tentang traveling ke berbagai tempat hingga ketemu orang-orang baru. Jadi, ini yang dijalankan oleh Earth Island. 

Mathias Lauda: Yang keren dari surfing adalah kita bisa ngelakuinnya di mana pun di seluruh dunia. Bahkan waktu saya balik ke Spanyol, di Ibiza, kadang bisa aja muncul ombak dan kami sudah seneng banget, meskipun nggak terlalu bagus juga ombaknya. Terus abis itu kita datang ke Bali dan jadi agak manja karena semuanya serba perfect, serta banyak pilihan tempat yang beragam. Tapi yang seru dari surfing itu adalah bisa traveling dan keliling dunia.

HB: Sustainability jadi salah satu message utama Earth Island lewat movement kalian buat ngasih impact positif ke industri lokal. Boleh share contohnya?

Tipi Jabrik: Menurut saya, Earth Island nggak bisa dibilang 100% sebagai sustainability brand, tapi kami pengen punya produk yang bener-bener dipikirin secara matang. Dari awal, kami nggak pengen berurusan dengan hal-hal yang berbau import. Kami pengen produksi sekecil mungkin. Yang penting produksi Earth Island nggak perlu jauh-jauh dari tempat kami tinggal, sekitar kurang dari 20 km aja. Jadi menurut saya, hal ini ikut mengurangi dampak negatif dari sisi produksi kami. Kami juga pengen melibatkan komunitas lokal sebanyak mungkin, dan sejauh ini kami terhitung berhasil melakukannya. Kami fokus buat produksi semuanya di sini, di Bali atau di Indonesia. 

Hal lain yang Earth Island lakuin adalah merilis koleksi perdana pakai pewarna alami. Kami bekerja sama dengan rumah produksi pewarna alami di sekitaran Bali. Mereka pake indigo, pake mangga, pake teh, dan lainnya. Kami nggak bisa cuma searching di Google soal hal yang mustahil buat didapetin di pulau ini. Kami pengen ngelakuin hal-hal yang lebih simple sebagai langkah kecil dalam memproduksi Earth Island. Menurut saya, hal-hal seperti ini yang punya value lebih impactful ke pulau Bali.

HB: Kolaborasi dengan natural dye house di Bali kedengarannya seru. Apa cerita di baliknya?

Tipi Jabrik: Kolaborasi ini muncul dari project collab pertama kami bareng Space Available dan Dan Mitchell yang sempat kerja sama lebih dulu bareng natural dye house, Tarum, di Bali. Buat kami, semuanya adalah tentang mencoba dan bereksperimen dengan hal-hal baru. Lewat kolaborasi dengan Tarum, kita dapet banyak warna menarik dan keren. Menurut saya, inilah tipe kerja sama yang kami cari.

Ke depannya, kami berencana untuk bekerja sama dengan lebih banyak natural dye house di Indonesia ke depannya. Kami tahu bahwa banyak produk batik menggunakan pewarna alami, dan kami ingin menciptakan produk yang terhubung dengan warisan budaya Indonesia, termasuk batik. Kami ingin menjelajah dan belajar lebih banyak. It’s all about learning.

HB: Apa hal yang bikin kalian kagum sama surfing?

Tipi Jabrik: Ini tough, tapi saya suka banget baca artikel atau berita tentang travel. Saya juga suka sama mobil-mobil tua, surfboard, dan seneng jalan-jalan ke berbagai tempat. Tapi yang paling asik itu pas baca majalah OldSurf, liat perjalanan orang-orang jaman dulu di tahun 70an atau 80an. Gimana mereka bisa sampe ke Uluwatu waktu itu nggak ada jalan ke sana, itu bener-bener keren banget.

Nggak kayak sekarang, di mana orang pada males-malesan dan lebih suka parkir motor langsung di depan spot surfing. Dulu beda banget. Jadi, baca artikel tentang masa lalu, kayak bagaimana orang-orang travel ke Cloud 9, ke Nias, ke Mentawai, itu buat saya maknanya paling nyata dari Earth Island.

Mathias Lauda: Waktu itu saya masih remaja dan sempat sewa film dari Blockbuster, judulnya “In God’s Hands.” Nah, setelah nonton film itu, saya langsung penasaran pengen tau tentang lokasi syutingnya. Eh, ternyata di Bali. Jadi, habis nonton, saya buru-buru beli tiket dan terbang ke Bali.

Saya juga suka banget baca Surfer magazine. Misalnya, gimana Kelly Slater selalu bikin saya ngerasa keren karena dia menang terus di kompetisi seluruh dunia. Saya emang jadi penggemar berat Kelly Slater, dan dari sanalah awalnya saya tertarik sama dunia surfing.

HB: Earth Island aktif dalam mendukung komunitas lokal. Apa aja movement yang sudah kalian lakukan? What’s next for Earth Island?

Tipi Jabrik: Selama ini, kami selalu berusaha membantu sebaik mungkin. Ada dua rider yang kami support. Pertama, Oney Anwar, surfer dari Lakey Peak, Sumbawa, yang punya impian jadi surfer profesional dan ikut world tour. Waktu dia belum punya sponsor, kami nawarin, “Eh, mau ikut semua kompetisi selancar di Indonesia?”. Dari situ, dia akhirnya masuk ke kompetisi Challenger. Yang kedua, ada Made Joi, surfer dari Legian yang baru lulus SMA. Kami support dia untuk mengejar mimpinya jadi pro surfer. Dia jalan-jalan ke berbagai tempat di Indonesia sampai Asia buat ikutan kompetisi.

