Everything In Between Journal: Cycling from the Netherlands to Indonesia

Photobook perjalanan Diego dan Marlies melewati 23 negara untuk sesama. Simak obrolan singkat kami di sini.

Travel

‘Everything In Between Journal’ adalah sebuah charity project yang diinisiasi Diego Yanuar dan Marlies Fennema yang menampilkan cerita, pengalaman, dan visual menakjubkan dari perjalanan mereka dari Belanda ke Indonesia yang ditempuh selama kurang lebih 11 bulan menggunakan sepeda.

Lewat project ini, Diego dan Marlies sukses mengumpulkan donasi sebesar 15,000 euro atau sekitar 240 juta rupiah untuk disumbangkan ke beberapa organisasi non-profit seperti Lestari Sayang Anak, Jakarta Animal Aid Network, dan Kebun Kumara.

Cerita mengenai perjalanan mereka ini berhasil menginspirasi banyak orang hingga akhirnya dituangkan ke berbagai medium kreatif seperti lagu, pameran, buku, dan yang paling baru, ‘Everything In Between Journal: Cycling from the Netherlands to Indonesia’, sebuah photobook yang menampilkan koleksi foto lengkap dari perjalanan Diego dan Marlies melewati 23 negara dengan jarak tempuh 12,000 km.

Dalam merealisasikan buku ini, Diego dan Marlies berkolaborasi dengan tim kreatif dari Magnoesian Studio yang dikepalai oleh Baharudin dan juga Mayang sebagai tim produksi dan kreatif. Simak perbincangan singkat kami dengan Diego dan Bahar mengenai proses pengerjaan program project ‘Everything In Between Journal’ di bawah ini.


HB: Boleh ceritain gimana awalnya project photobook ini bisa terjadi?

Diego (D): Alasannya sesederhana kami belum pernah sama sekali mencetak foto dari perjalanan 2,5 tahun lalu. Jadi, kadang kalo lagi kangen, kami harus buka laptop dan nyari harddisk dulu untuk liat-liat fotonya. Kebetulan di masa pandemi ini kami punya waktu luang, lalu kepikiran untuk mencetak photobook yang awalnya hanya untuk pribadi. Tapi, kami menerima beberapa tanggapan dari beberapa orang yang mengikuti perjalanan kami bahwa mereka tertarik untuk punya kalo suatu hari kami merilis photobook.

Bahar (B): Di setiap perjalanan yang mereka lakukan, mereka akan selalu menangkap memori-memori yang ingin mereka kenang atau mereka ceritakan nantinya. Sama seperti buku sebelumnya, ini bagian dari rilis memori perjalanan ke media lain untuk diceritakan.

HB: Secara umum, apa saja yang ngebedain photobook ini dengan buku ‘Everything In Between’?

D: Buku Everything In Between berisi kumpulan blog yang Marlies tulis selama perjalanan. Bisa dibilang, tulisannya berperan penting dalam buku itu karena Marlies menuangkan perasaan yang terjadi di waktu dan tempat ia menulis. Photobook ini adalah pengingat kepada hal yang mungkin terlalu panjang atau pendek untuk ditulis.

B: Akan beda, karna jelas buku sebelumnya penuh dengan kata-kata yang ingin mereka sampaikan, dan photobook ini penuh dengan visual yang mereka lihat dan yang mereka ingin kita juga lihat.

HB: Secara pribadi, apa aja foto paling favorit yang ada di photobook ini?

D: Semua! :D beneran. Itu juga alasan kenapa kami belum pernah mencetak satupun foto untuk dikenang atau dipajang, karena kami suka semua ribuan foto kami. Haha. Makanya kami mengajak teman kami, Mayang, untuk kerjasama, sebagai kurator sekaligus desainer untuk buku ini. Walaupun kadang kami banyak maunya, minta foto ini itu untuk dipilih, seenggaknya kami punya guideline berkat Mayang.

B: Buat gue, susah untuk memilih mana foto paling favorit, karna setiap foto punya momen tersendiri buat mereka dan sebuah visual baru bagi kita yang melihat.

