Vidi Nurhadi Ngobrol Soal Perjalanan Maternal Disaster dan Scene Musik Lokal

Dan spirit yang mereka bawa buat local community.

Fashion
76,245 Hypes

Sebagai label lifestyle and apparel, perjalanan Maternal Disaster selama hampir dua puluh tahun terakhir nggak bisa dipisahin dari keterlibatan mereka di scene musik independen/underground lokal, khususnya di Bandung. Secara organik mereka ngebangun relasi dengan band-band dari scene tersebut, mulai dari ngerilisin karya mereka di bawah label rekaman Disaster Records hingga bikin shows atau party.

Selain itu, Maternal juga jalan bareng dengan pelaku kreatif lokal lainnya kayak visual artist, fotografer, dan lainnya, dengan bikin exhibition dan ngepublish buku yang menghighlight artworks dan karya sang seniman. Semuanya dijalanin secara konsisten dengan spirit community-based yang kuat dan ngeroots.

Dengan aesthetic dan karakter tersendiri—menampilkan image dark dan bold ala metal dan hardcore punk—Maternal berkembang jadi salah satu brand yang punya market besar di Indonesia dengan flagship stores yang tersebar di 9 kota.

Kami ngobrol bareng co-founder Maternal, Vidi Nurhadi, buat ngomongin soal perjalanan mereka, pandangannya soal scene musik Bandung, dan spirit yang dibawa Maternal buat local community. Ia juga ngeshare approach-nya dalam ngejalanin brand selama ini, rilisan Disaster Records terfavorit, produk Maternal yang paling cute, dan lagu-lagu yang lagi sering didengerin akhir-akhir ini.


HB: Halo Vid, lagi sekarang lagi sibuk ngerjain project apa bareng Maternal?

Vidi (V): Halo, lagi ngerjain project regular aja, lagi beres-beresin, dan editing buat issue-issue catalog yang bakal rilis nanti. Lagi proses nyelesein beberapa kolaborasi yang akan datang juga.

HB: Maternal kan udah jalan hampir 20 tahun. Kepikiran bakal sampe selama ini nggak waktu awal bikin? Sebenernya, dulu apa yang menginspirasi lo bikin brand ini dan gimana visi awalnya?

V: Nggak kepikiran sama sekali, soalnya awalnya kita cuma ikut-ikutan aja. Karena saya suka nggambar dan sering nongkrong di distro yang waktu itu anak-anaknya pada juga suka ngedesain, sablon sendiri, dan pada intinya bikin produk sendiri, jadi saya pengen coba juga. Awalnya kita malah nggak ada tuh visi misi, niat berbisnis juga nggak ada.

HB: Maternal bisa dibilang adalah salah satu nama besar yang udah established di industri kreatif—nggak hanya di Bandung, tapi juga Indonesia sendiri—dengan identitas dan karakter yang kuat. Bagaimana kalian ngedevelop hal itu dan apa faktor penting dalam mempertahankannya?

V: Dibilang established mungkin belum ya, karena jujur ini kita masih banyak belajar juga dalam menjalankan Maternal dan ternyata, nggak sedikit juga gagalnya. Kalo faktor penting dalam mempertahankan identitas dan karakter yang kuat mungkin konsisten aja dengan karakternya, tapi tidak menutup diri untuk eksplorasi ke hal-hal yang di luar kebiasaan. Dan juga, kalo untuk kita sendiri, kita tidak berharap untuk memperluas pangsa pasar, kita ingin produk kita tetap segmented.

HB: Apa challenge terbesar dalam ngejalanin Maternal saat ini?

V: Kalo saya pribadi sih perihal membagi waktu antara keluarga, pribadi dan kerjaan. Kalo Maternal secara perusahaan, mungkin tantangannya lebih ke bagaimana membangun organisasi atau etos kerja yang ideal untuk semua orang di dalamnya.

HB: Perjalanan Maternal selama ini juga nggak bisa dipisahin dari keterlibatan kalian di scene musik independen/underground lokal, khususnya di Bandung. Gimana awalnya Maternal bisa jadi brand yang dekat dengan band-band dari scene musik tersebut?

V: Awalnya karena kita memang berasal dari komunitas itu sendiri. Walaupun nggak besar, tapi kami beberapa kali bikin aktivasi musik atau pameran seni rupa, jadi koneksinya sudah terjalin dari awal, baik antar komunitas atau secara personal.

“Sudah seharusnya semua industri yang berbasis pada komunitas ikut serta mengembangkan komunitasnya, mandiri membangun basis ekonomi sendiri dengan tidak bergantung pada pemilik modal atau investor yang hanya mementingkan keuntungan materi.”