Selain itu, kami juga mendukung komunitas selancar dengan menyediakan Rash Guard untuk beberapa klub lokal. Kami juga mendukung 18 klub dalam Liga Surfing Indonesia. Di luar surfing, kami juga ngasih dukungan ke dua tim sepakbola dari Pulau Rote, satu dari desa Oenggaut dan satu lagi dari desa Bo’a. Walaupun bentuk dukungan ini mungkin terlihat kecil, semoga bisa memberikan kontribusi positif ke komunitas sekitar.

Baca Artikel Lengkap

Baca Berikutnya

Earth Island Ngerilis Koleksi Terbaru Bernama, “Tirtha”
Fashion

Earth Island Ngerilis Koleksi Terbaru Bernama, “Tirtha”

Mengartikan lebih dalam peran air di kehidupan.

Sunburn Ngerilis Koleksi Terbaru Mereka “Island of Mystic”
Fashion

Sunburn Ngerilis Koleksi Terbaru Mereka “Island of Mystic”

Gabungin cerita rakyat dan budaya kontemporer.

Film “Women Frome Rote Island” Jadi Film Panjang Terbaik di Festival Film Indonesia 2023
Hiburan

Film “Women Frome Rote Island” Jadi Film Panjang Terbaik di Festival Film Indonesia 2023

Berhasil membawa pulang empat piala.


Wasted Collective Ngerilis “Earth Shoe 01” Sebagai Langkah Buat Kurangi Sampah Di Masa Depan
Footwear

Wasted Collective Ngerilis “Earth Shoe 01” Sebagai Langkah Buat Kurangi Sampah Di Masa Depan

Hadir dengan empat pilihan colorways.

"Slime You Out" Drake dan SZA Dapet No. 1 Billboard Hot 100
Musik

"Slime You Out" Drake dan SZA Dapet No. 1 Billboard Hot 100

Drake dan SZA raih puncak tangga lagu.

Stüssy dan Clarks Originals Luncurkan Kolaborasi Terbaru
Footwear

Stüssy dan Clarks Originals Luncurkan Kolaborasi Terbaru

keduanya ngetease Wallabee suede hitam.

JUNYA WATANABE MAN x New Balance 650 Akhirnya Dirilis
Fashion

JUNYA WATANABE MAN x New Balance 650 Akhirnya Dirilis

Udah di-reveal Januari kemarin.

“PORTER ALL”, Koleksi Full Customize dari PORTER
Fashion

“PORTER ALL”, Koleksi Full Customize dari PORTER

Dari removable pouch hingga bottle pouch.

Jamie Lee Curtis Pengen Jadi Dr. Kureha di Live-action ‘One Piece’
Hiburan

Jamie Lee Curtis Pengen Jadi Dr. Kureha di Live-action ‘One Piece’

Sekalian memperkenalkan Tony Tony Chopper.


Euforia Koleksi Paradise Youth Club “INTO THE LOOP” 
Fashion

Euforia Koleksi Paradise Youth Club “INTO THE LOOP” 

Udah dirilis sekarang juga.

Trailer Terbaru Season Kedua Anime ‘SPYxFAMILY’
Hiburan

Trailer Terbaru Season Kedua Anime ‘SPYxFAMILY’

7 Oktober 2023. 

First Look Stone Island x New Balance Made in UK 991v2
Footwear

First Look Stone Island x New Balance Made in UK 991v2

Kolaborasi terbaru mereka.

Jennie BLACKPINK Siapkan Project Solo Music
Musik

Jennie BLACKPINK Siapkan Project Solo Music

Jennie, Jisoo, dan Lisa nggak perpanjang kontrak bareng YG Entertainment.

First Look Nike Air Force 1 Low Premium "Oil Green"
Footwear

First Look Nike Air Force 1 Low Premium "Oil Green"

Akan hadir akhir tahun ini.

More ▾
 

Sepertinya Anda menggunakan ad-blocker

Iklan memungkinkan kami menawarkan konten kepada semua orang. Dukung kami dengan me-whitelist website ini.

Whitelist Kami

Cara untuk Me-Whitelist Kami

screenshot
  1. Klik ikon AdBlock pada area browser extension di pojok kanan atas.
  2. Di bagian bawah “Pause on this site” klik “Always
  3. Refresh atau klik tombol di bawah ini untuk melanjutkan.
screenshot
  1. Klik ikon AdBlock Plus pada area browser extension di pojok kanan atas.
  2. Block ads on – This website” switch ke off untuk mengubah tombol dari biru menjadi abu-abu.
  3. Refresh atau klik tombol di bawah ini untuk melanjutkan.
screenshot
  1. Klik ikon AdBlock Ultimate pada area browser extension di pojok kanan atas.
  2. Tekan switch off untuk mengubah “Enabled on this site” menjadi “Disabled on this site”.
  3. Refresh atau klik tombol di bawah ini untuk melanjutkan.
screenshot
  1. Klik ikon Ghostery pada area browser extension di pojok kanan atas.
  2. Klik tombol “Ad-Blocking” di bagian bawah. Tombol tersebut akan menjadi abu-abu dan teks di atasnya berubah dari “ON” ke “OFF”.
  3. Refresh atau klik tombol di bawah ini untuk melanjutkan.
screenshot
  1. Klik ikon UBlock Origin pada area browser extension di pojok kanan atas.
  2. Klik ikon warna biru besar di bagian atas.
  3. Ketika sudah berwarna abu-abu, klik ikon refresh yang muncul di sebelahnya atau klik tombol di bawah ini untuk melanjutkan.
screenshot
  1. Klik ikon ad-blocker extension yang sudah ter-install pada brower Anda.
  2. Ikuti petunjuknya untuk menonaktifkan ad blocker pada website yang Anda kunjungi
  3. Refresh halaman atau klik tombol di bawah ini untuk melanjutkan.