HB: Apakah akan ada rilisan edition dari foto-foto ini nantinya?

D: Sampai sekarang belum ada rencana.

B: Sejauh ini sih belum ada, tapi siapa tau?

HB: Visual adalah medium yang sangat versatile buat bisa dieksplor ke medium lain, apakah ada rencana untuk merilis lineup apparel, wearables, atau aksesoris dari ‘Everything In Between’?

D: Gua sih mau banget pake baju atau apapun itu dari project sendiri. Sempet banget kepikiran. Tapi Marlies pernah bilang bahwa dalam perjalanan Everything In Between, kami membawa pesan tentang kesadaran terhadap lingkungan dan juga diri sendiri. Konsep merchandise nggak sejalan dengan pesan kami itu. Dan kayanya, orang-orang yang mengikuti perjalanan kami sudah punya cukup baju, topi, tas dan lain-lainya.

Maka dari itu, photobook ini juga akan diproduksi sekali ini saja dan sesuai jumlah order.

B: ‘Everything In Between’ adalah sebuah pergerakan dua orang diego dan marlies, bukan sebuah komunitas atau brand yang kemungkinan bikin merchandise dari visual yang mereka ciptakan. Menanggapi photobook ini, Diego bilang sama gue “foto-foto ini jadi buku aja, gue udah seneng”. Yap, ini adalah bagian dari perjalanan mereka, bukan cuma menyoal merealisasikan visual.

HB: Ada tantangan nggak dari segi produksi dan distribusi di tengah pandemi ini?

D: Jadi, setelah hampir satu tahun ngerjain project ini sama Mayang (iya, ngerjainnya hampir satu tahun karena dari awal netapin bahwa ini sebagai weekend project, kalo ada waktu aja. Kadang hanya 1 atau 2 weekend perbulan, haha) kami sama sekali nggak tahu mau diapain bukunya. Akhirnya mutusin untuk cetak sendiri, tapi nggak ngerti juga tentang percetakan, kertas dan tinta. Makanya kami mengajak satu lagi teman kami, Bahar, yang paham dengan dunia percetakan dan pendistribusian.

Kami sebenarnya bisa dibilang belum lama kenal (kecuali gua dan Marlies, ya). Tapi untuk gua pribadi, walaupun ada perbedaan jarak dan waktu, itu bukan hambatan besar untuk menyelesaikan project ini. Karena, satu, kami punya keahlian masing-masing yang gua rasain kami semua ikhlas ngejalaninnya. Kedua, kami belum pernah buat photobook sebelumnya, jadi ya, seru sendiri sekalian belajar. Ketiga, gua dan Marlies percaya sama Mayang dan Bahar. Terlepas udah lama atau baru kenalnya gua sama mereka, tapi rasa percaya dan yakin itu ada.

B: Tantangan adalah hal yang menjadi salah satu aspek sebuah perjalanan. Sama dengan merealisasikan buku ini, kami semua Diego – Marlies, Mayang dan gue, semuanya terpisah jarak, Arnhem – Jakarta – Malang, jelas sangat menantang untuk sebuah rilisan fisik yang membutuhkan peran masing-masing dari kami untuk bisa melihat langsung hasil cetaknya secara fisik. Tapi karena ada hambatan berupa jarak, cuma salah satu dari kami yang dipercaya untuk mewakili.

Photobook ‘Everything In Between Journal: Cycling from the Netherlands to Indonesia’ siap dirilis sekitar bulan September ini. Follow Instagram Everything in Between dan Magnoesian Studio buat dapetin update selanjutnya.

Baca Artikel Lengkap

Baca Berikutnya

Cakravala Hadirkan Pameran Virtual “In-Between”
Seni

Cakravala Hadirkan Pameran Virtual “In-Between”

Menampilkan karya 13 emerging artist dengan tema “storytelling.”