HB: Menurutmu, seberapa penting peran scene musik lokal buat Maternal sendiri dan sebaliknya, peran Maternal buat scene musik dan community lokal?

V: Sangat penting. Prinsip kerjasama kan nggak boleh ada yang dirugikan dan memiliki tujuan yang disepakati bersama, makanya sudah seharusnya semua industri yang berbasis pada komunitas ikut serta mengembangkan komunitasnya, mandiri membangun basis ekonomi sendiri dengan tidak bergantung pada pemilik modal atau investor yang hanya mementingkan keuntungan materi.

HB: Apakah kedekatan Maternal dengan scene musik lokal akhirnya jadi trigger buat bikin Disaster Records? Kenapa kalian mutusin untuk bikin record label, at the first place?

V: Tidak ada rencana sebenarnya untuk bikin record label. Kebetulan, waktu itu setiap Maternal kolaborasi dengan band, kita selalu menyelipkan rilisan musik si band tersebut; ada kaset, CD, atau digital download code. Dari situ, jadi ada beberapa orang yang pengen rilisan musiknya saja, lalu beberapa band jadi mengirimkan demonya untuk dirilisin, karena menganggap kita juga memiliki record label. Terus ya udah, kita langsung bikin aja record label.

HB: Boleh tahu nggak, katalog rilisan kalian udah berapa banyak dan apa aja rilisan Disaster Records yang sejauh ini jadi top 3 personal favorites-mu?

V: Setau saya kalo diliat dari code catalog sih udah ada sekitar 115 rilisan. Personal favorite sih banyak, tapi kalo hanya boleh tiga mungkin reissue format piringan hitamnya Hark It’s A Crawling Tar-Tar buat album Dorr Darr Gelap Communique karena itu rilisan pertama dengan nama Disaster Records. Waktu itu split release dengan Grimloc. Lalu yang kedua ada Celestial Verses-nya SSSLOTHHH karena dari artwork sampai layout rilisan fisiknya, saya sendiri yang ngonsepin dan bikin. Terakhir ada AMETIS, Ritus Hancur. Kenapa? Alasannya sama dengan SSSLOTHHH.

“Banyak sekali band-band baru yang menurut saya keren. Menariknya, kebanyakan band Bandung dan sekitarnya tuh terlihat malas “berbisnis” di musik mereka, terkesan ogah-ogahan berstrategi di era digital/social media, jadi ketika ada pertanyaan “Ada apa dengan musik Bandung?”, ya bukan band-bandnya yang nggak ada, tapi karena kurang terekspos aja di social media, dan menurut saya nggak ada yang salah dengan itu.”

HB: Menurut kamu, apa yang menarik dari scene musik lokal Bandung saat ini? Gimana kamu melihat perkembangannya?

V: Sama menariknya seperti saat-saat sebelumnya. Banyak sekali band-band baru yang menurut saya keren. Menariknya, kebanyakan band Bandung dan sekitarnya tuh terlihat malas “berbisnis” di musik mereka, terkesan ogah-ogahan berstrategi di era digital/social media, jadi ketika ada pertanyaan “Ada apa dengan musik Bandung?”, ya bukan band-bandnya yang nggak ada, tapi karena kurang terekspos aja di social media, dan menurut saya nggak ada yang salah dengan itu. Selain itu, dan ini juga mungkin sama dengan kota-kota lain, adalah perihal kurangnya ruang untuk berkomunitas dan berekspresi.

HB: Selain expand ke ranah musik (bikin record label dan shows), kalian juga melebarkan sayap jadi publisher di bawah nama Consumed. Share dong gimana ceritanya kalian bikin publishing house sendiri?

V: Consumed itu dibuat tahun 2010. Awalnya itu sebuah kolektif anak-anak yang bikin “Party Dark”. Karena udah nggak aktif lagi, namanya saya pake untuk project pribadi saya sebagai buruh desain, terus walaupun sudah jauh sebelumnya saya pengen bikin majalah cetak, baru tahun 2013 Consumed diputusin untuk menjadi sebuah majalah cetak bulanan. Sayangnya, karena saat itu ternyata banyak keterbatasan, project itu nggak jadi-jadi. Akhirnya, dalam prosesnya, kita selingi aja dengan merilis buku-buku desain, graphics, artwork, dan lain-lain.

HB: Balik tadi ke cerita kamu di awal yang katanya lagi nyelesein project kolaborasi, Maternal sejauh ini juga dikenal bikin banyak kolaborasi dengan berbagai macam entitas. Boleh tau nggak, gimana prinsipmu dalam berkolaborasi?

V: Asalkan secara estetika sama-sama cocok, proses kerja juga sama-sama cocok, dan prinsip kerjasamanya nggak boleh ada yang dirugikan, serta memiliki tujuan yang disepakati bersama.

HB: Bisa diceritain soal solidarity project “Family Values” beberapa waktu lalu yang melibatkan kalian dan brand-brand Bandung lainnya?

V: Awalnya itu ide si Brez (Berak, Neats) yang pengen bikin sebuah kegiatan bareng. Kita sepakat membuat produk yang hasil keuntungannya diberikan ke “Solidaritas Sosial Bandung”. Mudah-mudahan sih kedepannya bisa terus bikin program-program lain yang sejenis.

HB: Maternal juga udah banyak bikin produk-produk “uncommon“, nyeleneh, dan bisa dibilang iseng, mulai dari seragam sekolah, bola basket, pentil motor, amplifier, tempat plat nomor, headphone bluetooth, sampai underwear dan pernak pernik homewares. Gimana tuh awalnya kepikiran buat bikin barang-barang tersebut? Lalu item nggak biasa apa yang paling banyak peminatnya?

V: Yang dilakukan Maternal—bikin produk-produk di luar apparel—sebenernya sudah jauh dilakukan oleh brand-brand sebelum kita kayak 347, Badger atau Ouval, jadi kita hanya mengadaptasi dan mengembangkan apa yang pernah dibuat oleh para pendahulu kita. Kalo yang banyak peminatnya ya headphone dan tempat plat nomor.

“Hal paling cute yang pernah kita bikin mungkin ular tangga atau puzzle board.”

HB: Ada produk “aneh” yang pengen kamu bikin tapi belum kesampaian nggak?

V: Nggak ada sih kayaknya. Kita juga nggak terlalu fokus ke produk-produk selain pakaian, itu mah hanya sebagai aksesoris aja.

HB: Dengan image Maternal yang kental dengan extreme music dan artwork yang cenderung dark, apa hal paling cute yang pernah kalian bikin?

V: Hal paling cute yang pernah kita bikin mungkin ular tangga atau puzzle board.

HB: Oiya, akhir-akhir ini lagi sering dengerin lagu apa aja, Vid? Bisa share lagu atau playlistnya nggak?

V: Random banget sih ni isi playlist-nya, cuma emang saya dengerinnya nggak via Spotify atau streaming platform, jadi ini saya kasih tracks-nya aja:

Andrew WK – “She Is Beautiful”
Dropdead – “Warfare State”
Gulch – “Sin in My Heart”
Warthog – “Culture”
Loathe – “Is It Really You?”
Citizen – “Jet”
Death Bells – “Heavenly Bodies”
High Vis – “The Bastard Inside”
The Brandals – “Kafir”
Somerset Thrower – “Too Rich to Die”
The Jansen – “Mereguk Anti Depresan Lagi”
Ghost – “Call Me Little Sunshine”
The Chisel – “Unlawful Execution”

HB: Apa yang pengen dicapai oleh Maternal dalam beberapa tahun ke depan? Merambah market internasional mungkin?

V: Tidak ada rencana merambah ke market internasional. Saya pribadi memang tidak pernah punya cita-cita atau pencapaian yang jauh ke depan, karena hidup itu kumpulan dari berbagai macam kemungkinan, jadi jalanin aja yang sekarang lagi dijalanin, senyaman mungkin, semampunya.

Baca Artikel Lengkap

Baca Berikutnya

Ali Bicara Soal Roots Musik, Artistic Approach, dan Inspirasi Mereka
Musik

Ali Bicara Soal Roots Musik, Artistic Approach, dan Inspirasi Mereka

Arswandaru dan John Paul Patton juga ngobrolin music video terbaru dan pandangannya soal what makes a good gig.

Vincentius Aditya Ngobrol Soal Internet Culture, Childhood Memories, dan Design Process
Fashion Jam Tangan

Vincentius Aditya Ngobrol Soal Internet Culture, Childhood Memories, dan Design Process

Founder Paradise Youth Club juga ngasih insight di balik collab G-Shock DW-900.

Dougy Mandagi Ngobrol soal Solo Project-nya, BLOODMOON, dan Transisinya ke Electronic Music
Musik

Dougy Mandagi Ngobrol soal Solo Project-nya, BLOODMOON, dan Transisinya ke Electronic Music

Serta gimana creative approach-nya sekarang dan hal apa aja yang nge-shape dirinya sebagai musisi sampai saat ini.


Nelusurin Sejarah dan Perkembangan Scene Melodic Punk Bandung lewat Buku 'Don't Read This!'
Musik

Nelusurin Sejarah dan Perkembangan Scene Melodic Punk Bandung lewat Buku 'Don't Read This!'