'The Banda Journal' Menang "PhotoBook of the Year" di PhotoBook Awards 2021
Desain

'The Banda Journal' Menang "PhotoBook of the Year" di PhotoBook Awards 2021

Simak alasan kenapa buku karya fotografer dan penulis Indonesia ini bisa meraih penghargaan itu.

Melaju Kencang dengan Vitesse “The Speed Demon”, Koleksi Cycling Apparel dari Comme Studios
Fashion

Melaju Kencang dengan Vitesse “The Speed Demon”, Koleksi Cycling Apparel dari Comme Studios

“Release the speed demon in you.”


'The Fidele' Bikin Tribute Buat Alam Kalimantan Lewat ‘New Sounds in Forest’
Fashion

'The Fidele' Bikin Tribute Buat Alam Kalimantan Lewat ‘New Sounds in Forest’

Chapter pertama dari campaign ‘Journey in Borneo’ yang menampilkan wearable articles dan musik bareng ‘Borneo Navy’.

Leani-Khalimah Ukir Sejarah Lewat Medali Emas Pertama Paralympic Badminton
Olahraga

Leani-Khalimah Ukir Sejarah Lewat Medali Emas Pertama Paralympic Badminton

Terakhir kali Indonesia dapat emas Paralympic adalah 40 tahun lalu.

ABBA Kembali Rilis Album Setelah 40 Tahun
Musik

ABBA Kembali Rilis Album Setelah 40 Tahun

“I Still Have Faith In You” dan “Don’t Shut Me Down” jadi dua single pertama yang dirilis terlebih dahulu.

Pakaian Dalam Bekas Michael Jordan Dilelang
Olahraga

Pakaian Dalam Bekas Michael Jordan Dilelang

Dari koleksi pribadi bodyguardnya.

Rich Brian & NIKI Tergabung dalam Daftar Musisi Asia yang Mengisi Soundtrack ‘Sang-Chi and The Legend of The Ten Rings’
Musik

Rich Brian & NIKI Tergabung dalam Daftar Musisi Asia yang Mengisi Soundtrack ‘Sang-Chi and The Legend of The Ten Rings’

Turut menampilkan Anderson .Paak, Jhené Aiko, Zion.T, DPR Live, dan lainnya.

Musik dan Olahraga Bersatu dalam Jersey CIRCA dari Friday League x Pesona Experience
Fashion

Musik dan Olahraga Bersatu dalam Jersey CIRCA dari Friday League x Pesona Experience

Hadir dalam versi home dan away.


Kolaborasi Terbaru Levi’s dan New Balance: 990v3 dengan Detail Denim
Footwear

Kolaborasi Terbaru Levi’s dan New Balance: 990v3 dengan Detail Denim

Tersedia dalam dua colorway, “Indigo” dan “Grey”.

DIEHARDADIDASFAN Adakan Pameran Koleksi adidas dari Tahun 60an
Footwear

DIEHARDADIDASFAN Adakan Pameran Koleksi adidas dari Tahun 60an

Star Wars, Vespa, BAPE, sampai artikel ice hockey skate shoe dan sneaker adidas Java yang super rare.

Based Club Angkat Pentingnya Self-Acceptance lewat Koleksi “SAINTS SCENERY”
Fashion

Based Club Angkat Pentingnya Self-Acceptance lewat Koleksi “SAINTS SCENERY”

Menghadirkan lineup ekspansif yang terdiri dari apparel dan aksesoris.

Desa Potato Head Undang Local Talents untuk Weekly Takeover di Sunset Park
Travel

Desa Potato Head Undang Local Talents untuk Weekly Takeover di Sunset Park

Sambil menikmati pemandangan sunset dari rooftop Potato Head Studios.

Film YUNI Segera Tayang di Toronto International Film Festival 2021
Hiburan

Film YUNI Segera Tayang di Toronto International Film Festival 2021

Sutradara Kamila Andini mengangkat isu pernikahan remaja dalam film yang diperankan Arawinda Kirana ini.

More ▾
 

Adblock Detected.

We charge advertisers instead of our readers. If you enjoy our content, please add us to your adblocker's whitelist. We'd really appreciated it.