Berisi cerita dan insight menarik soal musik underground lokal yang punya pengaruh besar di eranya.

Mangaka HUNTER X HUNTER Bikin Akun Twitter dan Langsung Diserbu Satu Juta Followers
Hiburan

Mangaka HUNTER X HUNTER Bikin Akun Twitter dan Langsung Diserbu Satu Juta Followers

Buat ngasih update chapter terbaru.

NOAH x Vault By Vans Slip-On Collection
Footwear

NOAH x Vault By Vans Slip-On Collection

Menghadirkan tiga siluet washed suede.

PUBG Mobile Indonesia Rilis Kolaborasi Unik dengan Gojek
Gaming

PUBG Mobile Indonesia Rilis Kolaborasi Unik dengan Gojek

Turun ke Pochinki dengan kearifan lokal.

adidas Rilis Match Ball untuk Final Champions League 2022
Olahraga

adidas Rilis Match Ball untuk Final Champions League 2022

Akan dilelang setelah match dan profitnya bakal disumbangkan ke UNHCR.

Cek First Look dari thisisneverthat x New Balance 1906R Berikut Ini
Footwear

Cek First Look dari thisisneverthat x New Balance 1906R Berikut Ini

Didesain dengan vintage aesthetics yang appealing.


Instagram Merombak Logo dan Bikin Font Baru
Tech

Instagram Merombak Logo dan Bikin Font Baru

“Visual refresh”.

Rich Brian dan NIKI Jadi Headliners di 'Head In The Clouds Festival 2022'
Musik

Rich Brian dan NIKI Jadi Headliners di 'Head In The Clouds Festival 2022'

Cek siapa aja yang manggung di festival bikinan 88rising itu di sini.

Coca-Cola Siap Luncurkan Botol Eco-Friendly
Kuliner

Coca-Cola Siap Luncurkan Botol Eco-Friendly

Bakal tersedia di Indonesia juga nggak ya?

Son Heung-min Cetak Sejarah Jadi Top Scorer Liga Inggris Pertama dari Asia
Olahraga

Son Heung-min Cetak Sejarah Jadi Top Scorer Liga Inggris Pertama dari Asia

Semuanya dicetak lewat open play, nggak pake penalti.

Siap-Siap! Westlife Bakal Gelar Konser "The Wild Dreams Tour" di Indonesia
Musik

Siap-Siap! Westlife Bakal Gelar Konser "The Wild Dreams Tour" di Indonesia

Akan digelar pada 11 Februari 2023 nanti.

More ▾
 

Sepertinya Anda menggunakan ad-blocker

Iklan memungkinkan kami menawarkan konten kepada semua orang. Dukung kami dengan me-whitelist website ini.

Whitelist Kami

Cara untuk Me-Whitelist Kami

screenshot
  1. Klik ikon AdBlock pada area browser extension di pojok kanan atas.
  2. Di bagian bawah “Pause on this site” klik “Always
  3. Refresh atau klik tombol di bawah ini untuk melanjutkan.
screenshot
  1. Klik ikon AdBlock Plus pada area browser extension di pojok kanan atas.
  2. Block ads on – This website” switch ke off untuk mengubah tombol dari biru menjadi abu-abu.
  3. Refresh atau klik tombol di bawah ini untuk melanjutkan.
screenshot
  1. Klik ikon AdBlock Ultimate pada area browser extension di pojok kanan atas.
  2. Tekan switch off untuk mengubah “Enabled on this site” menjadi “Disabled on this site”.
  3. Refresh atau klik tombol di bawah ini untuk melanjutkan.
screenshot
  1. Klik ikon Ghostery pada area browser extension di pojok kanan atas.
  2. Klik tombol “Ad-Blocking” di bagian bawah. Tombol tersebut akan menjadi abu-abu dan teks di atasnya berubah dari “ON” ke “OFF”.
  3. Refresh atau klik tombol di bawah ini untuk melanjutkan.
screenshot
  1. Klik ikon UBlock Origin pada area browser extension di pojok kanan atas.
  2. Klik ikon warna biru besar di bagian atas.
  3. Ketika sudah berwarna abu-abu, klik ikon refresh yang muncul di sebelahnya atau klik tombol di bawah ini untuk melanjutkan.
screenshot
  1. Klik ikon ad-blocker extension yang sudah ter-install pada brower Anda.
  2. Ikuti petunjuknya untuk menonaktifkan ad blocker pada website yang Anda kunjungi
  3. Refresh halaman atau klik tombol di bawah ini untuk melanjutkan.